Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Investor Properti Mulai Lirik Pembangunan

Minggu, 1 September 2019 19:00 Reporter : Saud Rosadi
Ibu Kota Pindah ke Kalimantan Timur, Investor Properti Mulai Lirik Pembangunan pertumbuhan ekonomi. merdeka.com /Arie Basuki

Merdeka.com - Keputusan pemerintah memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur disambut baik pengembang properti. Jalan tol Samarinda - Balikpapan sepanjang 99,3 kilometer sekaligus tol pertama di Kalimantan, yang akan beroperasi Desember 2019 dinilai jadi nilai tambah bagusnya infrastruktur.

Jalan tol dengan 4 pintu tol itu dipastikan mempersingkat jarak dan waktu Samarinda dan Balikpapan, sebagai kota penyangga ibu kota negara (IKN). Jika selama ini 115 kilometer ditempuh 2,5-3 jam, jarak keduanya bakal ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam melalui jalan tol.

Pasca pengumuman IKN oleh Presiden Joko Widodo di istana negara, salah satu grup bisnis properti nasional sehari kemudian, langsung tancap gas memasarkan hunian apartemennya di kota Balikpapan.

"Ke depan, proses kajian pematangan lahan, proses perencanaan fisik, dan segala macam. Saya berharap, pendatang dan investor tidak menyewa rumah. Tapi, membeli rumah di Samarinda dan Balikpapan," kata Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Timur, Bagus Susetyo ditemui di Samarinda, belum lama ini.

Sebagai kota penyangga IKN yang berjarak kurang dari 100 kilometer, menurut Bagus, masih realistis. "Karena jangkauannya realistis. Dengan ada infrastruktur jalan tol, 1-1,5 jam sudah bisa dijangkau," ujar Bagus.

Kendati demikian, Bagus menggarisbawahi bahwa membangun kawasan hunian saja tidak cukup soal fisik bangunan. Melainkan juga perlu infrastruktur, jalan akses, dan utamanya listrik dan air bersih. "Nah, kendala kita di situ. Utilitas kita agak terlambat. Jadi, misalkan kita membangun, tentu berpikir bagaimana air bersihnya. Kalau listrik surplus, tinggal soal jaringannya. Kalau PDAM selama ini, adalah perusahaan daerah yang bisa mengembangkan. Swasta belum ada," terang Bagus.

Tingginya harga rumah di masa mendatang, menurut Bagus, karena berlaku hukum pasar. "Lahan dikuasai dulu, agar harga murah. Mungkin itu yang awal mereka (pengembang properti) cari," ungkap Bagus.

"Karena semakin banyak permintaan, tanah sedikit, harga naik. Begitu juga rumah. Kalau sekarang kita gimmick, sulit menjual rumah karena turunnya kemampuan (daya beli) masyarakat. Sekarang, ramai investor ke Kaltim, permintaan pasar berlaku. Permintaan banyak, sehingga harga naik," demikian Bagus. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini