Bangkrut, Perusahaan Fesyen Forever 21 Tutup 178 Gerai

Senin, 30 September 2019 18:08 Reporter : Merdeka
Bangkrut, Perusahaan Fesyen Forever 21 Tutup 178 Gerai Ilustrasi belanja. ©2018 Merdeka.com/Pixabay

Merdeka.com - Perusahaan fesyen ritel, Forever 21 Inc mengajukan kebangkrutan pada hari Minggu (29/9). Perusahaan fesyen ini berencana untuk menutup 178 gerai, yang sebagian besar berlokasi di Asia dan Eropa. Namun, mereka tidak berharap untuk keluar dari pasar utamanya yaitu di Amerika Serikat.

Forever 21 menyatakan, restrukturisasi akan memungkinkan perusahaan untuk fokus pada bagian inti yang menguntungkan dari operasinya dan menutup beberapa lokasi internasional.

"Kami telah meminta persetujuan untuk menutup hingga 178 toko. Keputusan mengenai toko mana yang akan ditutup sedang berlangsung, sambil menunggu hasil dari percakapan berkelanjutan dengan tuan tanah," ujar perusahaan dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari CNBC Make it, Senin (30/9).

Forever 21 didirikan pada tahun 1984, yang tercatat telah memiliki 815 toko di 57 negara.

Perusahaan mengatakan bahwa anak perusahaan Kanada juga mengajukan kebangkrutan dan berencana untuk menghentikan bisnis dengan menutup 44 toko di negara tersebut. selain itu pada pekan lalu, Forever 21 mengatakan akan keluar dari Jepang dan menutup 14 toko pada akhir Oktober.

Kendati demikian, Forever 21 tetap akan melanjutkan operasinya di Meksiko dan Amerika Latin.

Sementara itu, perusahaan mendaftarkan aset dan kewajiban sekitar USD 1 miliar hingga USD 10 miliar, menurut pengadilan yang mengajukan di Pengadilan Kepailitan A.S. untuk Distrik Delaware.

Perusahaan mengatakan mereka menerima USD 275 juta dalam pembiayaan dari pemberi pinjaman, JPMorgan Chase Bank, N.A. dan USD 75 juta dalam modal baru dari TPG Sixth Street Partners, dan beberapa dana afiliasinya, untuk membantunya mendukung operasinya dalam kebangkrutan.

Dengan dana ini, Forever 21 mengatakan bahwa mereka akan menjalankan bisnis seperti biasa dan akan fokus pada bagian inti yang menguntungkan dari operasinya.

Sejak awal 2017, hal serupa terjadi pada lebih dari 20 perusahaan retail di Amerika Serikat, termasuk Sears Holdings Corp dan Toys ‘R’ Us, yang juga telah mengajukan kebangkrutan karena lebih banyak masyarakat yang menghindari berbelanja di mal-mal besar dan lebih memilih berbelanja online.

Reporter Magang: Evie Haena Rofiah [idr]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Pertumbuhan Industri
  3. Fashion
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini