DPR sebut kinerja BKPM sangat buruk, tak bisa bawa investor ke RI

Senin, 10 September 2018 19:19 Reporter : Anggun P. Situmorang
DPR sebut kinerja BKPM sangat buruk, tak bisa bawa investor ke RI gedung BKPM. Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Ketua Komisi XI DPR RI, Melchias Marcus Mekeng menilai kinerja Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) sangat buruk tahun ini. Hal tersebut karena lembaga yang dipimpin oleh Thomas Lembong tersebut tak berhasil membawa investor asing masuk ke Indonesia. Malah menurutnya, banyak dana asing keluar dari Indonesia sejauh ini.

"Ini kerja BKPM yang menurut hemat saya sangat jelek. Karena tidak bisa membawa investor datang ke sini," ujar Mekeng saat rapat kerja dengan perwakilan pemerintah di Gedung DPR, Jakarta, Senin (10/9).

Padahal, kata Mekeng, seluruh komponen ekonomi secara keseluruhan menunjukkan angka positif dalam menyerap dana asing. Beberapa di antaranya pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen dan inflasi yang terjaga di 3,5 plus minus 1 persen.

"Kalau lihat profil pertumbuhan ekonomi kita ke sini kan bagus. Masih plus 5 persen. inflasi masih terkendali, tetapi kenapa orang enggak mau datang ke kita. Nah, ini saya titip ke Bu Menteri (Sri Mulyani) saja," jelas Mekeng.

Mekeng menambahkan untuk menarik investasi masuk, pemerintah melalui Kementerian Koordinator bidang Perekonomian yang dipimpin oleh Darmin Nasution perlu melakukan kebijakan lain. Selain itu, kebijakan baru juga diperlukan untuk menarik dana yang sempat keluar karena normalisasi suku bunga Amerika Serikat.

"Tentunya dari sisi pemerintah, ini porsinya Pak Darmin. Karena kebijakan ekonomi apa yang akan diambil Menko Perekonomian untuk membalik USD 37 miliar yang keluar ke kita," jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis menilai, penurunan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di kuartal II-2018 hingga 12,9 persen, merupakan yang pertama terjadi dalam 5 tahun terakhir.

"Ini pertama kali sejak 2013. Ini data kami sejak 2013. Dari 2013 itu enggak pernah kejadian," ujar dia di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (14/8).

Dia mengungkapkan, sejak 2017, pertumbuhan investasi asing memang terus mengalami perlambatan. Hingga akhirnya pada kuartal II ini realisasi investasi ini mengalami penurunan.

"Misalnya kuartal II-2017 itu Rp 109,8 triliun, kuartal III-2017 Rp 111,7 triliun, kuartal IV Rp 112 triliun. Jadi hampir nol pertumbuhannya. Ini perlambatannya sudah kelihatan, terus turun hingga akhirnya minus," kata dia.

Menurut Azhar, negara asal PMA yang banyak mengalami penurunan adalah Korea Selatan. Jika sebelumnya, Negeri Ginseng selama masuk dalam lima besar PMA, namun kali ini investasinya turun signifikan dari USD 900 juta di kuartal I 2018 menjadi USD 211,9 juta di kuartal II 2018 dan melorot ke posisi 8.

"Korea Selatan itu turun paling jauh, makanya dia enggak masuk lagi lima negara investasi paling besar di Indonesia," ungkap dia. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini