INACA: Maskapai Penerbangan Tanah Air Sedang Tidak Baik

Selasa, 15 Januari 2019 19:01 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
INACA: Maskapai Penerbangan Tanah Air Sedang Tidak Baik Ilustrasi pesawat. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/Oscar Moncho

Merdeka.com - Periode Natal dan Tahun Baru kali ini diwarnai isu mahalnya tarif pesawat terbang. Masyarakat ramai-ramai mengeluh dan membandingkan tarif pesawat maskapai di tanah air. Bahkan ada yang membandingkannya dengan tarif pesawat rute internasional.

Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) mengatakan kondisi maskapai-maskapai di tanah air saat ini sedang tidak baik. Maskapai umumnya sedang diterpa masalah keuangan terutama sejak terjadinya pelemahan nilai tukar Rupiah.

Pria yang juga merupakan Direktur Utama Garuda Indonesia Airlines tersebut menyebutkan bisnis penerbangan memiliki beberapa variabel biaya pengeluaran yang sebagain besar dibayar dengan Dolar. Sementara masyaarakat yang membeli tiket menggunakan mata uang Rupiah. Pengeluaran maskapai sangat bergantung dengan volatilitas pasar yaitu

"Semua masyarakat juga tahu pembayaran kami dari komponen biaya variabel. Semua komponen biaya dalam USD. Sedangkan dari kursnya sendiri berfluktuasi, harga komoditinya juga," kata Ari di Kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Selasa (15/1).

Dalam hal avtur BBM sendiri, ada peningkatan harga yang signifikan. BBM itu sendiri merupakan komponen terbesar untuk biaya operasi maskapai, yaitu sekitar 40-45 persen.

"Kami catat dari INACA dari April 2016 sampai Desember 2018 harga terendah dan tertinggi untuk avtur itu sebesar 171 persen, kursnya 17 persen dan average kita 8 persen. Jadi kita punya struktur cost yang kompetitif. Kalau kontribusi paling besar memang dari fuel. Kontribusinya 40-45 persen," ujarnya.

Lalu ada komponen pembayaran leasing untuk sewa pesawat 20 persen. Perusahaan leasing ini lebih didominasi oleh Eropa dan AS. imbasnya, perbaikan atau maintenance dikuasai oleh kedua perusahaan tersebut karena tipe pesawat di dominasi oleh Boeing dan Airbus.

"Jadi kami sangat tergantung pada fluktuasi dan license dari airbus dan boeing. 10 persennya biaya pegawai yang perlu makan. Dari Garuda sendiri 10 ribu karyawan, citilink 2 ribu, Sriwijaya 4.500, jadi ini masyarakat yang perlu kami biayai dan masuk dalam komponen cost kita," ungkapnya.

Dari semua komponen pengeluarna tersebut, Ari menyebutkan margin keuntungan yang didapat maksimal hanya 3 persen saja. Itupun jika tarif yang diterapkan mendekati tarif batas atas.

"3 persen itu sudah paling bagus dengan harga selangit (tiketnya). Sementara kemarin ketika Nataru untuk maskapai full service kenaikannya tidak lebih dari batas atas, sedangkan LCC hanya 60-70 persen dari batas atas," ungkapnya.

Ari mengaku dirinya juga kaget kenapa tarif pesawat bisa menjadi isu nasional. "Kondisi saya ini enggak ngerti kenapa jadi isu nasional sehingga sebelum kami akan menurunkan harga tiket pun pada tanggal 14 Januari dari high season jadi low season itu sudah dijadikan isu nasional dan sebelum itu kami sudah menurunkan," ujarnya.

Dia juga mengaku telah banyak dicecar pertanyaan kapan tarif pesawat akan turun. Menurutnya kemungkinan pengurangan tarif rata-rata yang bisa dilakukan oleh maskapai adalah 30 persen. Perhitungannya sudah sesuai dengan batas terendah agar maskapai tidak rugi. "Itu batas kemampuan mereka. Itu batas yang mereka bisa kompensasikan supaya tidak rugi."

Kondisi itu memaksa maskapai untuk berinovasi mencari sumber pendapatan lain agar tidak rugi. Sebab pendapatan dari penjualan tiket tidak mampu menutup pengeluaran. "Lion Air dari bagasi, Garuda dari kargo. Dari harga tiket sendiri, kita sudah kelelep," ujarnya.

Kondisi ini juga diperparah oleh keputusan pemerintah yang tidak menaikkan tarif batas atas pesawat sejak tahun 2016 dengan pertimbangan daya beli masayrakat. Padahal, moda tranportasi lain seperti bus dan kereta api tarifnya sudah naik berkali-kali.

"Kami mengerti pemerintah tidak bisa menaikkan dari 2016 karena melihat daya beli masyarakat, oleh karena itu kami tidak pernah demo untuk menaikkan harga," ujarnya.

Selain itu, maskapai juga masih memiliki pengeluaran layanan infrastruktur seperti untuk pengelola bandara yaitu Angkasa Pura dan Airnav selaku pengatur lalu lintas udara.

Sebelumnya, kelesuan bisnis penerbangan di tanah air juga pernah diungkapkan oleh Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait. Dia mengatakan tahun 2016 hingga sekarang merupakan masa-masa terberat untuk dunia penerbangan. Dia mengklaim semua maskapai yang ada di dalam negeri mengalami kerugian serupa.

"Berat, enggak ada yang enggak berat. Semuanya (maskapai rugi), enggak ada airlines di Indonesia setau saya yang untung," kata Edward.

Edward mengatakan, bisnis penerbangan mengalami kondisi keuangan yang berat sejak tahun 2016. Tidak heran jika ada maskapai yang sampai menutup perusahaannya.

"Rugi makin besar, bahagia hanya sampai Tahun 2015 saja, Tahun 2016 ya masih bisa senyum, 2018 gigit jari, intinya berat. Jadi jangan dikata ada perusahaan yang akhirnya angkat bendera putih (menyerah) itu nyata, itu bukan hanya bicara risk management ya itu pertempuran kan," ujarnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini