Ini alasan pemerintah patok pertumbuhan ekonomi 2019 lebih rendah dibanding 2018

Minggu, 19 Agustus 2018 16:34 Reporter : Dwi Aditya Putra
Ini alasan pemerintah patok pertumbuhan ekonomi 2019 lebih rendah dibanding 2018 pertumbuhan ekonomi. merdeka.com /Arie Basuki

Merdeka.com - Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen di tahun 2019. Angka ini lebih kecil dibandingkan target pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika memperkirakan, pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun ini berada dikisaran 5,2 persen. Dia memandang, pertumbuhan ekonomi di 2019 sangat realistis walaupun ada penurunan dibanding APBN 2018.

Dari data tersebut, Ahmad menjelaskan bahwa pemerintah tidak ingin menaikkan target pertumbuhan ekonomi di 2019. Sebab, kondisi ekonomi global sampai pertengahan tahun 2019 masih akan bergejolak dan Indonesia akan mengalami beberapa tantangan berat terhadap tekanan eksternal tersebut.

"Ekonomi global sampai pertengahan tahun depan bahkan bisa sampai akhir tahun 2019 masih akan ada tantangan tantangan yang berat terutama dari Amerika Serikat. The fed masih akan terus meningkatkan suku bunga minimal sampai pertengahan tahun depan. Oleh karenanya rintangan dari ekonomi eksternal itu lumayan terjal," jelasnya dalam diskusi Menaker Politik Anggaran RAPBN 2019, di Jakarta, Minggu (19/8).

"Belum lagi ada beberapa negara seperti Turki, ada Argentina yang yang mengalami masalah kondisi ekonominya," tambahnya.

Ahmad mengatakan, dari sisi domestik sebetulnya pemerintah sudah melakukan hal yang cukup baik dengan melihat ukuran situasi ekonomi saat ini. Terbukti dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari pada pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia.

"Pertumbuhan ekonomi kita itu jauh lebih tinggi dari pada rata-rata pertumbuhan ekonomi negara negara Asia. Lebih tinggi dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Itu mencengangkan," imbuhnya.

Oleh karena itu, dia optimis pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pada 2019 sebesar 5,3 persen dapat terealisasikan. "Satu kita optimis bahwa tahun depan lebih bagus dari tahun ini. Itu terlihat jelas. Karena asumsi pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, optimisme nampak di situ. Namun ini optimisme yang terukur bukan optimisme yang kemudian jatuh kepada obsesi yang berlebihan," sebutnya.

"Dengan cara ini pemerintah ingin asumsinya itu kredibel. Pasar melihat asumsi ini realistis dengan segala macam dari eksternal dan internal. Itu latar belakang kenapa pertumbuhan ekonomi tahun depan 5,3 sampai 5,4 persen lebih kepada optimisme betul betul," pungkas Ahmad. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini