4 Proyek Pengembangan dan 2 Pembangunan Kilang Baru Ditarget Selesai 5 Tahun

Senin, 11 November 2019 18:20 Reporter : Intan Umbari Prihatin
4 Proyek Pengembangan dan 2 Pembangunan Kilang Baru Ditarget Selesai 5 Tahun Menteri ESDM Arifin Tasrif. ©2019 Liputan6.com/Pebrianto Eko Wicaksono

Merdeka.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menargetkan seluruh proyek kilang bisa selesai dalam lima tahun. Saat ini terdapat 4 proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan 2 proyek Grass Root refinery (GRR).

"Kita kan ada empat RDMP sama dua GRR tuh. Itu saja yang mana siap duluan. Karena yang sudah jalan kan Balikpapan," ujarnya saat ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (11/11).

Pemerintah, lanjutnya, tak menetapkan prioritas untuk keseluruh proyek tersebut. Pemerintah ingin seluruh proyek berjalan berbarengan hingga bisa selesai sebelum pemerintahan Presiden Jokowi periode II berakhir.

"Yang jalan itu (kilang Balikpapan) duluan, tapi semuanya harus paralel. Jadi mudah-mudahan lima tahun bisa selesai," jelasnya.

1 dari 2 halaman

Peningkatan Lifting Migas

Menteri Arifin juga menjelaskan pemerintah terus menggenjot produksi minyak dan gas hingga akhir tahun. Saat ini, berdasarkan data SKK Migas, realisasi lifting baru mencapai 89 persen dari target.

"Kita harus banyak ngebor. Harus banyak drilling lagi. Pakai teknologi untuk optimalkan sumur-sumur yang tadinya tidak produktif, tapi dengan teknologi baru itu bisa diangkat lagi," tuturnya.

Dia mengungkapkan teknologi yang akan digunakan salah satunya bisa menggunakan bahan kimia. "Ya pakai enhanced oil recovery, ada yang chemical sama non chemical."

2 dari 2 halaman

4 Tahun Pemerintahan Belum Ada Kilang Terbangun, Presiden Jokowi Galau

Pemerintah terus berupaya meredam defisit transaksi berjalan, diantaranya dengan mengurangi impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, salah satu solusinya dengan membangun fasilitas pengelolaan minyak (kilang), belum mengalami kemajuan.

Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, mengatakan pembangunan kilang sangat penting untuk mengurangi impor BBM. Bahkan dia menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat galau karena sudah empat tahun masa pemerintahannya, belum ada kilang yang belum terbangun.

"Pembangunan kilang saya kira penting. Presiden pun galau, karena sudah 4 tahun jadi presiden belum ada yang jadi pembangunan kilang," kata Menko Luhut, saat menghadiri Pertamina Energy Forum, di Jakarta, Kamis (29/11).

Menko Luhut meminta pembangunan kilang tidak kembali mundur. Dia pun juga mendorong terbangunnya industri petrokimia untuk mengelola produk turunan yang dihasilkan kilang. "Saya minta jangan mundur lagi, karena saya sudah tiga tahun dorong petrokimia yang tidak jalan-jalan," tuturnya.

Peremajaan dan keberadaan kilang baru tentunya akan mengurangi impor BBM. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah yang berujung dapat meredam defisit transaksi berjalan.

Selain mengandalkan kilang, upaya pengurangan impor yang sudah dilakukan pemerintah adalah menerapkan perluasan campuran 20 persen biodiesel dengan solar non subsidi.

"CAD (Current Account Defisit) kita sangat terpengaruh dengan impor minyak. CAD kita tahun ini akan dekat USD 24 miliar tahun lalu USD 17 miliar. Tujuannya adalah meminimize impor oil kita karena CAD kita," tandasnya.

[bim]

Baca juga:
Atasi Krisis Energi, Proyek RDMP dan GRR Pertamina Butuh Dukungan Pemerintah
Pertamina Ingin Kuasai Saham TPPI
Deretan Keuntungan Pembangunan Kilang, Termasuk Buka 172.000 Lapangan Kerja
Pertamina Kebut Pembangunan Kilang, Begini Caranya
Pertamina Belum Selesaikan Negosiasi Harga Lahan untuk Kilang Cilacap
Kilang Pertamina Tak Lagi Produksi Euro 2 Mulai 2026

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini