DKI Jakarta, penyumbang terbesar ekonomi nasional

Kamis, 12 Juli 2012 07:12 Reporter : Harwanto Bimo Pratomo
DKI Jakarta, penyumbang terbesar ekonomi nasional

Merdeka.com - Pemilihan gubernur DKI Jakarta cukup menarik perhatian publik seluruh Indonesia. Warga Jakarta khususnya, menanti sosok yang akan memimpin ibukota selama periode lima tahun ke depan. Memimpin DKI Jakarta bukan persoalan mudah, tidak semudah membalik telapak tangan. Salah satunya karena sebagai ibukota negara, DKI Jakarta merupakan pusat pemerintahan, dan juga pusat ekonomi dan bisnis. Pergerakan perekonomian terbesar negeri ini dikendalikan dari ibukota.

Tidak heran jika perebutan calon pemimpin DKI Jakarta menjadi menarik. Mengingat besarnya kekuatan ekonomi yang ada di provinsi yang sudah berumur 485 tahun ini. Teka-teki siapa figur yang akan duduk di kursi DKI-1 memang masih tanda tanya. Sosok yang dipercaya memimpin Jakarta, akan memegang kendali atas dominasi perekonomian nasional.

Penggerak ekonomi nasional ada di ibukota, mulai dari perusahaan nasional, perusahaan asing, pusat perbankan, penggerak sektor jasa dan perdagangan, hingga penggiat usaha kecil dan menengah. Jakarta layaknya kota yang tidak pernah tidur dan terus beraktivitas.

Dalam pandangan pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, Jakarta sebagai ibukota Indonesia memiliki kontribusi yang besar bagi perekonomian nasional. Perekonomian Jakarta yang besar banyak didominasi sektor pelayanan jasa. Kuat dan besarnya perekonomian Jakarta, tidak terlepas dari sektor infrastruktur Jakarta yang cukup mumpuni.

Tidak heran jika Jakarta menjadi pilihan kantor cabang Multi National Coorporation (MNC). Selain itu Jakarta memiliki pelabuhan laut sebagai jalur perdagangan internasional dan pusat bisnis berada disini.

"Terutama sektor jasa tidak ada yang bisa mengalahkan Jakarta dengan fasilitas, kedekatan administrasi, dan keterhubungan terhadap pusat perekonomian dunia," ujar Latif saat dihubungi merdeka.com di Jakarta, Rabu (11/7) malam.

Perekonomian Jakarta semakin kuat seiring menguatnya perekonomian nasional setelah pulih dari hantaman krisis keuangan pada 1997-1998. Dalam lima tahun terakhir, tingkat pertumbuhan ekonomi Jakarta mengalami peningkatan cukup signifikan. Ekonomi Jakarta pada 2007 tumbuh 6,4 persen dan meningkat hingga menyentuh 6,7 persen atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2011.

Dilihat dari produk domestik regional bruto (PDRB), Jakarta menyumbang sekitar 15-17 persen dari PDB Indonesia. Kondisi ini menjadikan Jakarta sebagai penyumbang terbesar PDB Indonesia, jauh di atas peran provinsi lain. Ditelisik lebih dalam, Jakarta Pusat merupakan daerah dengan PDRB terbesar di DKI Jakarta dengan pangsa hampir 26 persen dari ekonomi Jakarta.

Kekuatan ekonomi Jakarta ditopang oleh sektor konsumsi baik konsumsi masyarakat maupun pemerintah. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat di ibukota membuat sektor ini memiliki peran 60 persen dalam pertumbuhan ekonomi Jakarta. Di sisi lainnya, ekonomi Jakarta juga didominasi oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan perdagangan hotel dan restoran serta industri pengolahan.

Besarnya kekuatan ekonomi Jakarta menjadikan daerah ini sebagai magnet bagi investor untuk menanamkan modalnya dan berinvestasi. Setidaknya, nilai investasi asing yang mengalir ke Jakarta pada tahun lalu mencapai USD 4,82 miliar. Sedangkan untuk investasi dalam negeri, tercatat mampu mencapai Rp 9,26 triliun.

Semakin baiknya perekonomian di ibukota, menempatkan Jakarta di peringkat 17 dari 200 kota metropolitan dengan kinerja ekonomi terbaik di dunia berdasarkan laporan Global Metro Monitor 2011.

Besarnya kekuatan ekonomi Jakarta juga tercermin dari pendapatan warga Jakarta atau pendapatan per kapita yang melebihi rata-rata nasional. Pendapatan per kapita nasional yang mencapai kisaran Rp 24,3 juta per kapita jauh lebih rendah dibandingkan pendapatan penduduk Jakarta Pusat yang mencapai Rp 222,6 juta per kapita.

Di tengah catatan manis dan kencangnya laju pertumbuhan ekonomi Jakarta, Latif mengingatkan bahwa Jakarta juga memiliki segudang persoalan yang belum menemukan solusi, terutama terkait kesejahteraan penduduknya. Masalah kemacetan, kemiskinan dan banjir masih menghantui warga Jakarta setiap tahunnya.

Latif menitikberatkan dan fokus pada persoalan kemiskinan yang harus menjadi catatan tersendiri bagi calon pemimpin Jakarta. Sebab, kata dia, saat ini tren pengentasan kemiskinan Jakarta berjalan lambat. Di saat yang sama lapangan pekerjaan di Jakarta terus tergerus dengan banyaknya penduduk pendatang baru.

"Perlu pemikiran inovatif dengan pemerintah daerah (pemda) lain bagaimana pemda DKI membatasi penduduk daerah menjadi predator lapangan pekerjaan di Jakarta," tuturnya.

Masalah lapangan pekerjaan ini, tambahnya, menjadi penting untuk mengurangi disparitas kesejahteraan penduduk yang tinggi. "Bagaimana membuat Jakarta tidak hanya ramah bisnis tapi juga manusianya," imbuhnya. [arr]

Topik berita Terkait:
  1. Pilgub DKI
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini