Ini penyebab turunnya produksi lada Bangka Belitung

Jumat, 5 Oktober 2018 18:25 Reporter : Idris Rusadi Putra
Ini penyebab turunnya produksi lada Bangka Belitung Ilustrasi merica putih. © Bawarchi

Merdeka.com - Bangka Belitung selama ini dikenal sebagai daerah penghasil lada putih yang terkenal dengan label Muntok White Pepper. Perkebunan lada tidak hanya ditemukan di Muntok, kota utama Pulau Bangka di masa lalu, tetapi tersebar di Pulau Bangka dan Belitung. Namun demikian, tanaman lada di Bangka Belitung yang potensial, terjadi penurunan dalam produksi.

Gubernur Bangka Belitung, Erzaldi Rosman membawa persoalan penurunan produksi lada dalam Sidang Tahunan ke-46 dan Rapat Komunitas Lada Indonesia di Putrajaya Malaysia, 2 – 4 Oktober 2018 lalu. Erzaldi Rosman hadir bersama AILI dan para eksportir lada.

Erzaldi Rosman memanfaatkan forum tersebut untuk memperjuangkan perkembangan lada di Bangka Belitung. Baik dari aspek pasar atau pun teknis budidaya. Sehingga pertanian lada Bangka Belitung makin maju ke depannya.

Dalam forum tersebut, Erzaldi Rosman mengatakan bahwa ada sejumlah kondisi yang menyebabkan penurunan produksi lada Babel. Antara lain penyakit tanaman merica, biaya produksi yang kian tinggi, bibit yang mahal, dan perubahan iklim global. Kondisi tersebut telah mempengaruhi produksi lada putih dan harga yang terus menurun sehingga telah ikut pula menurunkan semangat para petani lada.

"Pada beberapa kesempatan, saya selalu mengunjungi beberapa desa di Bangka Belitung dan mendapatkan fakta petani telah meninggalkan perkebunan lada putih. Kondisi ini membuat kami khawatir terhadap produksi lada putih. Produksi lada putih di Bangka Belitung pada tahun 2018 mencapai 12.000 ton. Pada tahun 2019 ini mungkin berkurang berdasarkan kunjungan dan pengamatan pihak kami," tutur Erzaldi.

Erzaldi juga menyampaikan penyesalannya terhadap data yang dikeluarkan oleh International Pepper Community (IPC) sangat berbeda di lapangan mengingat data IPC produksi lada Indonesia baik lada putih dan lada hitam jauh lebih tinggi yakni 75.000 ton di tahun 2018.

"Ini jauh dari data di lapangan yang diperkirakan hanya 50.000 ton lada hitam dan lada putih. Kesalahan data ini bisa mempengaruhi harga di level petani," sesal Erzaldi.

Untuk itu kata Erzaldi, Pemprov Babel akan lebih memperhatikan perkebunan dan petani. "Kami juga memberikan pelatihan tentang pertanian lada, termasuk mendistribusikan bibit lada. Kami berkolaborasi dengan beberapa universitas dan sektor swasta dalam mengendalikan penyakit tanaman lada."

Dengan adanya forum ini, masyarakat Bangka Belitung berharap dapat memperbaiki kondisi yang ada sehingga bisa meningkatkan harga lada dan kesejahteraan petani. Untuk itu diharapkan pula IPC berperan aktif untuk mengkolaborasikan kepentingan buyer, eksportir dan terlebih para petani. [idr]

Baca juga:
Kementan diminta tinjau langsung kondisi paceklik di berbagai daerah
Sejak 2014 hingga 2017, program pengentasan impor Kementan dinilai BPK tak efektif
Produksi padi turun hampir 40 persen akibat kemarau panjang
Petani semakin sejahtera sepanjang September 2018, ini sebabnya
Ini cara Rachmat Gobel ubah lahan kutukan jadi lumbung pertanian di Gorontalo

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pertanian
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini