Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cara Freeport lestarikan budaya dan tambah penghasilan masyarakat Papua

Cara Freeport lestarikan budaya dan tambah penghasilan masyarakat Papua Freeport. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - PT Freeport Indonesia melalui binaannya Yayasan Maramowe Weaiku Komorowe menggelar pameran seni ukiran Kamoro yang telah berlangsung sejak 24 November 2017 di Alenia Coffee & Kitchen, Kemang, Jakarta Selatan. Langkah ini merupakan upaya perusahaan untuk melestarikan budaya Papua.

Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama mengatakan, pihaknya berkomitmen membantu kelangsungan pelestarian budaya kerajinan ukir suku Kamoro. Hasil penjualan dari kegiatan pameran ini katanya juga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengukir.

"Sehingga kegiatan budaya ini dapat berkelanjutan. Keuntungan penjualan barang kerajinan ukir di pameran juga kembali ke para Pengukir," katanya dalam keterangan dikutip merdeka.com di Jakarta, Selasa (5/12).

Pameran ini menghadirkan empat pengukir asli Suku Kamoro, dari Kampung Timika Pantai dan Kampung Pulau Karaka. Mereka adalah, Herman Kiripi (38), Kornelis Kiripi (40), Klemens Nawatipia (43) dan Daniel Matameka (26).

Pendiri dan pembina Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Luluk Intarti memaparkan, pameran ini bertujuan agar masyarakat luas dapat mengenal lebih dekat dengan seni dan budaya suku Kamoro, serta dapat menikmati dan membeli hasil karya seni ukir Papua, khususnya seni ukir khas suku Kamoro. Hingga saat ini menurut Luluk, kerajinan ukir Papua tinggal tersisa budaya ukir dari tiga suku saja, suku Asmat yang sudah dikenal banyak orang, suku Kamoro dan suku Sempan.

Ketiga suku itu berasal dari pesisir Selatan Papua, sedangkan di bagian lain Papua, seperti di pesisir Utara Papua, budaya ukir sudah punah sejak menguatnya pengaruh agama.

"Untuk seni ukir Kamoro saja sempat menurun produksinya di bawah tahun 50-an. Belum punah, tapi hampir mati. Sehingga kita harus lestarikan agar jangan sampai hilang budaya ini, seperti yang terjadi di pesisir Utara," ujar Luluk.

Untuk terus menyemangati para pengukir Kamoro dalam berkarya, Yayasan Maramowe membantu melakukan pembinaan terhadap para pengukir agar mereka senantiasa dapat meningkatkan kualitas ukirannya, dan membuka akses pasar agar kerajian ukiran ini dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat suku Kamoro.

Di Pameran ini, masyarakat dapat menikmati dan membeli kerajinan ukiran khas suku Kamoro, dan menyaksikan langsung bagaimana proses empat pengukir asli Kamoro mengukir kayu. Masyarakat juga dapat berinteraksi langsung dengan para pengukir yang senantiasa ramah menjelaskan.

(mdk/idr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP