Ancaman Utama Ekonomi Global Sudah Bergeser, Bukan Lagi Pandemi

Kamis, 11 Agustus 2022 17:02 Reporter : Merdeka
Ancaman Utama Ekonomi Global Sudah Bergeser, Bukan Lagi Pandemi Menkeu Sri Mulyani. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, resiko perekonomian di dunia kini mulai bergeser. Pandemi bukan satu-satunya yang paling mengancam, melainkan kondisi finansial dan geopolitiklah yang sekarang menjadi ancaman perekonomian global.

Menkeu menjelaskan meskipun kondisi pandemi belum selesai, namun resikonya terhadap perekonomian dapat dikelola dengan baik. Walaupun ada kenaikan kasus, Menkeu berharap masyarakat akan mendapatkan vaksinasi booster sehingga tetap bisa menjaga momentum penyehatan masyarakat atau bisa menghindar dari ancaman covid-19.

"Namun apabila covid-19 ini telah bisa kita kelola dengan baik, kita melihat munculnya resiko baru. Jadi resiko terhadap perekonomian dan terhadap negara kita bergeser kepada tekanan ekonomi global," kata Menkeu dalam konferensi APBN KiTa Agustus 2022, Kamis (11/8).

Artinya, di lingkungan ekonomi global pasca atau sesudah 2 tahun pandemi situasinya tidak baik-baik saja. Pertama, akibat pandemi terjadi disrupsi supplai, yaitu produk-produk dan distribusi barang tidak berjalan lancar atau belum normal kembali.

"Ini yang menyebabkan pada saat masyarakat mulai mobilitasnya tinggi dan permintaan terhadap barang jasa mulai normal, permintaan itu tidak dipenuhi oleh sisi produksinya karena sesudah 2 tahun terkena pandemi ternyata normalisasi produksi tidak begitu saja mudah terjadi," ujarnya.

Kedua, dalam situasi itu kemudian muncul kondisi geopolitik yang eskalatif, yaitu terjadinya ketegangan bahkan sampai perang yang terjadi di Ukraina, dan sekarang ketegangan juga melonjak tinggi di Taiwan.

"Ini pasti akan menimbulkan tambahan risiko pada disrupsi supply. Nah di sisi lain seluruh negara di dunia selama pandemi melakukan counter cyclical melalui stimulus fiskal dan moneter," katanya.

Sehingga permintaan mulai pada tahun 2021 dan 2022, dengan adanya disrupsi supply akibat pandemi dan sekarang masalah perang atau geopolitik, sementara demand side nya meningkat terjadilah inflasi global yang melonjak sangat tinggi.

Bahkan di negara Amerika dan Eropa tingkat inflasinya tertinggi dalam 40 tahun terakhir, dengan inflasi yang bergejolak melonjak sangat tinggi maka kemudian dilakukan respons kebijakan moneter melalui pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga.

2 dari 2 halaman

Tindakan ini menimbulkan efek spill over atau rembetan ke berbagai negara volatilitas pasar keuangan melonjak, Capital outflow terjadi di negara berkembang dan negara-negara emerging dan ini menekan nilai tukar rupiah dan juga meningkatkan cost of fund atau lonjakan biaya utang.

Negara-negara yang selama pandemi kondisi keuangan negaranya mengalami pemburukan atau sudah memiliki eksposur utang yang sangat tinggi di atas 60 persen atau bahkan mendekati 100 persen, pasti akan mengalami tekanan yang jauh lebih hebat melalui kenaikan nilai tukar dan lonjakan biaya bunga atau cost of fund ini

"Sehingga IMF menyampaikan bahwa di seluruh dunia ini ada 60 negara lebih yang berpotensi menghadapi krisis utang atau default, dan ini disebabkan karena biaya utang maupun refinancing risk yang melonjak tinggi," ujarnya.

Menurutnya, kondisi pelemahan di sisi keuangan negara berbagai negara, dengan inflasi yang tinggi, pengetatan suku bunga atau moneter, tentu akan memperlemah kondisi pertumbuhan ekonomi dunia. Kombinasi Pelemahan ekonomi dan inflasi yang masih tinggi adalah sebuah Kombinasi yang sangat rumit dan berbahaya, bagi para policy maker dan bagi perekonomian.

"Inilah yang kita sebut risiko perekonomian bergeser dari yang tadinya yang mengancam paling utama adalah dari pandemi, sekarang bergeser menjadi risiko finansial melalui berbagai penyesuaian kebijakan dan lonjakan inflasi yang tinggi," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com

Baca juga:
Ma'ruf Amin: Pesantren Jangan Ciptakan Santri Lawan Pemerintah
Kinerja Pasar Modal RI Masih Positif di Tengah Gejolak Ekonomi Global
BI Sebut Perekonomian Dunia Tengah Menuju Stagflasi, ini Buktinya
Pemerintah Masih Tunggu Waktu yang Tepat Terapkan Pajak Karbon
Menteri Bahlil: Ekonomi Indonesia Jauh Sekali dari Resesi

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini