Daftar Negara-Negara Paling Bahagia Versi Laporan Tahun 2025 dari Finlandia, Kosta Rika hingga Taiwan
Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 Kembali menempatkan Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia.
Kebahagiaan adalah tujuan universal umat manusia, namun mengukurnya bukanlah hal yang mudah. Hal ini memerlukan kombinasi metrik objektif dan pengalaman subjektif untuk memberikan gambaran lebih dalam mengenai kesehatan masyarakat di luar indikator ekonomi semata. Salah satu cara untuk mengukur kebahagiaan global adalah melalui Laporan Kebahagiaan Dunia (World Happiness Report), yang menyajikan peringkat kebahagiaan negara-negara berdasarkan berbagai faktor, termasuk evaluasi kehidupan, dukungan sosial, kebebasan memilih, PDB per kapita, dan kesejahteraan lainnya.
Laporan Kebahagiaan Dunia 2025 Kembali menempatkan Finlandia sebagai negara paling bahagia di dunia untuk kedelapan kalinya berturut-turut. Dengan skor stabil 7,7 yang tidak berubah dari tahun lalu, Finlandia tetap unggul di peringkat pertama. Negara-negara Nordik lainnya Denmark, Islandia, dan Swedia masih menduduki posisi tinggi, menunjukkan konsistensi dalam tingkat kebahagiaan mereka.
Namun, ada beberapa perubahan signifikan dalam peringkat tahun ini. Salah satunya adalah Kosta Rika, yang melonjak naik ke peringkat ke-6, mencatatkan posisi tertinggi dalam sejarahnya. Negara yang dikenal dengan kebahagiaan warganya ini kini menjadi negara paling bahagia di Amerika Latin, melampaui AS dan Kanada.
Di sisi lain, Australia mengalami penurunan peringkat dari posisi ke-10 menjadi ke-11, sementara Israel turun dari peringkat ke-5 menjadi ke-8, meskipun masih berada dalam 10 besar. Penurunan ini mencerminkan dampak dari ketidakstabilan yang terjadi, seperti konflik yang berlangsung di Gaza, yang mempengaruhi skor rata-rata mereka selama tiga tahun terakhir.
Peringkat Negara Bahagia di Amerika
Peningkatan peringkat kebahagiaan juga terlihat di beberapa negara Amerika Latin. Kolombia, Meksiko, dan Ekuador masing-masing mencatatkan kenaikan signifikan, dengan Meksiko masuk ke dalam 10 besar untuk pertama kalinya, melonjak dari peringkat ke-25 ke posisi ke-10. Kolombia dan Ekuador juga mengalami peningkatan besar, masing-masing naik 17 dan 12 peringkat.
Di kawasan yang lebih bermasalah, seperti Timur Tengah dan Afrika, tantangan ekonomi dan politik terus memengaruhi tingkat kebahagiaan. Afghanistan, yang menduduki peringkat terendah, tetap menjadi negara paling tidak bahagia di dunia sejak 2020, dengan skor yang tertekan oleh konflik yang terus berlangsung, pembatasan kebebasan, dan kesulitan ekonomi.
Sementara itu, di Afrika, Mauritius mencatatkan posisi kebahagiaan terbaik di benua ini di peringkat ke-78, berkat tingkat kemakmuran yang lebih baik dibandingkan negara tetangganya.
Namun, negara-negara seperti Sierra Leone dan Sudan tetap terjebak di peringkat bawah, mencerminkan tantangan kemiskinan, korupsi politik, dan kurangnya infrastruktur.
Metodologi Survei
Meski kebahagiaan global dipengaruhi oleh banyak faktor, perubahan dalam laporan tahun ini memberikan gambaran mengenai bagaimana negara-negara menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan politik mereka. Negara-negara seperti Kosta Rika dan Kolombia menunjukkan adanya optimisme yang terus berkembang meskipun banyak yang menghadapi kesulitan. Dengan demikian, kebahagiaan bukan hanya soal kondisi ekonomi, tetapi juga tentang dukungan sosial dan stabilitas yang membentuk kehidupan masyarakat.
Laporan Kebahagiaan Dunia memperoleh peringkatnya dari data Gallup World Poll, yang mensurvei sekitar 1.000 orang per negara per tahun di lebih dari 140 negara. Total ukuran sampel biasanya melebihi 140.000 responden setiap tahunnya. Peringkat tersebut didasarkan pada rata-rata tiga tahun, dari 2022 hingga 2024.
Responden mengevaluasi kehidupan mereka menggunakan Cantril Ladder, skala 0 hingga 10. Peringkat tersebut didasarkan pada enam faktor utama: PDB per kapita, harapan hidup sehat, dukungan sosial, kebebasan untuk membuat pilihan hidup, kemurahan hati (diukur dengan tindakan amal), dan persepsi korupsi.
Selain evaluasi kehidupan, laporan tersebut meneliti kesejahteraan emosional melalui indikator afek positif dan negatif, seperti tawa, kekhawatiran, dan kesedihan. Edisi 2025 juga menekankan kepercayaan sosial dan kebajikan, menganalisis perilaku seperti berbagi makanan, membantu orang asing, dan mengembalikan dompet yang hilang untuk menilai bagaimana kepedulian dan keterlibatan komunitas berkontribusi pada kebahagiaan.
Kritik terhadap Laporan Kebahagiaan Dunia menunjukkan bahwa pertanyaan survei mengukur kepuasan dengan kondisi sosial ekonomi, bukan kebahagiaan emosional individu. Selain itu, ada banyak sekali perbedaan budaya di seluruh dunia yang memengaruhi cara orang berpikir tentang kebahagiaan dan kepuasan hidup.
Terakhir, mungkin ada perbedaan besar dalam kepuasan hidup antara kelompok-kelompok dalam suatu negara, yang dirata-ratakan bahkan dalam kelompok yang mewakili negara. Laporan tersebut mengakui ketidaksetaraan sebagai faktor dengan mengukur "kesenjangan" antara separuh yang paling bahagia dan yang paling tidak bahagia di setiap negara.