Asosiasi Ramal Masih Ada Penutupan Toko Ritel di 2020

Rabu, 4 Desember 2019 20:08 Reporter : Idris Rusadi Putra
Asosiasi Ramal Masih Ada Penutupan Toko Ritel di 2020 Ketua Umum Aprindo, Roy Mandey. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memprediksi sejumlah ritel masih akan melakukan sejumlah penyesuaian bisnis model hingga tahun depan. Oleh karena itu, aksi penutupan toko atau relokasi karena efisiensi kemungkinan masih akan berlanjut.

"Masih akan ada pengaturan-pengaturan, efisiensi. Jadi penutupan toko itu lebih kepada efisiensi karena mengikuti perubahan anomali yang sedang dilakukan perusahaan ritel itu, relokasi dan sebagainya," kata Ketua Umum Aprindo, Roy Mandey di Jakarta, Rabu (4/12).

Roy menuturkan, anomali bisnis masih terjadi di sektor tersebut sehingga hampir semua perusahaan ritel, terutama anggota Aprindo, tengah melakukan daur ulang bisnis mereka agar bisa mengikuti perkembangan zaman.

Akibat anomali ini, Roy mengaku pertumbuhan bisnis ritel pun mengalami perlambatan menjadi hanya sekitar 5,07 persen tahun ini, jauh di bawah level yang seharusnya bisa mencapai 12-14 persen.

"Dengan pengaturan-pengaturan bisnis model atau juga menjadikan toko ritel ukurannya jadi lebih kecil, pemilihan produk yang sesuai kemauan konsumen, itu semua bagian dari anomali itu," katanya.

1 dari 1 halaman

Konsumsi Melambat

Roy menuturkan pertumbuhan bisnis ritel yang rendah itu berasal dari perlambatan konsumsi, bukan daya beli. Dia menilai masyarakat masih memiliki daya beli tinggi, terlebih jika dilihat dari masih ramainya pusat perbelanjaan atau kuliner.

"Masyarakat masih punya uang, membelanjakan uang masih kuat, tapi mereka memindahkan uang yang tadinya untuk berbelanja ke kuliner, gaya hidup atau leisure (hiburan)," katanya.

Roy berharap, momentum libur akhir tahun, yakni Natal dan Tahun Baru akan dapat berdampak positif terhadap pertumbuhan bisnis ritel. Peritel juga akan memanfaatkan momentum tersebut dengan memberikan penawaran berupa diskon agar animo belanja masyarakat bisa ditingkatkan.

"Natal dan Tahun Baru itu biasanya berkontribusi sekitar 35-40 persen dari target kami, karena akhir tahun identik dengan bonus tahunan, liburan, kumpul keluarga jadi tentu ada peningkatan konsumsi. Kita akan maksimalkan (momentum) ini," katanya. [idr]

Baca juga:
Penjualan Hero Supermarket Turun jadi Hanya Rp9,4 Triliun di Kuartal III-2019
Lindungi UMKM, Banyuwangi Tak Lagi Beri Izin Pembukaan Indomaret Cs
IKEA Resmi Buka Gerai Kedua di Sentul City Bogor
Pemerintah Resmi Tetapkan 11 November Jadi Hari Ritel Nasional
Bos Bulog Soal Penyaluran Beras ke Ritel Modern: Tak Ada Operasi Pasar Lagi
Respons Pengusaha Minimarket Soal Wacana Parkir Berbayar di Bekasi

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini