Bank Indonesia Prediksi Perlambatan Ekonomi Berlangsung Hingga Mei 2020

Kamis, 19 Maret 2020 21:34 Reporter : Anisyah Al Faqir
Bank Indonesia Prediksi Perlambatan Ekonomi Berlangsung Hingga Mei 2020 Gubernur BI Perry Warjiyo. ©Liputan6.com/Maulandy Rizky Bayu Kencana

Merdeka.com - Bank Indonesia mengoreksi prakiraan perlambatan ekonomi yang terjadi di Indonesia akibat virus corona. Dalam kondisi saat ini, bank sentral memprediksi perlambatan akan terus terjadi selama bulan April bahkan sampai Mei 2020.

"Kemungkinan masih akan berlangsung di bulan April dan sebagian bulan Mei," kata Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Kamis (19/3).

Prediksi ini dikeluarkan Bank Indonesia sejalan dengan penetapan kondisi darurat yang ditetapkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada 29 Mei 2020. Perry mengaku semula tidak memperkirakan penyebaran virus corona sangat masif.

"Sebulan yang lalu kita semua belum memahami, mengetahui dan mendapatkan informasi bahwa penyebaran covid-19 di negara maju khususnya AS dan Eropa demikian cepatnya," tutur Perry.

Berdasarkan informasi pada saat itu, Bank Indonesia memandang pola dampak covid-19 bersifat V-shape. Sebab BI berkaca pada asesmen kesehatan, ekonomi dan berbagai pihak.

Saat itu Bank Indonesia melihat dampak virus ini akan terasa pada Februari dan Maret. Lalu mulai kembali pulih dan menunjukkan peningkatan dalam durasi waktu 6 bulan setelahnya.

Apalagi saat itu sudah terlihat aktivitas ekonomi di negara asal virus corona. Sejumlah ekspor ke China juga sudah kembali berjalan. Begitu juga dengan aktivitas produksi.

1 dari 1 halaman

Stimulus Ekonomi

rev1

Namun memang, jika melihat Eropa dan Amerika pelemahan perekonomian masih berlangsung. Bahkan terakhir The Fed kembali menurunkan suku bunga acuan sampai 100bps.

Tak hanya itu, Pemerintah Amerika juga memberikan suntikan dana lewat stimulus hingga USD 1 triliun. Tentu saja ini sangat berdampak bagi negara-negara lainnya.

Penurunan suku bunga juga dilakukan Eropa bahkan melakukan injeksi likuiditas. Eropa juga melakukan kombinasi penyebaran covid-19 secara kesehatan dengan langkah kebijakan ekonomi baik moneter maupun fiskal.

"Hal ini tentu akan memengaruhi pola negara itu di dalam melihat perkembangan ekonomi ke depan," kata Perry.

Sementara di Indonesia, pemerintah telah mengeluarkan sejumlah kebijakan. Misalnya memberlakukan kerja dari rumah atau work from home untuk mengurangi potensi penyebaran virus. Lalu memberikan kebijakan dua kebijakan stimulus ekonomi dan membagikan bantuan sosial.

"Ibu Menkeu sudah mengeluarkan stimulus fiskal paket 1 dan 2 yang jumlahnya saya kira mencapai Rp27 triliun secara total sekaligus untuk bantuan sosial," papar Perry.

Untuk itu Bank Indonesia merevisi prakiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2020 tumbuh di angka 2,5 persen dari sebelumnya 3 persen. Begitu juga dengan pertumbuhan ekonomi di Amerika juga terkoreksi dari 2,1 persen menjadi 1,6 persen.

Pun dengan pertumbuhan ekonomi China semula 5,6 persen terkoreksi jadi 5,1 persen. Sementara di Indonesia pertumbuhan ekonomi juga terkoreksi jadi 4,2 persen hingga 4,4 persen dari semula 5,0 persen hingga 5,4 persen.

Bank Indonesia memastikan bersama OJK dan Pemerintah bekerja ekstra keras untuk memastikan stabilitas ekonomi, pasar keuangan dan menjaga daya tahan ekonomi Indonesia. [idr]

Baca juga:
Cegah Covid-19, BI Bali Karantina Uang Selama 14 Hari
Bank Indonesia: Inflasi Februari 0,28 Persen
Bank Indonesia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2020
Tanggapan Bank Indonesia Soal Pelemahan Rupiah Saat ini
Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Global Turun Jadi 2,5 Persen
Bank Indonesia Turunkan Suku Bunga Acuan 25 Bps Menjadi 4,5 Persen

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini