Advertisement
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023 sebesar 5,17 persen (yoy). Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengatakan salah satu komponen pendorongnya yakni konsumsi rumah tangga sebesar 5,23 persen. Konsumsi rumah tangga tersebut didorong sejumlah momentum yang ada di kuartal II. Semisal momen bulan puasa, lebaran Idulfitri dan Iduladha.
Advertisement
kata Edy dalam Konferensi Pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II di Gedung BPS, Jakarta, Senin (7/8).
Advertisement
"Jadi mobilitas masyarakat cukup tinggi selama libur di triwulan II-2023," kata Edy.
Komponen pendukung lainnya, yakni Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 4,63 persen. PMTB ini didorong oleh pertumbuhan barang modal, peralatan dan mesin. Lalu ada kontribusi dari konsumsi pemerintah sebesar 10,62 persen dan konsumsi lembaga non profit tumbuh 8,62 persen. Sementara itu, alih-alih tumbuh positif, Edy menyatakan komponen perdagangan luar negeri justru mengalami kontraksi sebesar 2,75 persen untuk kegiatan ekspor.
Perdagangan luar negeri untuk ekspor barang mengalami kontraksi. Tercermin pada pada barang non migas yaitu pada komoditas bahan bakar mineral, lemak, dan minyak nabati atau CPO, serta besi dan baja serta nikel. Sementara untuk migas, beberapa komoditas seperti gas alam, minyak dan minyak mentah mengalami kontraksi.
Advertisement
Advertisement
Sementara itu, ekspor jasa tumbuh positif. Hal ini seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara, dan devisa yang masuk dari luar negeri.
"Kami mencatat wisatawan mancanegara pada triwulan II terjadi peningkatan yang cukup signifikan secara jumlah, barangkali ini juga yang mempengaruhi jasa kita naik,"
kata Edy.
Advertisement
Advertisement
Sementara ekspor barang mengalami kontraksi 5,64 persen jika dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun 2022.
Sehingga, dari pertumbuhan ekonomi 5,17 persen (yoy) ditopang oleh konsumsi rumah tangga 2,77 persen PMTB 1,39 persen, konsumsi pemerintah 0,73 persen, komponen lainnya menyumbang sekitar 0,32 persen. Sedangkan komponen ekspor mengalami kontraksi -0,04 persen.