Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia

Senin, 20 Agustus 2018 11:21 Reporter : Syintia Samantha'
Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia Presiden Jokowi dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Dunia sedang memasuki era revolusi industri yang ke-empat atau disebut Industri 4.0. Era ini ditandai dengan penggunaan mesin-mesin otomasi yang terintegrasi dengan jaringan internet (internet of things).

Industri 4.0 diperkenalkan sejak tahun 2011 di Jerman, yang juga menjadi momentum implementasi ekonomi digital. Ada lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu: internet of things, artificial intelligence, human-machine interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D printing.

Melalui implementasi Industri 4.0, diharapkan proses produksi manufaktur menjadi semakin efisien, sehingga terjadi peningkatan produktivitas dan daya saing.

Making Indonesia 4.0

Tak mau tertinggal, Indonesia juga telah berkomitmen untuk mengimplementasikan Industri 4.0 guna membangun industri manufaktur yang berdaya saing global. Komitmen ini ditandai dengan peluncuran 'Making Indonesia 4.0' oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 4 April 2018 sebagai sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan.

Menurut Presiden, penamaan Making Indonesia 4.0 sangat tepat karena memiliki arti yang bagus, yaitu membangun kembali perindustrian Indonesia ke era baru pada revolusi industri keempat dan merevitalisasi industri nasional secara menyeluruh. Harapannya dengan implementasi Industri 4.0 ini, Indonesia dapat mencapai Top Ten (10 besar) ekonomi global pada tahun 2030, melalui peningkatan angka ekspor netto kita kembalikan sebesar 10 persen dari PDB.

Selain itu, aspirasi lainnya adalah peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi, serta mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030.

Sektor Prioritas dan Inisiatif Strategis Nasional

Berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0, Kementerian Perindustrian telah menetapkan lima sektor manufaktur yang akan diprioritaskan pengembangannya. Lima sektor tersebut yaitu: industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia.

"Selama ini, dari lima sektor industri itu mampu memberikan kontribusi sebesar 70 persen untuk PDB industri, kemudian menyumbang 65 persen terhadap total ekspor, dan 60 persen tenaga kerja industri ada di lima sektor tersebut," kata Menperin Airlangga Hartarto.

Diharapkan kinerja lima sektor industri tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan PDB diharapkan bertambah 1-2 persen. "Jadi, kalau saat ini rata-rata 5 persen bisa menjadi 6-7 persen. Kemudian, dengan capaian itu, penciptaan lapangan kerja naik 30 persen, dan kontribusi industri di angka 25 persen" lanjutnya.

Kemenperin mencatat, periode triwulan I tahun 2018, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,03 persen, naik dibanding periode yang sama tahun 2017 sekitar 4,80 persen. Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri mesin dan perlengkapan sebesar 14,98 persen.

Kemudian diikuti oleh industri makanan dan minuman yang mencapai 12,70 persen, industri logam dasar 9,94 persen, industri tekstil dan pakaian jadi 7,53 persen, serta industri alat angkutan 6,33 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor industri yang menjadi fokus pada implementasi Industri 4.0 mampu menunjukkan kinerja yang baik.

Dalam rangka mewujudkan target pada tahun 2030, Pemerintah telah menetapkan 10 langkah prioritas nasional. Dari strategi tersebut, diyakini dapat mempercepat pengembangan industri manufaktur nasional agar lebih berdaya saing global. Kesepuluh inisiatif tersebut yaitu:
1. Perbaikan alur aliran barang dan material melalui pengembangan industri hulu.
2. Mendesain ulang zona industri di seluruh wilayah Indonesia dengan menyelaraskan peta jalan sektor-sektor industri yang menjadi fokus prioritas.
3. Mengakomodasi standar-standar keberlanjutan untuk peluang industri di masa depan, seperti yang berbasis teknologi bersih, tenaga listrik, biokimia, dan energi terbarukan.
4. Memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui teknologi antara lain
fasilitasi platform e-commerce.
5. Membangun infrastruktur digital nasional, termasuk jaringan internet kecepatan tinggi, cloud, data center, security management dan infrastruktur broadband.
6. Menarik minat investasi asing untuk mendorong transfer teknologi dan perluasan pasar.
7. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui penyesuaian kurikulum pendidikan dan meningkatkan kualitas sekolah kejuruan (vokasi).
8. Pembangunan ekosistem inovasi melalui pengembangan pusat litbang dan desain.
9. Insentif untuk investasi teknologi, untuk mendorong adopsi teknologi maju.
10. Harmonisasi aturan dan kebijakan untuk mendukung daya saing industri yang konsisten dan ramah bagi iklim investasi.

Kembangkan IKM dengan Teknologi Digital

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang terintegrasi dengan teknologi digital di tengah era revolusi industri keempat. Apalagi, berdasarkan Peta Jalan Making Indonesia 4.0, aspek penguasaan teknologi akan menjadi penentu utama keberhasilan dalam implementasi Industri 4.0 yang akan memberikan arah yang jelas bagi pergerakan Indonesia di masa depan.

"Dalam kegiatan penumbuhan dan pengembangan IKM nasional melalui teknologi digital, Kementerian Perindustrian telah membuat e-Smart IKM," kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih.

Sejak diluncurkan e-Smart IKM pada akhir 2016 hingga Juni 2018, nilai transaksi di e-Smart IKM tercatat lebih dari Rp601 juta, dengan komoditas logam, fesyen, makanan dan minuman yang mendominasi nilai transaksi penjualan online tersebut. Komoditas logam menguasai 48,26 persen penjualan dengan nilai transaksi sebesar Rp 290 juta, kemudian fesyen 30,72 persen atau Rp 184 juta, serta makanan dan minuman 14,01 persen atau Rp 84 juta.

"Dalam upaya mendorong pelaku IKM kita terlibat di e-Smart IKM, kami telah melaksanakan workshop agar mereka dibekali pelatihan untuk peningkatan daya saing dan produktivitas usahanya," jelas Gati.

Pada tahun 2017, sebanyak 1.730 IKM telah tergabung dengan e-Smart IKM, yang ditargetkan untuk tahun 2018 dapat menggandeng 4.220 IKM dan tahun 2019 mencapai 10.000 IKM di seluruh Indonesia. Kemenperin terus memacu IKM agar mampu memasarkan produknya di marketplace melalui program e-Smart IKM, yang merupakan sistem basis data dengan menyajikan berupa profil, sentra, dan produk IKM. Pemanfaatan e-Smart IKM juga dapat memberikan jaminan terhadap produk, keamanan dan standarisasi. Kemenperin telah menggandeng sejumlah marketplace dalam negeri seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, Shopee, dan Blanja.com. Gati berharap, program e-Smart IKM pun bertujuan agar marketplace dalam negeri tidak didominasi dengan produk impor.

Litbang Kemenperin Pendukung Industri 4.0

Kementerian Perindustrian melakukan revitalisasi kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) serta berupaya membangun pusat inovasi dalam mendukung implementasi revolusi industri generasi keempat di Tanah Air sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Langkah strategis ini dapat memperkuat daya saing industri manufaktur nasional di kancah global melalui peningkatan nilai ekspor, produktivitas, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM).

"Untuk mendorong hal ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) terus bekerja sama dengan para stakeholder, mulai dari kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi industri, hingga akademisi," kata Kepala BPPI Kemenperin Ngakan Timur Antara.

Ngakan menjelaskan, guna merevitalisasi kegiatan litbang, Balai Besar serta Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand Industri) sebagai unit pelayanan teknis (UPT) di lingkungan BPPI akan diarahkan fokus melakukan kegiatan litbangnya sesuai kebutuhan lima sektor industri yang menjadi percontohan pada tahap awal penerapan industri 4.0 di Indonesia.

"Kami punya 24 UPT litbang yang bakal dipacu untuk mendukung lima sektor prioritas industri 4.0, yakni industri makanan dan minuman, kimia, tekstil, elektronik dan otomotif," paparnya.

SDM Kompeten Kunci Sukses Industri 4.0

Peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci untuk memenangkan kompetisi di tengah era persaingan global saat ini terutama dalam menghadapi perkembangan revolusi industri 4.0. Maka itu, diperlukan langkah strategis guna mengakselerasi penyediaan tenaga kerja yang terampil sesuai kebutuhan dunia industri melalui penyelenggaraan program pendidikan vokasi.

"Upaya yang kami lakukan ini sebagai implementasi Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Sejalan juga dengan yang ada di roadmap Making Indonesia 4.0, di mana kita perlu memanfaatkan bonus demografi. Ini untuk mewujudkan aspirasi menjadikan Indonesia sebagai negara dalam 10 besar ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030," papar Menperin.

Airlangga menjelaskan, sampai dengan 10 tahun ke depan, Indonesia akan menikmati bonus demografi atau momentum ketika mayoritas penduduk berada pada usia produktif (usia 15-64 tahun mencapai 70 persen). "Mereka ini harus menjadi aktor-aktor pembangunan, yang berperan memacu pertumbuhan ekonomi nasional," tegasnya.

Untuk itu, guna mencapai sasaran-sasaran tersebut, Kementerian Perindustrian terus melakukan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Salah satu tujuannya, yaitu penguatan pelaksanaan program pendidikan vokasi agar dapat dilakukan secara masif dan terstruktur.

"Pembangunan SDM industri harus terus dilakukan untuk mencapai kualitas tenaga kerja yang kompeten, tidak saja dari aspek keilmuan, tetapi lebih diutamakan penguasaan keterampilan dan attitude dalam bekerja," tutur Menperin. Kemenperin mencatat, untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan, industri yang terlibat dalam program pendidikan vokasi link and match ini sebanyak 50 perusahaan dengan menggandeng hingga 198 SMK.

"Total sampai tahap keenam, terdapat 618 perusahaan dan 1.735 SMK yang mengikuti program tersebut. Kami memberikan apresiasi terhadap antusias yang besar ini," ungkap Airlangga.

Sebagai tindak lanjut dari peluncuran program pendidikan vokasi yang link and match antara industri dengan SMK, Kemenperin telah melakukan beberapa kegiatan pada tahun 2018. Di antaranya adalah melaksanakan program peningkatan kompetensi guru produktif.

"Kami telah bekerja sama dengan Institute of Technical Education (ITE) Singapura untuk pelatihan guru produktif bidang teknik permesinan, teknik instalasi pemanfaatan tenaga listrik dan otomatisasi industri sebanyak 100 orang," ungkapnya.

Menperin menambahkan, dalam upaya memacu industri nasional untuk mengembangkan pendidikan vokasi, pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai pemberian insentif fiskal berupa pengurangan penghasilan kena pajak sebesar 200 persen dari biaya yang dikeluarkan. [hhw]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini