China Minati Produk Ikan Teri Asal Nusa Tenggara Timur

Sabtu, 7 September 2019 13:40 Reporter : Merdeka
China Minati Produk Ikan Teri Asal Nusa Tenggara Timur Nelayan ikan teri di Pandeglang. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Kepala Desa Hadakewa, Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Klemens Kwaman mengatakan produk ikan teri yang dihasilkan badan usaha milik desa setempat (BUMDes) setempat diminati pihak perusahaan dari China. Dia mengaku belum mampu memenuhi permintaan dari negara tirai bambu tersebut.

“Perusahaan dari China meminta produk ikan teri dari BUMDes kami, namun dalam jumlah besar sehingga belum bisa dipenuhi dengan produksi kami saat ini,” ujarnya dikutip dari Antara, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (7/9).

Saat ini produk ikan teri yang dihasilkan berupa teri mentah paling sedikit sekitar empat ton, yang selanjutnya diolah menghasilkan teri kering sekitar 1,5 ton. Pihak perusahaan dari China yang sudah pernah datang langsung ke Hadakewa meminta agar pasokan lebih banyak dari produksi saat ini sehingga belum bisa tercukupi.

"Karena itu kami belum bisa menandatangani nota kerja sama karena kami harus pastikan dulu persediaannya mencukupi dan berkelanjutan," paparnya.

Klemens mengatakan pihaknya terus mengupayakan peningkatan produktivitas ikan teri dengan menambah fasilitas pendukung terutama untuk pasokan bahan baku. Sementara itu pada 2019 ini BUMDes setempat juga mendapatkan dana bantuan sekitar Rp400 juta dari Pemerintah Kabupaten Lembata yang akan digunakan untuk menambah armada kapal bagan.

Klemens menyebutkan bahwa sejak usaha ikan teri dikerjakan pada 2017 lalu, terdapat sekitar 30 kapal bagan yang memasok bahan baku, namun sebagian besar merupakan nelayan dari luar Hadakewa.

“Karena itu dari bantuan ini akan kami gunakan untuk menambah empat armada kapal bagan lagi yang akan dikelola warga Hadakewa sendiri,” ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa produksi ikan teri lebih banyak dipanen saat musim barat atau musim hujan, namun memiliki kesulitan dalam proses pengeringan yang membutuhkan panas matahari yang cukup.

“Karena ini kami upayakan dengan penambahan armada nantinya produksi akan lebih banyak saat musim panen, sehingga bisa menjawab permintaan pasar termasuk ekspor,” tutupnya.

Reporter:Evie Haena Rofiah [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini