5 Orang terkaya Indonesia yang saat kecil hidupnya miskin
Merdeka.com - Per akhir 2016, orang terkaya di Indonesia masih didominasi oleh muka-muka lama. Tercatat selama delapan tahun berturut-turut posisi pertama masih ditempati oleh Budi dan Michael Hartono.
Penasbihan ini membuat posisi Hartono bersaudara belum tergoyahkan dalam delapan tahun berturut-turut. Nampaknya akan sulit bagi pesaing untuk merebut posisi pertama dalam waktu dekat.
Salah satu nama orang terkaya Indonesia ialah bos Sidomuncul Irwan Hidayat. Irwan menceritakan tipsnya dalam sukses berbisnis.
"Tipsnya ya kepepet. Ini beneran. Kalau sudah kepepet dalam hidup, usaha apapun pasti ditekuni dan dilakoni. Saya soalnya tidak punya pilihan lain. Enggak kenal siapa-siapa, enggak bisa usaha apa-apa. Ya yang saya rasain, itu namanya jalan Tuhan," ujar dia.
Dikutip dari Cekaja, untuk menjadi miliarder tak selalu harus memiliki latar belakang keluarga kaya. Banyak orang sukses di dunia bahkan di Indonesia yang berasal dari keluarga biasa bahkan jauh dari kata berkecukupan.
Berkat kerja keras dan keberuntungan, mereka pun berhasil mengubah kehidupan mereka. Mereka mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah lebih banyak ketimbang rata-rata orang Indonesia, dan jadilah nama mereka masuk dalam jajaran orang terkaya.
Siapa saja mereka? Berikut daftarnya.
Dahlan Iskan
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden SBY, Dahlan Iskan, pernah hanya punya satu stel pakaian yaitu kaos dan celana serta satu sarung saat masih kecil. Bahkan, Dahlan kecil harus bertelanjang kaki ke sekolah yang jaraknya jauh dari rumah. Impiannya kala itu, memiliki sepatu.Ayahnya bekerja serabutan, sementara ibunya seorang perajin batik. Karena penghasilan orangtuanya pas-pasan, sepulang sekolah Dahlan harus membantu mencari uang dengan berbagai cara, mulai dari menjadi kuli di kebun tebu hingga menggembala kambing.Bagi Anda yang pernah mengalami hal serupa, jangan minder karena keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Buktinya, Dahlan pada akhirnya mampu menjadi pengusaha kenamaan di Indonesia lewat bisnis media, real estate, hotel, dan perusahaan yang berkaitan dengan listrik.
Sudono Salim
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSudono Salim alias Liem Sioe Liong berasal dari desa kecil di China. Dia pertama kali menapakkan kaki di Indonesia pada 1939. Kala itu, China sangat miskin sehingga banyak warga yang memilih mengadu nasib ke negara lain termasuk Malaysia dan Indonesia. Mereka harus menempuh perjalanan jauh melewati lautan selama satu bulan. Karena itu, tak sedikit yang meninggal akibat diterjang badai.Liem Sioe Liong terlahir sebagai anak seorang petani. Karena hidupnya serba kekurangan, dia sempat mengalami putus sekolah dan menjajakan mie. Kondisi serba sulit itulah yang membuatnya memutuskan merantau ke Indonesia mengikuti kakaknya. Setelah berada di Indonesia, dia mencoba merintis usaha menjadi pemasok cengkeh untuk pengusaha rokok di Kudus dan Semarang. Siapa sangka, Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Dia pun berhasil membangun kerajaan bisnis Grup Salim yang membawahi beberapa perusahaan termasuk Indofood. Pada 2006, dia masuk peringkat 10 orang terkaya Indonesia. Pada 2012 silam, Liem menghembuskan nafas terakhirnya.
Eka Tjipta Widjaja
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMeski hanya tamatan SD dan berasal dari keluarga miskin, Eka Tjipta Widjaja sukses membangun Grup Sinarmas. Masa lalunya serba kekurangan, dia bahkan harus membantu orangtuanya membayar utang ke rentenir. Setelah lulus SD, dia harus berjualan permen hingga biskuit.Eka membantu penjualan produk toko sang ayah dengan cara door-to-door selling. Dia pun hanya mengenyam pendidikan hingga lulus SD karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah.Pada saat berusia 37 tahun, Eka pindah ke Surabaya. Setelah berjuang keras, akhirnya usaha yang dijalankannya mulai sukses besar. Eka pun akhirnya memiliki kebun kopi dan kebun karet di Jember. Dan Sinar Mas yang awalnya berbentuk CV kini telah melebar ke bisnis keuangan, bubur kertas, agrobisnis, serta perumahan.Keberhasilan Eka dalam menjalankan bisnisnya tidak lepas dari prinsip hidup yang dipegangnya. Bagi dia, kesulitan apa pun yang dihadapi dalam menjalankan bisnis, asal punya keinginan untuk berjuang, pasti semua kesulitan bisa diatasi. Prinsip selanjutnya, jujur, menjaga kredibilitas, bertanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun lingkungan sekitar. Hidup hemat dan tidak berfoya-foya.
Ciputra
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comNama Ciputra sangat terkenal di dunia properti. Dia sukses mengembangkan Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Ciputra lahir dan tumbuh hingga remaja di Parigi, Sulawesi Tengah. Ayahnya Tjie Siem Poe, tertangkap pasukan tak dikenal karena mendapat tuduhan sebagai mata-mata penjajah.Karena ditinggal oleh sang ayah, Ciputra kecil harus merasakan hidup yang serba sulit. Alih-alih berduka terlampau dalam, Ciputra justru melihat peristiwa tersebut sebagai cambuk untuk memotivasi diri sendiri dengan menempuh pendidikan di pulau Jawa. Saat ini dia bisa tersenyum bahagia karena kerja kerasnya membawa hasil. Anda pun akan dengan mudah menemukan mal, hotel, atau perumahan milik Ciputra.Ciputra dan kelompok perusahaan pengembangnya telah menangani sekitar 11 proyek perkotaan elit termasuk Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Pondok Indah, Citra Indah, Kota Taman Metropolitan, Citra Raya Surabaya, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, dan kota baru Westlake City yang berlokasi di Vietnam.
Chairul Tanjung
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comChairul Tanjung pernah mengalami kesulitan ekonomi saat remaja. Usaha ayahnya ditutup secara paksa karena bertentangan dengan penguasa saat itu. Ayahnya adalah seorang wartawan yang mengelola usaha penerbitan surat kabar skala kecil. Karena usahanya tutup, rumah tempat tinggal mereka pun harus dijual. Alhasil, mereka sekeluarga pindah ke sebuah kamar sempit di daerah Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat.Karena kepintarannya, Chairul berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Namun, karena mereka masih kekurangan, orangtuanya kesulitan membayar uang kuliah. Chairul tak tinggal diam, dengan memanfaatkan ruang sempit di bawah tangga kampus, dia membuka usaha fotokopi. Seiring berjalannya waktu, dia sukses membesarkan CT Corporation yang sebelumnya bernama Para Group.CT mengaku lebih suka mengakuisisi dibandingkan membangun bisnis karena akusisi perusahaan membuat sinergi memperluas ladang usaha. "Waktu saya memulai, banyak waktu tapi tidak punya uang. Mulai dari nol," ujarnya."Lama-lama jadi besar punya uang, tidak punya waktu. Maka yang dilakukan tidak perlu bangun tapi mengakusisi."
Â
(mdk/bim)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya