Ketua Asosiasi Pedagang Pasar, Ngadiran, mengatakan mahalnya harga pangan Natal dan Tahun Baru 2018 disebabkan kelalaian pemerintah. Pemerintah dinilai tidak mengetahui kondisi riil ketersediaan barang di pasar.
"Pemerintah tidak tahu dengan persis ketersediaan barang di pasar. Hanya terima laporan dari bawahan yang mungkin ABS (asal bapak senang)," ujarnya saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Senin (1/1).
Dia melanjutkan, naiknya harga pangan tidak akan terjadi jika data dan fakta cocok. Selain itu, cuaca bukanlah faktor utama dari fenomena kenaikan harga pangan di akhir 2017.
"Saya lihat barang-barang hanya dibanjiri saat menteri datang. Pasar yang dikunjungi sudah direkayasa," tuturnya.
Dia mencontohkan, untuk komoditas beras dengan harga Rp 7.300 yang diminta pemerintah untuk dijual kembali Rp 7.900 sulit didapat. "Beras ada tidak barangnya? Katanya mau swasembada pangan? Beras Rp 7.300 tidak ada. Beli 5 ton saja tidak ada."
Dia juga mengingatkan tim satgas pangan untuk benar-benar menindak pedagang nakal jika memang ditemukan. "Pedagang nakal, kan sudah ada aturan, kenapa tidak ditangkap? Kan ada satgas pangan. Harusnya menjadi solusi," tandasnya.