Hindari 5 kesalahan dalam mengelola keuangan bagi pengantin baru
Merdeka.com - Sebagai pengantin baru, tentu banyak hal yang harus disesuaikan antara suami dan istri. Salah satu hal yang harus dirembukkan bersama ketika baru menikah ialah soal keuangan.
Banyak pengantin baru yang masih terbawa suasana saat lajang, di mana masalah keuangan akan diatasi secara pribadi. Namun, ketika menikah Anda menghadapi biaya serta penghasilan baru sebagai suami dan istri.
Terlebih lagi jika Anda dihadapkan dengan berbagai kebutuhan, seperti rumah hunian, uang belanja, kebutuhan bulanan, atau pun persiapan menyambut sang buah hati. Pastinya Anda memerlukan keuangan ekstra agar kehidupan rumah tangga Anda berjalan dengan lancar.
Agar piawai mengatur keuangan keluarga, hindari 5 kesalahan dalam mengelola keuangan bagi Anda yang baru saja menginjak kehidupan baru bersama pasangan, seperti dikutip Astra Life.
Tidak memiliki rekening bersama
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebagai keluarga, pasangan suami dan istri sebaiknya memiliki akun bersama dengan tujuan penggunaan tertentu. Tujuan ini misalnya, untuk biaya operasional rumah tangga yang termasuk di dalamnya belanja bulanan, iuran listrik, air, keamanan, telepon, internet, kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan sebagainya.
Namun, sebagai individu, baik suami dan istri perlu memiliki rekening masing-masing. Perencana keuangan Ruth Hayden dalam artikel di situs perencanaan keuangan Key.com menyatakan, suami dan istri tetap harus memiliki hak otonomi atas sebagian uangnya, serta belajar untuk mengelola uang bersama.
Mengutip data majalah keuangan SmartMoney, artikel yang sama menunjukkan bahwa 64 persen pasangan memiliki rekening bersama, 14 persen memilih memiliki rekening masing-masing, dan 18 persen memiliki rekening keduanya.
Tidak sepakat dalam hal utang
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenyatukan keuangan pasca menikah akan membuat pendapatan kita seolah-olah bertambah karena penghasilan suami dan istri akan menyatu. Berkat penghasilan yang lebih besar ini, pasangan suami istri juga dimungkinkan untuk mengakses kredit yang lebih besar seperti rumah dan kendaraan.
Apapun jenis kreditnya, yang penting suami dan istri harus menyepakati kredit yang diambil. Karena, ketika sudah menikah, utang istri suatu saat bisa menjadi masalah suami dan begitu pula halnya dengan utang suami.
Data dari SmartMoney juga menyatakan bahwa pasangan acap kali tidak sepakat mengenai berapa jumlah utang yang pantas diakses dan tidak bisa melihat jenis utang yang buruk. Umumnya hal ini dikarenakan ketika menikah, salah satu satu pihak memiliki utang yang lebih besar.
Jika Anda belum menikah dan tidak ingin aset yang diperoleh sebelum menikah terkena risiko oleh utang pasangan yang membumbung, tak ada salahnya jika Anda membuat perjanjian pra-nikah atau prenuptial agreement sebagai kesepakatan pemisahan harta.
Namun jika Anda sudah terlanjur menikah dan mengetahui bahwa pasangan memiliki utang yang lebih besar, maka Anda dan pasangan harus duduk bersama dan menyepakati utang apa saja yang perlu dipertahankan dan utang apa yang harus ditutup.
Tidak mengecek pengeluaran
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSuami biasanya menyindir istri karena sering berbelanja seperti baju atau make up. Padahal walaupun suami jarang belanja, namun sekalinya berbelanja, ia bisa menghabiskan uang yang sama besarnya dengan pengeluaran istri sebulan.
Tak usah heran. Ini dikarenakan suami dan istri pada dasarnya memiliki pengeluaran yang sama besar, tapi pada hal yang berbeda. Istri biasanya menghabiskan pengeluaran untuk kebutuhan rumah tangga, bayar tagihan, dan baju untuk keluarga. Sementara suami umumnya menghabiskan uang untuk hal yang lebih besar seperti TV, komputer, console game, atau telepon genggam.
Agar tidak salah persepsi dan saling menyalahkan, setiap pasangan harus berembuk membicarakan biaya bulanan dan berapa penghasilan dari masing-masing pasangan yang harus dialokasikan untuk menutup biaya bulanan tersebut.
Menyimpan uang rahasia
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comApakah Anda pernah kaget tak sengaja menemukan bill kartu kredit pasangan Anda untuk pembelian yang tidak Anda ketahui? Atau, tiba-tiba ada debt collector menyambangi rumah untuk meminta pasangan Anda membayar suatu tagihan yang Anda tidak tahu?
Untuk menghindarinya, Anda harus terbuka kepada pasangan untuk segala urusan keuangan, baik itu belanja, utang, dan pemasukan. Artikel Key.com menyebutkan, sebanyak 36 persen dari pria dan 40 persen dari perempuan yang mereka survei pernah menyembunyikan harga barang yang mereka beli dari pasangan.
Padahal, dalam beberapa kasus, menyembunyikan uang atau transaksi dari pasangan bisa berisiko fatal, hingga menghancurkan perkawinan.
Tidak menyiapkan dana darurat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comWalaupun Anda dan pasangan memiliki karier yang bagus, tidak memiliki utang dalam jumlah besar, dan sehat walafiat, bukan berarti Anda tidak memerlukan dana darurat.
Ruth Hayden dalam artikel Key.com mengatakan bahwa saat ini banyak pasangan hidup di bawah tekanan yang dapat membalikkan hidup mereka secara drastis. Karenanya, ia menyarankan pasangan harus mengalokasikan tiga hingga enam kali pengeluaran bulanan untuk dana darurat.
Agar dapat dicairkan dengan cepat dan dalam waktu dekat, dana darurat ini sebaiknya ditempatkan di portofolio yang rendah risiko seperti reksadana pasar uang.
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya