5 Fakta jurang si kaya dan miskin makin lebar di era SBY

Rabu, 5 Maret 2014 06:01 Reporter : Wisnoe Moerti
Pemukiman Miskin. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Berita menggembirakan datang dari Majalah Forbes. Sederet nama orang terkaya dunia dipaparkan lengkap beserta data jumlah kekayaannya. Yang menarik dari data orang terkaya dunia 2014 versi Forbes, setidaknya ada 10 orang Indonesia yang masuk dalam 1.000 orang paling tajir sejagat raya.

Di dalamnya ada nama-nama miliuner Indonesia yang sudah tidak asing di telinga. Sebut saha pemilik Grup Djarum Budi Hartono yang kekayaannya menembus USD 7,6 miliar atau setara Rp 88 triliun. Ada pula saudaranya Michael Hartono yang punya kekayaan USD 7,3 miliar. Nama lain adalah Mochtar Riady dengan kekayaan USD 2,5 miliar, Sukanto Tanoto dengan kekayaan USD 2,1 miliar dan lainnya.

Masuknya orang Indonesia dalam daftar orang terkaya sejagat bukan hal baru. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi turut serta membuat harta kekayaan mereka berlipat ganda. Hanya saja, yang masih menjadi keprihatinan bersama adalah peningkatan harta kekayaan orang kaya tidak seiring sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan rakyat miskin di Indonesia. Bahasa mudahnya, orang yang kaya semakin kaya, yang miskin makin miskin.

Jurang antara si kaya dan si miskin di Indonesia semakin lebar dalam kurun waktu 1 dekade atau 10 tahun terakhir. Persis di era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) dan Kabinet Indonesia Bersatu. Dengan sederet angka dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kabinet SBY mengklaim sukses menekan angka kemiskinan. Namun, dari data BPS juga, yang tidak bisa ditutupi adalah ketimpangan antara orang kaya dan orang miskin justru semakin lebar.

Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Sugeng Bahagijo menuturkan, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak buruk pada stabilitas ekonomi nasional.

"Dampak ketimpangan banyak sekali, bukan hanya kelompok bawah merasa iri dan frustasi, tetapi kelompok atas juga akan merasa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak menguntungkan sama sekali," kata Sugeng di sekretariat INFID, Jakarta, kemarin.

Sugeng mengaku heran sebab persoalan ketimpangan kaya dan miskin tidak pernah disinggung serta disentuh pemerintahan SBY . Pada saat Pemilu 2009 pun isu ini sama sekali tidak diperhatikan.

"Padahal, indikator keberhasilan pembangunan ditentukan dari tingkat penurunan ketimpangan," tegasnya.

Masalah ketimpangan harus menjadi agenda utama pemerintahan pengganti kabinet SBY . "Dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) lima tahun mendatang, di samping penurunan kemiskinan dan pengangguran, harus mencantumkan penurunan ketimpangan dari 0,41 persen menjadi 0,35 persen," katanya.

Pengalaman negara lain seperi Brasil bisa dijadikan contoh. Di bawah presiden Luiz Inacio Lula, Brasil sukses mengikis jurang si kaya dan si miskin. Brasil dengan program Zero Hunger, Bolsa Familia dan peningkatan upah minimum serta Jaminan kesehatan universal terbukti menurunkan ketimpangan.

Menyimak pengalaman negaranegara maju dengan tingkat ketimpangan yang rendah seperti Swedia dan negaranegara Skandinavia, peran pemerintah menjadi yang utama. Penurunan ketimpangan menuntut pemerintah mengurangi atau bahkan melepaskan kebijakan neoliberal yang terlalu menggantungkan nasib warga negara kepada pasangsurut pasar dan pertumbuhan ekonomi.

Terlepas dari itu, merdeka.com merangkum beberapa fakta yang menggambarkan jurang si kaya dan si miskin makin lebar di Indonesia. Berikut paparannya berdasarkan data yang dihimpun dari INFID.

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.