Hadapi Industri 4.0, Pengusaha Muda Bina Penyandang Disabilitas Jadi Ahli IT

Selasa, 26 November 2019 18:29 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Hadapi Industri 4.0, Pengusaha Muda Bina Penyandang Disabilitas Jadi Ahli IT Pengusaha Muda Bina Penyandang Disabilitas Jadi Ahli IT. istimewa ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Peluang pengembangan IT dan industri 4.0 di indonesia sangat besar. Hal penting yang harus disiapkan untuk mengambil serta memanfaatkan peluang tersebut, yakni kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).

Salah satu upaya dalam menyiapkan SDM Indonesia yakni melalui program pelatihan. Hal inilah yang ditempuh oleh pemuda asal indonesia yang memiliki perusahaan bernama Techbros GmbH di Jerman, Yudhi Rahadian.

Sejak 2018, Yudhi telah melakukan kegiatan pelatihan IT bertajuk 'Wonder Coding'. Uniknya, program pelatihan yang telah dilakukan di beberapa kota ini dikhususkan bagi kaum disabilitas.

Pelatihan ini, menunjukkan komitmen pihaknya untuk tidak hanya mengimplementasikan rencana perluasan jangkauan perusahaan konsultan IT dan telekomunikasi di bidang pengembangan perangkat lunak dan keras miliknya ke indonesia. Tapi juga meningkatkan SDM di bidang IT.

"Saat ini diikuti 50 orang peserta tuli, yang ada di kota Bogor, Bandung dan di Yogyakarta," kata dia, Selasa (26/11).

Menurut dia, program pelatihan IT ini dikhususkan pada kaum disabilitas karena melihat besarnya potensi kaum disabilitas dalam bidang IT. Program pelatihan IT ini pun cukup sukses menggaet banyak perhatian.

Selain karena biaya yang terjangkau bagi peserta, pelatihan juga diisi dengan materi yang dibutuhkan dunia kerja bidang telekomunikasi, seperti android untuk pemula, web development, graphic design, hingga robotic dan public speaking. Formula ajaran pun dibuat khusus sehingga peserta mampu dengan cepat menyerap, dan menerapkannya di dunia kerja.

"Lulusan bootcamp juga langsung disalurkan untuk magang, ini sesuai dengan visi dan misi wonder koding, menciptakan masa depan yang lebih baik untuk disabilitas lewat programming," ujarnya.

Yudhi rahadian sendiri sudah cukup lama berusaha di bidang telekomunikasi di 16 negara sejak tahun 2001. Technopreneur yang berdomisili di Jerman sejak 2013 ini, melihat peluang mendekatkan teknologi komunikasi yang berkembang pesat di Jerman ke negara kelahirannya, Indonesia.

1 dari 1 halaman

Orientasi Teknologi

Indonesia sendiri, sudah sangat berorientasi teknologi (technology oriented minded). Meskipun masih banyak kendala yang dihadapi, salah satunya konektivitas.

"Padahal konektivitas berbanding lurus dengan kualitas pelayanan yang memiliki banyak manfaat penggunaan teknologi terbaru seperti deep learning, machine learning, AI (artificial inteligent) hingga VR dan lain sebagainya," ujar dia.

Lewat pelatihan IT, dia yakin, perusahaannya bisa berbagi dengan masyarakat indonesia khususnya kalangan penikmat teknologi. "Dengan lebih memperkenalkan kelebihan teknologi IOT dan 5G use case-nya yang sudah monetize,"

Sebagai informasi, sejak didirikan tahun 2017, Techbros GmbH juga mengembangkan perangkat lunak dan fisik untuk kepentingan pelanggannya. "Seperti, ontelmoo, smart estrus detection untuk peternakan sapi, map marketing analytics untuk kepentingan geolocation marketing untuk usaha usaha retail yang ingin menganalisa marketing area mereka, smart parking menggunakan technology deep learning visualisation dan spayt, smart payment gateway yang dapat digunakan untuk pembayar," tandasnya. [idr]

Baca juga:
UMK Tembus Rp4,5 Juta, Perusahaan di Karawang Utamakan Penggunaan Robot
Robot Berpotensi Gantikan Manusia dalam Wawancara Kerja
Dua Industri Raksasa Korea Selatan Minat Investasi di Indonesia
Kuasai 50 Persen Pasar Global, Pendapatan Konsolidasi Fujitsu Tembus USD 36 Miliar
Siap-siap, Sektor Industri Ini Butuh Banyak Pekerja di 2020
Menperin Minta Cabot Corporation Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini