Jadi Garis Depan Penanganan Covid-19, Ini Kisah Dokter Muda Indonesia di London

Rabu, 3 Juni 2020 11:53 Reporter : Tantiya Nimas Nuraini
Jadi Garis Depan Penanganan Covid-19, Ini Kisah Dokter Muda Indonesia di London Pasien Corona. ©2020 Photo

Merdeka.com - Dokter muda asal Indonesia turut menjadi pasukan garis depan di London. Ardito Widjono, dokter muda asal Indonesia ikut menangani pasien terinfeksi Covid-19 di salah satu rumah sakit di Kota London, Inggris.

Putra pertama pasangan Argo Onny Widjono dan Endang Nurdin, sejak Maret lalu diketahui telah bertugas di Rumah Sakit Barnet di London Utara. Kala itu, kasus Covid-19 di Inggris baru ada sekitar 17 ribu dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 1.000 orang.

"Tak ada yang bisa memprediksi kapan corona berakhir," kata Ardito, seperti dikutip Liputan6.com dari Antara London.

1 dari 7 halaman

Menyelesaikan Pendidikan di London

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Dito ini telah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Kedokteran King's College London. Dokter muda ini awalnya bertugas di bagian ortopedi (bedah tulang) dan sebagai dokter untuk anak-anak serta orang dewasa.

"Menjelang akhir Maret 2020, setelah menghabiskan empat bulan bekerja di bedah ortopedi, saya menerima email dari direktur medis rumah sakit yang menjelaskan bahwa saya akan dipindahtugaskan ke bagian gawat darurat," katanya.

2 dari 7 halaman

Semua Dokter Junior Ditarik

Saat itu, semua dokter muda di Rumah Sakit Barnet dengan sejumlah spesialisasi medis serta bedah ditarik untuk menangani pasien Covid-19. Kendati begitu, Dito mengaku senang sebab bisa merasakan berada di tempat yang paling dibutuhkan.

005 siti rutmawati

stemgenex.com

"Dan saya bangga akan dapat menggunakan keterampilan saya untuk membantu para penderita penyakit yang belum ada obatnya," ujarnya.

3 dari 7 halaman

Hari Pertama Menjadi Puncak Kasus Covid-19

Ardito menceritakan, di hari pertamanya bertugas, dia ingat dengan benar bila saat itu merupakan puncak kasus Covid-19 di Inggris. Lebih lanjut Doti menjelaskan, saat itu dirinya bahkan merasa berada di tegah memasuki tugas militer sebelum pergi ke medan pertempuran.

"Banyak dari kami belum pernah melihat pasien dengan gejala Covid-19 sebelumnya dan beberapa dari kami tidak bekerja di bangsal medis selama bertahun-tahun," ungkapnya.

4 dari 7 halaman

Tidak Semua Berjalan Sesuai Rencana

Pria berusia 26 tahun ini mengatakan, rencana kerja yang disusunnya tidak semua bisa berjalan lancar. Setidaknya sepertiga tenaga dokter harus mengisolasi diri akibat diduga terinfeksi Covid-19. Imbasnya, setiap pagi akan ada perombakan besar pada komposisi dokter yang bertugas. Semua ini dilakukan untuk mengisi kekosongan unit kerja serta memastikan setiap lingkungan satuan kerja memiliki staf yang memadai.

petugas medis china tangani pasien corona

©2020 China Daily via REUTERS

Selain itu, saat berada di lingkungan pasien, Dito dan rekan timnya sempat merasakan ketegangan. Terutama saat mengetahui masih banyak rumah sakit yang kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) di Inggris. Akan tetapi, kekurangan tersebut bisa cepat diatasi oleh otoritas kesehatan Inggris. Pihak mereka mengimpor APD dalam jumlah besar dari China.

5 dari 7 halaman

Bingung dan Frustasi dengan Informasi Penyakit Baru

Ardito tak menampik dirinya juga merasa bingung dan frustasi. Terlebih saat informasi-informasi baru mengenai penggunaan perangkat medis baru. Tak hanya itu, Dito dan rekan timnya juga merasa frustasi akan kabar seputar kekurangan APD yang berkembang.

"Terlepas dari situasi keterbatasan APD, kami semua bertekad untuk memberikan pasien kami perawatan terbaik," ujar Dito yang meraih sarjana spesialisasi imaging sciences di tahun 2015 ini.

6 dari 7 halaman

Mulai Terbiasa Menangani Pasien Covid-19

Dokter muda yang sempat jadi pengurus Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom dan pengurus Young Indonesian Professionals Association (YIPA) mengaku sudah mulai terbiasa menangani pasien Covid-19 setelah beberapa hari bertugas.

pasien corona

©2020 Photo

"Kami merasa lega mendapati bahwa sebagian besar pasien kami membaik dan akhirnya dipulangkan. Tetapi bagi mereka yang memburuk, itu adalah pilihan yang sulit antara  perawatan intensif atau tinggal di bangsal untuk perawatan paliatif,  memastikan mereka bisa senyaman mungkin meskipun menjelang  akhir hidup mereka," katanya.

7 dari 7 halaman

Beban Memilukan Sebagai Seorang Dokter

Dokter muda di RS Barnet ini mengaku jumlah kematian Covid-19 tidak seperti yang pernah disaksikan sebelumnya dalam kariernya. Apalagi, dirinya terkadang harus menyampaikan berita bila pasien meninggal dunia hampir setiap harinya. Baginya, ini merupakan bebas yang memilukan.

"Kami menelepon kerabat pasien setiap hari untuk menginformasikan tentang perkembangan dan mencoba memberikan kepastian," katanya.

[tan]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini