Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

FAO Mencatat 80 Juta Ton Ikan Hilang Akibat Pemanasan Global

FAO Mencatat 80 Juta Ton Ikan Hilang Akibat Pemanasan Global Pemanasan Global di Greenland. ©REUTERS/Lucas Jackson

Merdeka.com - Ketua Dewan Pakar Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Alan Koropitan, mengaku kecewa dengan hasil konferensi iklim PBB di Madrid-Spanyol Desember lalu. Sebab, hasil pertemuan internasional tersebut tidak melahirkan solusi yang jelas dalam menangani pemanasan global.

Negara penyumbang emisi terbesar seperti Amerika, Belanda dan Australia bungkam. Sementara, negara lain seperti Indonesia diminta menurunkan kadar emisi.

Pemerintah Indonesia memang sudah melaporkan akan mengurangi emisi hingga 26 persen. Jumlahnya akan bertambah hingga 46 persen jika mendapatkan bantuan pembiayaan dari dunia internasional. "Kalau menurunkan emisi bisa mengganggu ekonomi suatu bangsa," kata Alan di Jakarta, Kamis (9/1).

Pemanasan global ini, kata Alan, sangat merugikan industri perikanan. Dari data jurnal sains magazine, selama 80 tahun terakhir hasil stok ikan di dunia berkurang hingga 4,1 persen. Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencatat penurunan hasil ikan secara global berkurang hingga 80 juta ton.

Dalam situasi tak menentu ini yang dirugikan adalah nelayan. Sebab, mereka mengalami ketidakpastian perubahan iklim dan dihadapkan stok perikanan dunia menurun. Tak ada yang bisa dilakukan nelayan selain beradaptasi dengan alam.

Untuk itu, dia mendorong pemerintah melakukan upaya rehabilitasi mangrove. Mangrove tak hanya bermanfaat untuk memecah gelombang menuju pesisir. Mangrove juga bisa dimanfaatkan untuk budidaya pembesaran ikan kecil. Akan lebih maksimal jika dikombinasikan dengan budidaya ikan seperti yang telah dilakukan di Muara Gembong, Bekasi-Jawa Barat.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah mengembangkan teknologi prakiraan cuaca. Dia ingin Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tak hanya mengabarkan cuaca saja. Tetapi mengombinasikan dengan informasi wilayah tangkapan ikan.

"Kalau ada cuaca ekstrem di sini, lebih baik nelayan melautnya ke wilayah sini, misalnya," kata Alan. Informasi ini sangat bermanfaat bagi nelayan dengan kapasitas kapal di bawah 10 GT. Agar mereka bisa melakukan antisipasi dari kerugian saat melaut.

Pemanasan global, pulau-pulau kecil Indonesia terancam tenggelam

pulau pulau kecil indonesia terancam tenggelamRekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.com

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati) mengatakan, keberadaan pulau-pulau kecil di Indonesia yang kaya potensi terancam perubahan iklim dan pemanfaatan yang merusak.

"Pemanasan global yang mengakibatkan cairnya es di kutub dan akhirnya membuat muka laut menjadi lebih tinggi dapat menenggelamkan pulau-pulau kecil di Indonesia," kata Program Officer Ekosistem Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yayasan Kehati Basuki Rahmad di Jakarta, Kamis (22/5).

Seperti diberitakan Antara, pemanasan global juga memberi dampak pada kerusakan terumbu karang yang sangat rentan pada perubahan suhu di laut.

Kondisi itu, katanya, diperburuk dengan kerusakan yang diakibatkan kegiatan manusia. Padahal proses pertumbuhan terumbu karang rata-rata satu sentimeter untuk setiap tahunnya. Jika kerusakan menimpa lima meter terumbu karang, maka pemulihannya bisa mencapai waktu 500 tahun.

Terumbu karang merupakan organisme yang sangat penting bagi pulau-pulau kecil sebagai benteng bagi pantai atau pulau dari gerusan arus laut. Jika tidak ada karang yang melindungi maka pengikisan pantai akan semakin cepat terjadi.

Selain itu, rusak atau hilangnya terumbu karang juga mempengaruhi produksi perikanan, sebab ikan melakukan pemijahan (mencampur jantan dan betina) di sekitar karang. Tanpa adanya karang, ikan-ikan ini akan pergi dan sulit untuk ditangkap.

Ancaman lain dari kegiatan manusia di antaranya reklamasi pantai serta berubahnya muka tanah di pulau-pulau kecil karena perkebunan dan pertambangan.

Selain itu, kata Basuki Rahmad, pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Indonesia juga memiliki isu serius dari sisi kedaulatan negara. Masih banyak pulau-pulau berpenghuni yang belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

"Mereka merasa diambil sumberdayanya akan tetapi tidak mendapatkan imbal balik yang setimpal. Kekecewaan seperti ini tentunya mengancam kesatuan negara ini," kata Basuki.

Bertepatan dengan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia, 22 Mei 2014, Yayasan Kehati mengajak masyarakat Indonesia untuk peduli pada pulau-pulau kecil sesuai dengan tema tahun ini "island biodiversity".

(mdk/bim)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP