Fakta Unik Peternakan China: Gubernur Aceh Kunjungi Fasilitas Canggih Demi Industri Unggas Aceh Terpadu

Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau peternakan ayam modern di China, melihat langsung teknologi canggih untuk wujudkan industri unggas Aceh terpadu. Bagaimana detailnya?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik Peternakan China: Gubernur Aceh Kunjungi Fasilitas Canggih Demi Industri Unggas Aceh Terpadu
Gubernur Aceh Muzakir Manaf meninjau peternakan ayam modern di China, melihat langsung teknologi canggih untuk wujudkan industri unggas Aceh terpadu. Bagaimana detailnya? (AntaraNews)

Gubernur Aceh Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja penting ke Provinsi Henan, China. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau langsung salah satu peternakan ayam terbesar di sana. Langkah strategis ini merupakan bagian dari persiapan serius Aceh dalam membangun industri unggas terpadu yang modern.

Tepat pada tanggal 15 Oktober, Mualem beserta rombongan mengunjungi fasilitas peternakan ayam petelur Xinxiang Anlong Agricultural Technology Co Ltd. Lokasi ini dikenal sebagai salah satu yang paling modern di Tiongkok. Kunjungan ini berlangsung sehari setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara BUMD PT Pembangunan Aceh (PEMA) dan perusahaan China, Zhongke Holding Green Technology Co Ltd.

MoU yang diteken pada 14 Oktober ini menandai komitmen kedua belah pihak untuk kerja sama di sektor peternakan ayam. Dengan melihat langsung operasional peternakan berskala besar di China, Pemerintah Aceh berupaya mendapatkan gambaran teknis. Hal ini penting untuk mewujudkan cita-cita swasembada pangan dan menembus pasar ekspor melalui pengembangan industri unggas Aceh.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, Gubernur Muzakir Manaf dan delegasinya disuguhkan dengan sistem operasional peternakan yang sangat canggih. Peternakan Xinxiang Anlong Agricultural Technology Co Ltd memiliki kapasitas produksi mencapai satu juta butir telur per hari. "Apa yang kita saksikan di sini adalah masa depan industri peternakan," ujar Mualem, terkesan dengan skala dan efisiensi yang ada.

Seluruh proses di fasilitas tersebut berjalan otomatis dan terintegrasi penuh, menunjukkan tingkat modernisasi yang tinggi. Mulai dari pembuatan pakan ternak, pengelolaan kandang tertutup (closed house), hingga proses pengumpulan dan pengemasan telur, semuanya dilakukan secara otomatis. Penerapan teknologi ini menjadi inspirasi berharga bagi pengembangan industri unggas Aceh.

Selain meninjau peternakan, rombongan juga mengunjungi Zhuoyi Husbandry Machinery, perusahaan penyedia peralatan dan sistem peternakan ayam petelur modern terkemuka. Di sana, Mualem mengamati berbagai inovasi teknologi dari sisi produsen. Ini termasuk desain kandang baterai otomatis, sistem pemberian pakan dan minum, sistem kontrol iklim, hingga sabuk konveyor pengumpul telur yang efisien.

Perwakilan Dinas Penanaman Modal dan PTSP Aceh, Rahmadhani, yang turut mendampingi, menegaskan bahwa kunjungan ini memberikan gambaran teknis yang jelas. "Setelah menandatangani MoU kemarin, hari ini kita melihat langsung cetak biru dan teknologi yang akan kita terapkan," kata Rahmadhani. Ini menunjukkan keseriusan dalam mengimplementasikan proyek industri unggas terpadu tersebut.

Kunjungan Gubernur Aceh ke China merupakan tindak lanjut konkret dari penandatanganan MoU strategis yang telah dilakukan. Nota kesepahaman ini menjadi fondasi awal dalam mempersiapkan implementasi proyek kawasan industri unggas terpadu di Aceh. Pemerintah Aceh, melalui BUMD PT PEMA, telah menyiapkan lahan seluas sekitar 300 hektare di Kabupaten Aceh Besar untuk proyek ambisius ini.

Mualem menyatakan harapannya agar Aceh dapat meniru keberhasilan peternakan modern yang dilihatnya. "Dengan dukungan mitra yang tepat, berharap Aceh juga mampu membangun fasilitas berkelas dunia seperti ini," tuturnya. Tujuan jangka panjangnya adalah mencapai swasembada pangan di tingkat lokal dan regional.

Lebih dari itu, pengembangan industri unggas Aceh ini juga diharapkan mampu menembus pasar ekspor. Ini akan memberikan dampak positif signifikan terhadap perekonomian daerah dan menciptakan lapangan kerja baru. Proyek ini bukan sekadar rencana, melainkan sebuah inisiatif nyata yang akan segera diwujudkan.

Rahmadhani menambahkan bahwa proyek ini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas. "Ini bukan lagi sekadar rencana di atas kertas, tetapi sebuah proyek nyata yang akan segera kita wujudkan," tegasnya. Komitmen ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Aceh dalam mendorong sektor pertanian dan peternakan sebagai pilar ekonomi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi