Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa baru-baru ini menegaskan posisi Jawa Timur sebagai produsen jeruk terbesar di tingkat nasional. Penegasan ini disampaikan saat kunjungan kerja ke sentra jeruk siam di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, pada hari Minggu, 4 Januari 2026. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memberikan dukungan nyata kepada para petani jeruk lokal dan mempromosikan keunggulan produk hortikultura Jawa Timur.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga secara aktif mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih meningkatkan konsumsi jeruk lokal. Langkah ini merupakan upaya strategis pemerintah provinsi untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Dengan demikian, diharapkan ekonomi petani jeruk di Jawa Timur dapat semakin kuat dan berdaya saing di pasar domestik maupun internasional.
Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak hanya berhenti pada promosi, melainkan juga mencakup dialog langsung dengan petani. Gubernur mendengarkan berbagai tantangan yang dihadapi dalam proses produksi, distribusi, serta peluang pengembangan nilai tambah komoditas jeruk ke depan. Ini menunjukkan komitmen Pemprov Jatim dalam mendampingi petani dari hulu hingga hilir.
Advertisement
Advertisement
Potensi Unggul dan Kontribusi Nasional Produksi Jeruk Jatim
Jawa Timur telah membuktikan diri sebagai lumbung jeruk nasional dengan kontribusi yang signifikan terhadap total produksi di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, total produksi jeruk di provinsi ini pada triwulan III tahun 2025 mencapai angka fantastis 959.231,31 ton. Angka ini setara dengan 36,22 persen dari total produksi jeruk nasional pada periode yang sama, menempatkan Produksi Jeruk Jatim di posisi teratas.
Khofifah Indar Parawansa secara langsung mengapresiasi kualitas jeruk siam yang dihasilkan di Desa Tutur, Pasuruan. Menurutnya, jeruk di wilayah tersebut memiliki keunggulan yang khas, seperti buah yang tumbuh lebat, kulit agak tebal berwarna oranye, ukuran besar, dan rasa yang sangat manis. "Jeruk Siam di Desa Tutur ini unggul. Dua bulan lalu saya ke sini, kemudian hari ini datang lagi, saya terkesima lihat buahnya yang tumbuh lebat, kulitnya agak tebal berwarna orange, size nya besar, rasanya manis sekali serasa bercampur madu,” ujar Khofifah.
Keunggulan jeruk siam Tutur ini tidak terlepas dari kondisi geografis wilayah penanamannya. Jeruk-jeruk tersebut ditanam di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut, yang merupakan lokasi ideal untuk budidaya hortikultura. Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada kualitas rasa dan ukuran buah yang optimal, menjadikannya komoditas unggulan Jawa Timur.
Advertisement
Advertisement
Dukungan Pemerintah dan Penguatan Ekonomi Lokal
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus menunjukkan komitmennya untuk mendukung petani jeruk siam. Dukungan ini merupakan bagian dari ikhtiar memperkenalkan jeruk siam kepada masyarakat luas, dengan harapan dapat meningkatkan minat konsumen. Peningkatan minat ini diharapkan akan berbanding lurus dengan peningkatan permintaan pasar, yang pada akhirnya akan menguntungkan para petani.
Gubernur Khofifah menekankan bahwa konsumsi jeruk lokal tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga memiliki dampak positif yang signifikan terhadap penguatan ekonomi. Dengan membeli dan mengonsumsi jeruk yang diproduksi di dalam negeri, masyarakat secara langsung turut menggerakkan roda perekonomian petani dan daerah. Ini adalah wujud nyata dari gerakan cinta produk dalam negeri.
"Kalau kita konsumsi jeruk lokal, kita tidak hanya mendapatkan produk segar dan sehat, tapi juga ikut menggerakkan ekonomi petani kita sendiri. Ini bagian dari gerakan cinta produk dalam negeri,” kata Khofifah. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berkomitmen untuk terus mendampingi petani, mulai dari peningkatan kualitas produksi hingga penguatan akses pasar. Tujuannya adalah agar Produksi Jeruk Jatim semakin berdaya saing dan mampu menembus pasar yang lebih luas.
Advertisement
Sumber: AntaraNews