Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang, Jawa Tengah, membantah isu pasokan air bersih tercemar yang beredar di media sosial. Isu tersebut muncul menyusul penemuan mayat di Reservoir Siranda. Direktur Utama PDAM Kota Semarang, Yudi Indardo, dengan tegas menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar dan meminta masyarakat, khususnya pelanggan, untuk tidak termakan hoaks.
Yudi Indardo menjelaskan bahwa Reservoir Siranda tidak difungsikan sebagai sumber pasokan air utama saat kasus penemuan mayat tersebut terjadi. Sejak Maret 2025, fasilitas peninggalan Belanda ini hanya berstatus sebagai "back up" atau cadangan. Fungsinya hanya untuk situasi darurat dalam sistem distribusi air bersih PDAM Semarang.
Sementara itu, pihak kepolisian juga tengah mendalami kasus penemuan mayat ini. Kepala Bidang Humas Polda Jateng, Kombes (Pol) Artanto, membenarkan adanya rentang waktu yang cukup lama antara penggunaan terakhir reservoir dan penemuan mayat. Penyelidikan mendalam masih terus berlangsung untuk mengungkap penyebab kematian korban.
Advertisement
Advertisement
Klarifikasi PDAM Terkait Fungsi Reservoir Siranda
PDAM Tirta Moedal Kota Semarang memberikan penjelasan rinci mengenai status operasional Reservoir Siranda. Direktur Utama Yudi Indardo menyatakan bahwa fasilitas tersebut tidak lagi digunakan secara aktif untuk distribusi air utama sejak Maret 2025. Reservoir Siranda kini berfungsi sebagai cadangan strategis, yang hanya akan diaktifkan jika terjadi kejadian luar biasa pada sistem pendistribusian air bersih PDAM Semarang.
Yudi Indardo menambahkan, Reservoir Siranda sempat difungsikan sebentar pada 5 Juli 2025. Penggunaan tersebut hanya berlangsung sekitar tujuh hingga delapan jam. Hal ini dilakukan untuk mendukung perbaikan utama, yaitu pemasangan pipa meter besar di wilayah Semarang Barat. Setelah pekerjaan selesai, operasional reservoir langsung dihentikan.
Penemuan mayat di Reservoir Siranda terjadi pada 16 Agustus 2025, jauh setelah penggunaan terakhir pada 5 Juli. Meskipun tidak difungsikan penuh, petugas PDAM tetap melakukan pengecekan harian. Pengecekan ini terbatas pada bagian luar area reservoir untuk memastikan kondisi fisiknya.
Advertisement
Reservoir Siranda tetap diisi air, meskipun tidak mencapai kapasitas penuh 3.750 meter kubik. Pengisian air ini bertujuan untuk menjaga agar bangunan bersejarah peninggalan Belanda tahun 1912 itu tidak rusak. Ini menunjukkan komitmen PDAM Semarang dalam merawat infrastruktur penting mereka.
Advertisement
Penyelidikan Kepolisian Ungkap Kronologi Penemuan Mayat
Pihak kepolisian, melalui Kepala Bidang Humas Polda Jateng Kombes (Pol) Artanto, membenarkan adanya rentang waktu yang signifikan antara penemuan mayat dan penggunaan terakhir Reservoir Siranda. Keluarga korban, Dion Kusuma Pratama (21), melaporkan kehilangan anggota keluarga pada 30 Juli 2025. Laporan ini menjadi titik awal penyelidikan kepolisian.
Polisi menemukan petunjuk penting dari rekaman kamera CCTV di sekitar lokasi. Rekaman tersebut berasal dari tanggal yang sama saat korban dilaporkan hilang. Awalnya, korban terlihat berboncengan motor dengan dua orang lainnya. Korban kemudian turun, sementara dua rekannya pergi meninggalkan lokasi.
Rekaman CCTV selanjutnya menunjukkan korban mencoba memanjat tembok pagar warga, namun tidak berhasil. Setelah itu, korban terlihat berjalan menuju arah Reservoir Siranda. Pada titik ini, korban menghilang dari pantauan monitor CCTV, yang mengindikasikan ia masuk ke area reservoir.
Advertisement
Saat ditelusuri, polisi akhirnya menemukan korban di dalam reservoir. Hingga kini, kepolisian masih mendalami penyebab kematian korban. Delapan orang saksi telah dimintai keterangan, dan jenazah korban telah diautopsi. Hasil autopsi sangat dinantikan untuk mengungkap bagaimana korban bisa meninggal dunia atau masuk ke dalam Reservoir Siranda.
Sumber: AntaraNews