Bos BI soal Rupiah Menguat ke Rp13.772 per USD: Bukti Ekonomi Indonesia Membaik

Jumat, 10 Januari 2020 17:03 Reporter : Anisyah Al Faqir
Bos BI soal Rupiah Menguat ke Rp13.772 per USD: Bukti Ekonomi Indonesia Membaik Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. ©2019 Merdeka.com/Dwi Aditya Putra

Merdeka.com - Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mencatat bahwa nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS atau USD hari ini menguat ke level Rp13.772 dari sebelumnya Rp 13.854. Menurut Perry, penguatan Rupiah ini mencerminkan fundamental ekonomi dalam hal pertumbuhan ekonomi masih terjaga bagus.

"Kita perkirakan 5,1 (persen) sampai 5,5 (persen)," kata Perry di Komplek Bank Indonesia, Jakarta (10/1).

Perry juga menyebut fundamental ekonomi terlihat dari inflasi Indonesia yang rendah di kisaran dan sasaran 3 persen plus minum satu. Fundamental ekonomi juga terlihat dari cadangan devisa yang masih tinggi.

"Kami pandang penguatan Rupiah ini konsisten dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memang membaik," papar Perry.

Penguatan Rupiah juga berlangsung konsisten dengan mekanisme pasar yang berjalan dengan baik. Suplai dan pasokan dari valas lebih besar dari permintaan.

Perry memastikan penguatan Rupiah ini juga menunjukkan sikap positif antara kebijakan pemerintah dan kebijakan Bank Indonesia. "Komitmen kami menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar," katanya.

Hal ini dibuktikan sejak tahun 2018 dan 2019 rupiah bergerak stabil sesuai dengan mekanisme pasar. Untuk itu Bank Indonesia akan terus mengawal rupiah agar sejalan dengan fundamental sejalan dengan mekanisme pasar.

1 dari 1 halaman

Cadangan Devisa Naik USD 2,6 Miliar

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2019 sebesar USD 129,2 miliar. Angka tersebut meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2019 sebesar USD 126,6 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Onny Widjanarko, mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Serta, besaran tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," ujarnya di Jakarta, Rabu (8/1).

Perkembangan cadangan devisa pada Desember 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan penerimaan valas lainnya.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik," tutupnya. [idr]

Baca juga:
Gubernur BI Pastikan Ketegangan Geopolitik Global Tak Berdampak ke Ekonomi RI
Bos BI: Banjir Jakarta Berdampak Pada Harga Beras
Mari Pangestu Jadi Direktur Bank Dunia Bakal Bawa Angin Segar ke RI
Per 9 Januari, Aliran Modal Asing Masuk Indonesia Tembus Rp10,1 Triliun
Bank Indonesia Ramal Inflasi Januari 0,41 Persen, Terendah Sejak 2016
Naik USD 2,6 M, Cadangan Devisa per Desember 2019 Tercatat USD 129,2 M

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini