Hot Issue

Fenomena di Tengah Pandemi, Masyarakat Simpan Ratusan Juta Hingga Borong Emas

Jumat, 14 Agustus 2020 07:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Fenomena di Tengah Pandemi, Masyarakat Simpan Ratusan Juta Hingga Borong Emas pertumbuhan ekonomi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Ekonomi Indonesia kini di ambang resesi. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 tercatat (minus) -5,32 persen secara tahunan atau year on year. Jika pertumbuhan ekonomi kembali minus pada kuartal III-2020, maka ekonomi Indonesia resmi masuk jurang resesi.

Pemerintah melakukan berbagai cara untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Salah satunya dengan meningkatkan konsumsi rumah tangga melalui penyaluran bantuan dan kredit murah. Tak hanya itu, pemerintah bahkan akan memberi subsidi gaji sebesar Rp600.000 tiap bulan selama 4 bulan ke pekerja dengan gaji di bawah Rp5 juta. Harapannya, daya beli kembali naik dan konsumsi mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi rumah tangga selama ini memang menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun karena pandemi corona, konsumsi rumah tangga anjlok parah. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga terpukul cukup dalam hingga negatif atau minus 6,51 persen dibandingkan kuartal I-2020 atau 5,51 persen dibandingkan kuartal II 2019.

Selama pandemi, hanya tiga sektor usaha yang mampu tumbuh di kuartal II-2020 dibandingkan kuartal I 2020, yakni pertanian sebesar 16,24 persen, informasi dan komunikasi sebesar 3,44 persen, dan pengadaan air sebesar 1,28 persen. Sementara sektor lainnya terkontraksi, dengan kontraksi paling dalam pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 29,22 persen, serta akomodasi dan pergudangan sebesar 22,31 persen.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Suharso Monoarfa menyebut, daya beli masyarakat hilang sebesar Rp362 triliun akibat adanya pandemi Covid-19. Menurutnya, kondisi itu memberikan efek kejut luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi secara nasional.

Menurutnya, penurunan daya beli sudah terlihat sejak wabah atau virus ini masuk di Indonesia atau pada Maret 2020. Kebijakan ini membuat daya beli masyarakat turun sehingga perekonomian di kuartal I-2020 hanya mencapai 2,97 persen.

"Jadi bahwa pandemi ini akibatkan dari tanggal 30 Maret - 6 Juni, kurang lebih 10 minggu hitungan kami hilang jam kerja luar biasa, ini juga menghilangkan daya beli Rp362 triliun," ujarnya di Ruang Rapat Komisi XI DPR RI, Jakarta, Senin (22/6).

Suharso mengatakan hilangnya daya beli ini juga terjadi akibat tidak adanya perputaran ekonomi antara penjual dan pembeli di lapangan. Kondisi tersebut juga berakibat fatal terhadap penghasilan sektor UMKM yang turun secara drastis selama pandemi.

Tak hanya itu pembatasan sosial juga mengakibatkan tingkat produksi pabrik-pabrik industri manufaktur turun drastis. Di mana saat ini, tercatat tingkat utilisasi manufaktur hanya tinggal 30 persen. Kondisi itu, membuat pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mendukung terutama daya beli masyarakat, agar UMKm dan sektor manufaktur bisa kembali berjalan.

"Kita tentu enggak akan biarkan kontraksi ini sepanjang tahun, makanya banyak hal yang kita lakukan. Pemerintah melalui Sosial Safety Net (SSN) berikan bantuan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan kontraksi ekonomi di triwulan II bisa dijaga. Ini adalah pekerjaan rumah kita dalam rangka pemulihan ekonomi tahun 2021," jelasnya.

Baca Selanjutnya: Masyarakat Kelas Menengah Atas Lebih...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini