Bermodal Tabungan Sendiri, Bisnis Hijab Winda Kini Tembus Pasar Singapura

Minggu, 25 Agustus 2019 08:00 Reporter : Merdeka
Bermodal Tabungan Sendiri, Bisnis Hijab Winda Kini Tembus Pasar Singapura Bisnis Hijab Elana Oleh Dwinda Chitramega Nuh. ©Instagram/Dwinda Chitramega Nuh

Merdeka.com - Pemakaian hijab dan busana muslim kini menjadi salah satu tren fesyen di Indonesia. Popularitas fesyen ini sudah meningkat sejak awal tahun 2000 dan didukung masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Dengan demikian, permintaan hijab akan terus bertambah. Bahkan, Indonesia diramal akan menjadi pusat pakaian muslim dunia pada 2020 mendatang.

Tren hijab hingga kini masih terus berkembang. Hijab dengan desain yang apik dan modis menjadi buruan para wanita. Rupanya, desain hijab ini menjadi salah satu peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Ini dibuktikan oleh wanita dengan nama lengkap Dwinda Chitramega Nuh atau akrab disapa Winda yang sudah menjalankan bisnisnya sejak 2017 silam.

Kepada merdeka.com, dia bercerita bahwa membangun bisnis hijab ini dilakoninya karena permintaan yang cukup tinggi. Selain itu, hijab sudah menjadi kebutuhan pokok perempuan muslim. Akhirnya, dia membangun bisnis dengan mengusung nama Hijab Elana. Arti dari Elana sendiri adalah cahaya. Dia berkata bahwa tak ada cerita khusus tentang pemilihan nama Elana. Kesukaannya dengan filosofi cahaya yang membawanya pada nama bisnisnya tersebut.

"Jadi, awalnya saya mencari nama-nama yang memiliki arti cahaya. Lalu, merasa cocok begitu ketemu nama Elana. Pemilihan nama ini berharap jadi doa agar Elana bisa bermanfaat untuk orang lain. Tidak hanya bisnis yang menguntungkan diri sendiri," jawab Winda saat ditanya merdeka.com.

Bermodal uang tabungan sendiri, Winda mulai menjalankan bisnisnya. Modal terbesar yang dia investasikan pada peralatan fotografi dan studio kecil di rumah. Modal ini didapat dari tabungannya saat menjadi karyawan swasta. Merasa tabungannya cukup untuk hidup tiga bulan, Winda akhirnya memutuskan untuk berbisnis ini.

Dia mulai bergerak dengan memilih bahan di toko kain, mencari penjahit dan mencari orang yang tepat untuk bisa memproduksinya. Setelah mendapatkan semua, Winda mulai mendesain hijab sendiri. Kemudian dia mencoba menjual ke toko hijab atau mencari reseller di media sosial dengan sistem beli putus. Winda menyampaikan bahwa kunci berjualan online itu harus mampu menarik perhatian konsumennya. Lantas, langkah utamanya adalah membuat katalog produk yang bagus. Jadi, modal terbesarnya bukan pada produksi hijab.

"Dulu karena memulainya sendiri dan belum ada partner, jadi bongkar tabungan sendiri. Memaksimalkan segala resource yang ada dan yang gampang," tuturnya.

©Instagram/Dwinda Chitramega Nuh

Waktu terus berjalan, modalnya pun terus berkembang. Hingga akhirnya Winda menggaet dua rekan baru dalam bisnis hijabnya. Untuk meningkatkan produksi, dia kembali 'membakar uang' untuk menambah modal. Perhatian utamanya ada pada kualitas bahan dan hasil cetak yang bagus. Ketika ditanya untuk angka yang spesifik, Elena enggan menjelaskannya. Dia hanya memberi gambaran bahwa rata-rata biaya bahan dan percetakan sekitar Rp 80.000 - Rp 130.000. Sementara biaya jahit dan finishing Rp 8.000 – Rp 25.000. "Ini belum termasuk biaya kerjasama dengan illustrator dan kemasan," jawabnya.

Namun demikian, bisnis tak selalu berjalan mulus. Pernah saat itu dia tidak mencatat atau lalai terhadap produksi, berapa meter kain yang telah dibeli, dan modal yang dikeluarkan. Semua dijalankan tanpa rencana, tujuan, dan juga arahan. Hingga akhirnya sampai pada titik ketika dia terjatuh dan tersadarkan karena dead stock. Artinya, dirinya tak lagi memiliki modal untuk membeli kain.

"Ketika terjatuh tersebut, akhirnya saya reset. Saya ulang dari awal. Buat rencana bisnis, dan pelan-pelan menghasilkan apa yang saya targetkan,” jawab wanita berusia 37 tahun.

Berkat ketekunannya, bisnis kembali berkembang. Pertumbuhan omzet Elana selama 12 bulan terakhir tembus 500 persen. Menurut Winda, jika bisnis semakin tumbuh besar, tentu membutuhkan tenaga kerja tambahan. Tujuannya agar hasilnya tetap maksimal karena peminat Elana yang semakin tinggi.

"Saat ini hanya 5 orang. Di waktu-waktu tertentu, kami mempekerjakan freelancer. Dua orang di administratif, seperti menerima dan memproses pesanan, quality checking dan packing produk. Tiga orang di lingkup yang lebih strategis, seperti desain, produksi, marketing dan promosi," ungkapnya.

Meski bukan seorang lulusan sarjana manajemen, bisnis, atau sekolah entrepreneurship, ada kiat-kiat tertentu bagi Winda untuk bisa bertahan dalam bisnis hijab ini. Belajar dari pengalaman menurutnya memang sebuah mantra yang ajaib. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya dahulu di perusahaan retail cukup memberinya bekal dalam berbisnis. Tak hanya berhenti di situ saja, ilmu mengenai bisnis juga kerap didapatkan melalui diskusi dengan orang-orang yang sudah punya pengalaman dalam berbisnis. Baginya, seseorang yang sudah terjun langsung lebih dulu dalam bisnis, menjadi tempat dia belajar sampai saat ini.

"Belajar dari kegagalan di setiap milestone bisnis juga jadi pelajaran buat saya, tapi bedanya belajar ini pakai rugi dan stress. Asalkan, prinsipnya tetap satu, yaitu harus siap kerja keras dan konsisten," ujarnya.

Selain itu, menurutnya pendekatan kepada konsumen pun menjadi kunci bagi Elana. Pendekatan ini berfungsi untuk mengenali siapa konsumennya. Hasilnya pun akan mempermudah Elana dalam menciptakan dan menjual sebuah produk. "Sebelum saya menemukan siapa konsumen Elana, saya secara masif mendekatkan diri ke calon konsumen. Siapa pun yang memakai hijab, pasti saya tawarkan. Banyak cara yang dulu saya lakukan, mulai dari beriklan, sampai mendekatkan diri dengan konsumen dari kompetitor," jawabnya

"Dulu saya menangani langsung customer Elana, jadi secara random bisa mengenali mereka. Walaupun transaksi terjadi secara online, saya cukup disiplin untuk mencatat transaksi dan data customer sehingga saya bisa melakukan mapping terhadap customer Elana saat itu," tambahnya.

Berkat kerja keras dan strategi yang dilakukan, kini produk Elana telah melebarkan sayapnya hingga negeri tetangga, yakni Malaysia dan Singapura. "Awalnya masuk Malaysia karena ada offline store hijab di sana yang approach Elana. Kebetulan mereka juga menjual merek lokal Indonesia lainnya, jadi tidak ada salahnya Elana bergabung ke mereka," ujar Winda.

"Sementara yang langsung beli ke Elana dari Malaysia secara perorangan (melalui online) juga berjalan seperti biasa," tambahnya.

Memang, memperluas pasar adalah salah satu target Elana. Di lain kesempatan pun, Winda mencari channel yang memungkinkan bisa menerima produk Elana. Winda sendiri mengatakan bahwa Malaysia dan Singapura memiliki populasi wanita berhijab cukup banyak, sehingga ini menjadi pasar baru yang harus dikelola Elana.

Namun demikian, tentu ada kesulitan yang harus dihadapi ketika bisnis mulai meluas. Winda belum secara maksimal memahami dan menggarap pasar di negeri tetangga. "Yang kami pahami saat ini, baik tren dan permintaan hijab antara Malaysia dan Indonesia sedikit berbeda. Jadi, saat ini masih dalam tahap penetrasi kalau di offline. Sementara produk yang diciptakan benar-benar disesuaikan dengan demand Indonesia," tuturnya.

©Instagram/Dwinda Chitramega Nuh

Secara produk, Winda berusaha menyajikan produk yang berbeda dan belum pernah dijual oleh kompetitor. Namun terkadang, Winda juga menyediakan produk pelengkap, yaitu produk-produk mainstream untuk konsumen. Untuk membuatnya semakin berbeda dari yang lain, Winda fokus pada shopping experience dan strategi 'We are near'. Untuk strategi ‘We are near’, Elana menyediakan berbagai platform bagi konsumen untuk berbelanja. Hal ini digunakan untuk menyesuaikan kenyamanan konsumen dalam berbelanja melalui platform favoritnya masing-masing.

"Konsumen bisa belanja via Website, Shopee, dan Tokopedia. Yang lebih suka belanja dilayani manusia, kami juga menerima transaksi via WhatsApp dan Line," jawab Winda.

Reporter Magang: Rhandana Kamilia [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini