Fakta Unik: Pulau Buru Lumbung Pangan Maluku, Bulog Maluku Serap 3,9 Ton Gabah untuk Cadangan Nasional
Perum Bulog Maluku dan Maluku Utara berhasil menyerap 3,9 ton gabah kering panen dari petani di Pulau Buru. Langkah penyerapan gabah Bulog Maluku ini memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan menjaga stabilitas harga. Bagaimana dampaknya bagi petani?
Perum Bulog Kantor Wilayah Maluku dan Maluku Utara baru-baru ini sukses menyerap 3.944 kilogram gabah kering panen (GKP). Penyerapan ini dilakukan dari para petani di wilayah strategis Pulau Buru, Maluku, sebagai upaya penting. Informasi ini disampaikan di Ambon pada Sabtu (28/9) oleh pihak Bulog.
Langkah konkret ini diambil untuk menjaga stabilitas harga pangan di tingkat petani lokal. Selain itu, inisiatif ini bertujuan memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di daerah tersebut secara signifikan. Ini merupakan bagian dari komitmen Bulog terhadap ketahanan pangan.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Maluku dan Malut, Rudi Senawi Tahir, menegaskan komitmen ini. Ia menyatakan, "Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah." Program ini menjadi bukti nyata dukungan Bulog terhadap sektor pertanian.
Strategi Bulog untuk Stabilitas Harga dan Cadangan Pangan
Rudi Senawi Tahir menjelaskan, serapan gabah ini merupakan bukti nyata dukungan Bulog terhadap petani lokal. Pulau Buru diidentifikasi sebagai salah satu lumbung pangan strategis di Maluku yang perlu terus diperhatikan. Tujuannya adalah memastikan petani memperoleh kepastian pasar atas hasil panen gabah mereka.
Ke depan, Bulog Maluku berencana memperluas area penyerapan gabah ke sentra-sentra produksi lain di Maluku. Harapannya, program ini dapat memacu semangat petani untuk meningkatkan produksi. Ini juga akan memperkuat ketahanan pangan daerah secara keseluruhan.
Penyerapan gabah ini merupakan bagian dari penugasan resmi Badan Pangan Nasional (Bapanas) kepada Bulog. Mandat tersebut tertuang dalam surat nomor 257/TS.03.03/K/9/2025 yang menugaskan Bulog melaksanakan pengadaan gabah dan beras pada Semester II Tahun 2025.
Mekanisme Penyerapan dan Harga Acuan yang Menguntungkan Petani
Direktur Pengadaan Perum Bulog, Prihasto Setyanto, menjelaskan kesiapan Bulog dalam penyerapan gabah. Mereka siap membeli GKP dengan harga Rp6.500 per kilogram. Pembelian ini dapat dilakukan melalui mekanisme Cadangan Beras Pemerintah (CBP) maupun secara komersial.
Gabah yang diserap Bulog adalah gabah yang telah memasuki usia panen optimal. Hal ini penting untuk menjaga kualitas gabah tetap terjaga dengan baik. Dengan demikian, petani juga memperoleh kepastian pasar yang menguntungkan atas hasil panennya.
Pembelian gabah dilakukan secara langsung dari petani. Ini terutama terjadi ketika harga di tingkat petani sama atau lebih rendah dari harga acuan Rp6.500 per kilogram. Dengan cara ini, ia berharap harga tetap stabil dan petani memperoleh keuntungan yang layak.
Komitmen Akuntabilitas dan Dukungan Kemandirian Pangan
Prihasto Setyanto menegaskan komitmen Bulog untuk menjunjung prinsip akuntabilitas. Transparansi dan tata kelola yang baik akan diterapkan dalam setiap tahapan penyerapan gabah. Program ini juga menjadi wujud dukungan penuh terhadap kebijakan pemerintah.
Lebih lanjut, program penyerapan gabah ini merupakan perlindungan nyata bagi petani. Ini memastikan mereka mendapatkan harga yang adil dan stabil untuk hasil panennya. Bulog berkomitmen penuh pada kesejahteraan petani.
Dengan capaian serapan di Pulau Buru, Bulog Maluku menunjukkan optimisme tinggi. Mereka yakin panen gadu September–Desember 2025 dapat memberikan manfaat ganda, yakni menjaga stok beras nasional dan mendukung kemandirian pangan bangsa.
Sumber: AntaraNews