Uji Keberanian Seberangi Bengawan Solo dengan Jembatan Sesek
Merdeka.com - Bengawan Solo, selain terkenal dengan senandung lagunya. Sungai terpanjang di Pulau Jawa ini punya cerita unik. Tatkala musim kemarau, seiring dengan menyusutnya debit air di Bengawan Solo. Jembatan darurat dari bambu mulai digunakan warga sebagai jalan pintas, menggantikan perahu penyeberangan.
Jembatan sederhana ini tersusun dari bambu-bambu sebagai bantalan jalur. Tiang-tiang bambu menyangga jembatan di antara air yang mengalir. Dilihat sepintas, jembatan ini sukses bikin bergidik ngeri. Terbuat dari bambu, kokoh tidaknya tentu menjadi kekhawatiran.
Meski begitu, antrean jembatan darurat ini tak pernah sepi pengunjung. Antrean panjang kendaraan roda dua terlihat mengular, menunggu melintasi jembatan yang ada di atas Bengawan Solo ini.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Jembatan ini menghubungkan Kampung Sewu, Jebres, Solo dengan wilayah Desa Gadingan, Mojolaban, Sukoharjo. Meski membuat jantung berdebar saat melewatinya, jalur ini tetap menjadi rute favorit warga. Demi efisien waktu, warga memilih rute terpendek untuk mempersingkat jarak tempuh perjalanan.
Daripada harus memutar sejauh 5 kilometer untuk melewati Jembatan Mojo dan Tak heran jika di waktu waktu tertentu ramai dilintasi oleh kendaraan roda dua. Biasanya jembatan ini ramai di pagi hari dan sore hari saat warga pergi dan pulang bekerja.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Ukuran jembatan yang tak cukup lebar, hanya kendaraan roda dua saja yang mampu melintas. Seperti jalan setapak, jembatan ini hanya cukup untuk satu kendaraan saja. Alhasil, kendaraan roda dua ataupun yang akan melintas harus bergantian. Dari hulu ke hilir warga yang menyeberang Sungai Bengawan Solo ini silih berganti.
Untuk melewati jalan tersebut warga harus membayar Rp 1.000 hingga Rp 2.000 ribu sebagai ongkos penyeberangan. Warga sekitar bergotong-royong untuk mengatur lalu lintas dari kedua arahnya.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Keberanian dan keseimbangan memang menjadi tantangan saat melewati Jembatan Sesek. Sekali terpeleset, bisa jatuh dalam genangan Bengawan Solo. Tersusun dari bambu dengan pengaman paku dan tali, kokoh tidaknya Jembatan Sesek saat melintas menjadi kekhawatiran tersendiri.
Tentu saja, rasa takut jembatan ambrol saat melintas terkadang muncul di benak pikiran pengendara. Beberapa pengendara yang merasa ngeri saat melintas, meminta penumpang untuk berjalan kaki demi keselamatan.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Jembatan Sesek Bengawan Solo ini juga pernah memakan korban. Akibat terpeleset, seorang warga yang melintas jatuh dan hanyut di Bengawan Solo. Meski begitu, warga yang menyeberang tak pernah gentar. Mereka tetap setia melewati jalur darurat ini.
Derasnya air di Bengawan Solo juga pernah membuat Jembatan Sesek ini jebol.Namun, warga pun kembali membangun jembatan ini. Wacana pembangunan jembatan permanen sering berembus, tapi sampai saat ini belum direalisasikan. Jika arus air Sungai Bengawan Solo sedang deras dan debitnya naik, mereka memilih mengoperasikan perahu. (mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya