Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Sholat Kafarat dalam Pandangan Hukum Islam, Diperbolehkan Atau Dilarang?

Sholat Kafarat dalam Pandangan Hukum Islam, Diperbolehkan Atau Dilarang? Ilustrasi Sholat. ©2021 Merdeka.com/pexels-michael-burrows

Merdeka.com - Sholat kafarat adalah sholat yang katanya diperintahkan untuk dikerjakan pada Jumat terakhir di bulan suci Ramadan. Usai sholat Jumat di Jumat terakhir Ramadan, terdapat tradisi untuk menjalankan sholat yang disebut juga dengan sholat al-bara'ah ini. Sholat kafarat dikerjakan sejumlah dengan rakaat sholat fardlu. Lima kali waktu sholat fardlu dengan total 17 rakaat.

Akan tetapi, perintah sholat kafarat tersebut masih menimbulkan banyak perdebatan. Khususnya mengenai hukum sholat kafarat ini sendiri. Ada yang setuju dengan tradisi tersebut dan ada pula yang melarangnya. Sholat kafarat diniatkan untuk mengqadha sholat fardlu yang diragukan tidak sah atau pun yang ditinggalkan.

Ada pula dikatakan sholat kafarat mampu mengganti sholat yang ditinggalkan semasa hidupnya hingga 70 tahun. Selain itu juga bisa melengkapi berbagai macam kekurangan dalam sholat yang disebabkan oleh rasa was-was atau lainnya.

Lantas bagaimana penjelasan sholat kafarat dalam pandangan hukum Islam? Melansir dari NU Online, Kamis (24/2), simak ulasan informasinya berikut ini.

Pandangan Islam yang Memperbolehkan

Terdapat diskusi panjang terkait status hukum sholat kafarat. Para ulama pun juga memiliki pandangan yang berbeda-beda terkait hukum mengerjakan sholat kafarat ini. Ada yang memperbolehkan dan ada pula yang mengharamkan. Adapun pandangan Islam yang memperbolehkan mengerjakan sholat kafarat adalah sebagai berikut:

a. Pendapat al-Qadli HusainPendapat ini memperbolehkan umat Islam mengqadha sholat fardlu yang diragukan ditinggalkan. Sebagaimana yang tertuang berikut ini:

فرع ) قال القاضي لو قضى فائتة على الشك فالمرجو من الله تعالى أن يجبر بها خللا في الفرائض أو يحسبها له نفلا وسمعت بعض أصحاب بني عاصم يقول : إنه قضى صلوات عمره كلها مرة ، وقد استأنف قضاءها ثانيا ا هـ قال الغزي وهي فائدة جليلة عزيزة عديمة النقل ا هـ إيعاب

Artinya:"Cabangan permasalahan: al-Qadli Husain berkata, bila seseorang mengqadha shalat fardlu yang ditinggalkan secara ragu, maka yang diharapkan dari Allah shalat tersebut dapat mengganti kecacatan dalam shalat fardlu atau paling tidak dianggap sebagai shalat sunah. Saya mendengar bahwa sebagian ashabnya Bani Ashim berkata, bahwa ia mengqadha seluruh shalat seumur hidupnya satu kali dan memulai mengqadhanya untuk kedua kalinya. Al-Ghuzzi mengatakan, ini adalah faidah yang agung, yang jarang sekali dikutip oleh ulama." (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz.2, halaman 27).

إن الشك في عبادة بدنية أو مالية يجوز تعليق نية قضائها إن كان عليه وإلا فتطوع

Artinya:"Keraguan dalam ibadah badan atau harta, boleh menggantungkan niat qadhanya, bila betul ada tanggungan maka statusnya wajib, bila tidak, maka berstatus sunah." (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 4).

b. Tidak Menyakini Keabsahan Sholat

Tidak ada orang yang menyakini keabsahan sholat yang baru saja dikerjakan. Apalagi sholat yang dikerjakan sebelum-sebelumnya.c. Hukum Haram HilangAdanya larangan sholat kafarat karena kekhawatiran sholat ini tidak cukup untuk menggantikan sholat yang ditinggalkan selama satu tahun. Sehingga saat kekhawatiran tersebut hilang, maka hukum haram pun juga hilang.d. Mengikuti AmaliyyahMengikuti amaliyyah para pembesar ulama serta para wali ALlah SWT yang ahli makrifat billah. Mulai dari Sayyidi Syekh Fakr al-Wujud Abu Bakr bin Salim, Habib Ahmad bin Hasan al-Athas hingga al-Imam Ahmad bin Zain al-Habsyi. Para pembesar ulama di Yaman mengimbau dan rutin mengerjakan sholat kafarat. Bahkan, sholat kafarat rutin dikerjakan secara berjamaah di masjid Zabid Yaman. Mengikuti amaliyyah para wali dan ulama tanpa diketahui dalil istinbathnya dari hadis Nabi dikatakan sudah cukup menjadi hujjah membolehkan sholat kafarat. Syekh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab Tanbih al-Mughtarrin, sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa’ mengatakan:ومن القوم إذا لم يجدوا لذلك العمل دليلا من سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم الثابتة في كتب الشريعة يتوجهون بقلوبهم إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فإذا حضروا بين يديه سألوه عن ذلك وعملوا بما قاله لهم ولكن مثل هذا خاض بأكابر الرجال  Artinya: "Di antara kaum, apabila mereka tidak memiliki dalil dari sunah Nabi yang ditetapkan dalam kitab syari’ah, mereka menghadap hatinya kepada Rasul, bila sudah berhadapan dengan Nabi, mereka bertanya kepada beliau dan mengamalkan apa yang dikatakan Nabi, akan tetapi yang demikian ini khusus untuk para pembesar sufi."فإن قيل فهل لصاحب هذا المقال أن يأمر الناس بما أمره رسول الله صلى الله عليه وسلم بفعله وقوله؟ الجواب لا ينبغي له ذلك لأنه أمر زائد على السنة الصحيحة الثابتة من طريق النقل ومن أمر الناس بشيء زائد على ما ثبت من طريق النقل فقد كلف الناس شططا اللهم إلا أن يشاء أحد ذلك فلا حرج عليه كما هو شأن مقلدي المذاهب المستنبطة من الكتاب والسنة والله أعلم  Artinya:"Bila ditanya, apakah sufi yang mendapat amaliyyah dari Nabi boleh memerintahkan orang lain sebagaimana Nabi memerintahkan kepadanya? Jawabannya, tidak sebaiknya hal tersebut dilakukan, sebab merupakan perkara tambahan atas sunah shahih, barang siapa memerintahkan manusia perkara yang melebihi sunah Nabi yang dicetuskan berdasarkan riwayat yang sahih, maka ia telah memberi beban kerancauan kepada mereka. Kecuali bila ada orang yang dengan sukarela mengikutinya, maka tidak ada masalah, sebagaimana keadaan para pengikut mazhab-mazhab yang bersumber dari al-Quran dan hadits." (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 43).Syekh Abdurrahman bin Syekh Ahmad Bawazir sebagaimana dikutip dalam Kasyf al-Khafa mengatakan: ولا شك أن العارف بالله فخر الوجود أبا بكر بن سالم ممن يقلد في الصلاة المذكورة لأن العارف لا يتقيد بمذهب كما في الإبريز للشيخ عبد العزيز الدباغ بل قال فيه إن مذهب الولي العارف بالله أقوى من المذاهب الأربعة. انتهى Artinya:"Tidak diragukan lagi bahwa al-Arif billah Fakr al-Wujud Syekh Abu Bakr bin Salim adalah termasuk tokoh yang mengikuti amaliyyah shalat kafarat/ baraah ini, sebab orang yang ahli makrifat tidak terikat dengan mazhab tertentu, seperti keterangan dalam kitab al-Ibriznya Syekh Abdul Aziz al-Dabbagh, bahkan beliau mengatakan, sesungguhnya mazhabnya wali yang al-Arif billah lebih kuat dibandingkan dengan mazhab empat." (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi Hukmi Shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 48).

Pandangan Islam yang Melarang

a. Tidak ada Tuntunan dari Hadis NabiTidak adanya tuntunan yang jelas dari hadis Nabi dan kitab-kitab syari'ah. Sehingga membuat seseorang yang mengerjakan sholat kafarat tergolong mensyariatkan ibadah yang tidak disyari’atkan (isyra’u ma lam yusyra’). Selain itu juga tergolong melakukan ibadah yang rusak atau ta’athi bi ‘ibadatin fasidah.b. Tidak Memiliki DasarMengerjakan sholat kafarat pada Jumat akhir di bulan Ramadan tidak memiliki dasar yang jelas. Apalagi dalam syari'at juga tidak ada pengkhususan waktu pelaksanaan sholat kafarat.c. Pakar Fikih Otoritatif Mazhab Syafi'iTerdapat keterangan sharih dari pakar fikih otoritatif mazhab Syafi'i, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut: وأقبح من ذلك ما اعتيد في بعض البلاد من صلاة الخمس في هذه الجمعة عقب صلاتها زاعمين أنها تكفر صلوات العام أو العمر المتروكة وذلك حرام أو كفر لوجوه لا تخفى Artinya:"Yang lebih buruk dari itu adalah tradisi di sebagian daerah berupa shalat 5 waktu di jumat ini (jumat akhir Ramadhan) selepas menjalankan shalat jumat, mereka meyakini shalat tersebut dapat melebur dosa shalat-shalat yang ditinggalkan selama setahun atau bahkan semasa hidup, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar." (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz.2, halaman 457). Terkait pandangan di atas, Syekh al-Syarwani berkomentar yang mengatakan: قوله ( وذلك ) أي الزعم المذكور قوله ( لوجوه إلخ ) منها إسقاط القضاء وهو مخالف للمذاهب كلها كردي Artinya:"Ucapan Syekh Ibnu Hajar, yang demikian ini adalah haram atau bahkan kufur karena beberapa sisi pandang yang tidak samar, di antaranya adalah dapat menggugurkan kewajiban mengqadha shalat, hal ini menyalahi seluruh mazhab-mazhab." (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala al-Tuhfah, juz.2, halaman 457)

d. Tidak Bisa Dibuat Dalil

Hadis mengenai sholat kafarat tidak bisa dijadikan sebuah dalil. Hal ini karena tidak mempunyai sanad yang jelas. Kesimpulan ikhtilaf terkait hukum sholat kafarat terangkum pada penjelasan Mufti Syekh Salim bin Said Bukair al-Hadlrami yang dikutip Kasyf al-Khafa’, ما قولكم في صلاة الخمسة الفروض التي تصلى آخر جمعة من رمضان هل هي جائزة شرعا أم لا؟ وهل أحد نص عليها من العلماء وفعلها غير الشيخ أبو بكر وأولاده أفيدونا؟! الجواب الحمد لله صلاة الفروض آخر جمعة من رمضان قضاء فوائت ليس على يقين منها، وتسمى صلاة البراءة، اختلف العلماء فيها، فقال بتحريمها جماعة كالشيخ ابن حجر وبامخرمة وغيرهما. وقال بجوازها كثير من علماء اليمن، وكانت تصلى بجامع زبيد كما قال الناشري، قال ولا يتركها إلا القليل انتهى. وهي محط رجال العلم وأئمة الفتوى وقد صلاها جماعة من الأئمة الورعين البارعين في علمي الظاهر والباطن كالفخر الشيخ أبي بكر بن سالم والإمام العلامة أحمد بن زين الحبشي والإمام الحبيب عمر بن زين بن سميط والحبيب العلامة أحمد بن محمد المحضار والعلامة الحبيب أحمد بن حسن العطاس والحبيب العلامة سالم بن حفيظ بن الشيخ بن أبي بكر بن سالم والحبيب العلامة عبد الله بن عبد الرحمن بن الشيخ أبي بكر بن سالم وغيرهم من علماء اليمن وحضر موت. Artinya:"Bagaimana pendapat anda tentang shalat lima waktu yang dilakukan di ahir Jumat Ramadhan, boleh atau tidak? Apakah ada salah seorang ulama yang membolehkannya dan mengamalkannya selain Syekh Abu Bakr bin Salim dan anak-anaknya?. Jawaban, segala puji bagi Allah, shalat fardlu lima waktu di akhir Jumat bulan Ramadhan merupakan shalat untuk mengqadha shalat fardlu yang tidak diyakini ditinggalkan, shalat ini disebut dengan shalat bara’ah, ulama berbeda pendapat mengenai hukumnya. Segolongan ulama seperti Syekh Ibnu Hajar, Syekh Bamakhramah dan lainnya mengharamkan. Dan mayoritas ulama Yaman membolehkannya, shalat ini dilakukan di masjid Jami’ Zabid seperti yang dikatakan imam al-Nasyiri, beliau mengatakan, tidak meninggalkan shalat ini kecuali segelintir orang. Shalat bara’ah ini adalah amaliyyah para tokoh ilmu dan imam-imam fatwa, shalat ini dilakukan oleh para imam yang wira’i, yang menonjol dalam ilmu zhahir dan batin, seperti al-Fakhr Syekh Abu Bakr bin Salim, al-‘Allamah Ahmad bin Zain al-Habsyi, Habib Umar bin Zain bin Smith, Habib Ahmad bin Muhammad al-Mihdlar dan ulama Hadlramaut yang lain." فقد أقامها كل من المذكورين في جهاتهم وبلدانهم وأمر بها وأقرها الإمام الحجة الحبيب عبد الرحمن بن عبد الله بلفقيه وهو الذي كان يلقبه الإمام الحبيب عبد الله الحداد بـ "علامة الدنيا"...إلى أن قال.... وكفى بهذا الإمام وبمن تقدم ذكرهم من أئمة الدين والعلماء الورعين حجة في جواز هذه الصلاة ، وإذا لم تقم بهم وبأمثالهم الحجة فيمن تقوم الحجة؟. Artinya:"Mereka-mereka ini melakukan shalat bara’ah di daerah-daerahnya dan memerintahkan orang untuk melakukannya, kebolehan shalat ini juga diamini oleh Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih yang dijuluki oleh Habib Abdullah al-Haddad dengan “orang sangat alim di dunia.” Cukuplah imam ini dan imam-imam lain yang disebutkan sebelumnya dari para imam agama dan ulama yang wira’i, dijadikan sebagai hujjah kebolehan shalat bara’ah, bila tida bisa, lantas siapa lagi ulama yang bisa dijadikan hujjah?"وقد قال بجواز القضاء مع الشك القاضي حسين والغزي كما في الجمل على المنهج والإمام الغزالي في الإحياء وفي ذلك أعظم دليل وأقوى حجة لما قاله وعمله هؤلاء الأئمة بل لو لم يقل بجواز هذه الصلاة ويفعلها إلا الشيخ أبو بكر بن سالم قوله وفعله كما في الحجة فإنه من كبار العلماء وأئمة الدين Artinya:"Al-Qadli Husain dan al-Ghuzzi membolehkan shalat qadha beserta keraguan seperti dalam Hasyiyah al-Jamal dan al-Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, ini adalah dalil dan hujjah terkuat dari apa yang dikatakan dan diamalkan imam-imam yang tersebut di atas. Bahkan, andai saja yang membolehkan dan melakukan shalat ini hanya Syekh Abu Bakr bin Salim, maka sudah cukup, sesungguhnya beliau tergolong pembesar ulama dan imam-imam agama." (Syekh Fadl bin Abdurrahman al-Tarimi al-Hadlrami, Kasyf al-Khafa’ wa al-Khilaf fi hukmi shalat al-Bara’ah min al-Ikhtilaf, halaman 37).

(mdk/tan)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP