Ini cara ESDM turunkan harga gas industri seperti permintaan Jokowi
Merdeka.com - Pemerintah Jokowi-JK terus berusaha menurunkan harga gas industri di dalam negeri yang saat ini mencapai USD 12 per MMbtu. Salah satu caranya dengan mengefisienkan pengeluaran di industri hulu migas sebagai pengganti biaya operasi (cost recovery) dan belanja operasional (operational expenditure).
"Yang tadi masa umur operasi 5 tahun dijadikan 15 sampai 20 tahun kan bisa harga lebih murah," ujar Direktur Jendral Migas Kementerian ESDM, IGN Wiratmaja di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jakarta, Senin (10/10).
Cara lain adalah dengan menghilangkan rantai penjualan yang panjang melalui trader-trader.
Menurut Wirat, impor gas dari luar negeri tidak akan membuat harga gas industri lebih murah. Sebab, harga gas alam cair (liquified natural gas/LNG) berlaku internasional.
"Bilang beli dari Qatar, harganya sedikit lebih murah, plus ongkos transportasi di sini ujung-ujung tidak jauh beda. Apalagi di AS hanya USD 2,5 MMbtu terus ongkos dijadikan LNG berapa? Jadi tidak membantu banyak," tutup Wirat.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta harga gas untuk industri dapat turun menjadi USD 6 per MMBtu guna meningkatkan daya saing industri di Indonesia. Harga tersebut dinilai paling pas di Indonesia yang notabene sepadan dengan negara-negara tetangga.
Namun, rupanya Presiden Jokowi tidak mendapatkan informasi yang benar tentang harga gas industri di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.
"Harga gas sebuah negara tidak bisa apple to apple dibandingkan. Misal harga gas di Singapura dengan di Indonesia, ataupun harga gas di Malaysia dengan di Indonesia," ujar Pengamat Energi dari Reforminer Institute, Pri Agung Rakhmanto di Jakarta, Senin (10/10).
Menurutnya, harga gas di Malaysia sudah pasti lebih rendah karena adanya subsidi dari pemerintah. Namun, di Singapura, lanjutnya, ada juga yang disubsidi, sedangkan yang tidak maka harganya jauh lebih mahal.
Mengutip harga gas di Singapura melalui citygas.com.sg dijelaskan harga gas rata-rata di negara tersebut per 1 Agustus sampai 31 Oktober 2016 termasuk pajak yang dijual ke konsumen mencapai USD 18,5 per MMBtu.
Sedangkan, harga gas di Malaysia karena adanya subsidi mencapai USD 6,6 per MMBtu. Adapun di China harga gasnya sebesar USD 15 per MMBtu dan di Thailand sebesar USD 7,5 per MMBtu. Sementara, harga gas di Indonesia sebesar USD 9 per MMBtu.
"Jadi tolonglah siapapun yang menyampaikan informasi ke Presiden Jokowi jangan sepotong-sepotong seolah-olah harga gas kita paling tinggi," kata Pri Agung.
Pada intinya, di tengah menurunnya harga minyak dunia memang sudah sepantasnya harga gas turun namun tidak bisa dengan mematok harga. Pemerintah justru memiliki peranan besar yang menyebabkan harga gas tinggi.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya