Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Jenis-Jenis Wayang di Indonesia yang Paling Populer

Jenis-Jenis Wayang di Indonesia yang Paling Populer Ilustrasi wayang kulit. ©Shutterstock

Merdeka.com - Jenis-Jenis wayang di Indonesia sangatlah beragam. Wayang sendiri merupakan sebuah seni pertunjukkan rakyat yang dimainkan oleh seorang yang disebut dalang dengan menggerakkan tokoh-tokoh pewayangan sesuai dengan cerita yang dibawakan.

Biasanya, cerita-cerita yang dimainkan oleh seorang dalang bersumber pada kitab Ramayana dan Mahabarata. Namun, penerapannya di Indonesia sendiri sudah disesuaikan dengan kebudayaan yang ada.

Melansir dari laman kemendikbud, Indonesia setidaknya memiliki 18 jenis wayang diantaranya, Wayang kulit Purwa, Wayang Golek Sunda, Wayang Orang, Wayang Betawi, Wayang Bali, Wayang Banjar, Wayang Suluh, Wayang Palembang, Wayang Krucil, Wayang Thengul, Timplong, Kancil, Rumput, Cepak, Jemblung, Sasak (Lombok), dan Wayang Beber.

Meski memiliki banyak jenis wayang, ada kurang lebih 7 wayang yang dianggap populer di Indonesia. Berikut ulasannya:

Wayang Kulit

wayang kulit sigeger cirebon

Liputan6.com ©2020 Merdeka.com

Wayang kulit merupakan jenis wayang yang bisa dibilang paling terkenal dan familiar di masyarakat Indonesia. Pertunjukkan wayang kulit sendiri paling sering dijumpai di wilayah Jawa Tengah dan jawa Timur.

Wayang kulit ini biasanya tokoh-tokohnya berbentuk pipih dengan kayu sebagai penopang dan penggeraknya dan terbuat dari kulit kerbau atau kambing.

Pertunjukkan wayang kulit biasanya dipimpin oleh seorang dalang sebagai narator cerita. Dengan diiringi alunan musik gamelan, dalang akan memainkan cerita wayang kulit dari balik kelir yang terbuat dari kain putih dan disorot dengan lampu sehingga penonton yang berada di sisi lain bisa melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir.

Di Bali dan Jawa, pertunjukan wayang kulit sering kali menggabungkan cerita-cerita Hindu dengan Budha dan Islam. Selain kisah-kisah religius, cerita-cerita rakyat serta mitos sering digunakan.

Wayang Golek

gagrak tjalajapan

©2018 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Wayang golek juga jenis wayang kedua yang paling populer di Indonesia. Jenis ini menggunakan media kayu yang dibentuk secara tiga dimensi. Wayang jenis ini banyak tersebar di daerah kawasan Jawa bagian Barat. Untuk cara pementasannya hampir sama dengan wayang kulit, yakni lakon dan cerita dimainkan oleh seorang dalang. Yang membedakan, dialognya biasanya dibawakan dalam bahasa Sunda. Ceritanya juga sama bersumber dari kitab Mahabarata dan Ramayana. Namun yang membedakan adalah pada tokoh punakawan, penamaan dan bentuk dari punakawan memiliki versi tersendiri yaitu dalam versi sunda.Namun, seiring berkembangnya zaman wayang golek juga menceritakan kisah-kisah Islami. Pada masa Pemerintahan Kerajaan Mataram, wayang golek justru digunakan sebagai media untuk menyebabrkan ajaran agama Islam. Kisah-kisah yang digunakan sering mengacu pada tradisi Jawa dan Islam, seperti kisah Pangeran Panji, Darmawulan, dan Amir Hamzah, pamannya Nabi Muhammad a.s.

Wayang Beber

ibu ning sang pelukis wayang beber

©2014 Merdeka.com

Wayang beber dikatakan sebagai jenis wayang yang paling tua di Indonesia. Wayang beber adalah wayang berbentuk lembaran-lembaran (beberan) yang terbuat dari kain atau kulit lembu, dan dibentuk menjadi tokoh-tokoh wayang.Penamaan 'Beber' sendiri berasal dari cara memainkannya. Pertunjukan wayang ini dilakukan dengan membeberkan atau membentangkan layar atau kertas yang berupa gambar. Tiap beberan merupakan satu adegan cerita. Jika tidak dimainkan, wayang bisa digulung. Menurut informasi dari laman Indonesia.go.id, wayang beber pertama kali dikenal di Indonesia pada masa kerajaan Jenggala sekitar tahun 1223 M.  Pada masa tersebut, wayang Jenggala dikenal dengan bentuk gambar yang ada di atas daun lontar.

Wayang Purwa

Wayang Purwa pertama kali dikenal di Indonesia saat masa pemerintahan raja Airlangga pada abad ke-11. Pada masa itu, sang raja memiliki keinginan untuk emmbuat wayang purwa karena senang dengan cerita dan riwayat nenek moyangnya, yang tercantum dalam serat Pustakaraja Purwa. Raja kemudian melihat Candi Penataran di Blitar dan melihat arca para dewa dan gambar yang diukir sepanjang tembok batu sekeliling candii yang menceritakan tentang Rama. Ukiran candi inilah yang pada akhirnya memberi inspirasi kepada raja untuk membuat Wayang Purwa.Wayang kulit Purwa terdiri dari beberapa gaya atau gagrak seperti gagrak Kasunanan, Mangkunegara, Ngayogjokarto, Banyumasan,Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya.

Wayang Klitik

wayang kamboja terdampak corona

©REUTERS/Cindy Liu

Wayang klitik memiliki bentuk yang mirip dengan wayang kulit. Namun, wayang jenis ini menggunakan media kayu untuk pembuatannya. Kata “klitik” sendiri berasal dari suara kayu yang bersentuhan di saat wayang digerakkan atau saat adegan perkelahian, misalnya.Kisah-kisah yang digunakan dalam drama wayang ini berasal dari kerajaan-kerajaan Jawa Timur, seperti Kerajaan Jenggala, Kediri, hingga Majapahit. Cerita yang paling populer adalah tentang Damarwulan. Cerita ini dipenuhi dengan kisah perseturan asmara dan sangat digemari oleh publik.

Wayang Suket

kerajinan wayang suket purbalingga

©2019 Merdeka.com/Abdul Aziz Rasjid

Wayang suket juga jenis wayang yang tak kalah terkenal di Indonesia. Walaupun bentuknya sederhana, dan biasanya hanya digunakan sebagai alat permainan atau penyampaian cerita perwayangan pada anak-anak di desa-desa Jawa, wayang jenis ini cukup banyak menarik perhatian karena keunikannya. Wayang suket ini terbuat dari rumput yang dililikan sedemikian rupa, sehingga terbentuk menjadi mirip tokoh wayang kulit. Untuk membuatnya, beberapa helai daun rerumputan dijalin lalu dirangkai (dengan melipat) membentuk figur serupa wayang kulit. Karena bahannya rumput, wayang suket ini biasanya tidak bertahan lama.

Wayang Orang

acit dan para pemain wayang orang china di palembang

©2020 Merdeka.com

Yang terakhir, jenis wayang yang sangat populer di Indonesia adalah wayang orang atau wayang wong. Wayang ini merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Pertunjukan ini mirip seperti theater musikal yang mengangkat cerita Ramayana dan Mahabarata.Kemunculan wayang Orang terinspirasi dari seni drama yang berkembang di Eropa. Wayang orang pertama kali muncul pada abad ke-18 di Solo oleh KGPAA Mangkunegoro I. Keinginan Mangkunegoro I inilah yang pada akhirnya mendasari terwujudkan wayang Orang ini.Hingga kini pertunjukan wayang orang masih sering kita jumpai. Yang cukup terkenal, pertunjukkan wayang orang Bharata Purwa di Jakarta, dan pertunjukkan di Sendratari Ramayana Ballet Prambanan. Biasanya, cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabrata dan Ramayana yang mengandung pesan moral yang sudah disesuaikan dengan kebudayaan setempat.

(mdk/khu)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP