Adu Keras Suara Meriam Bambu, Nostalgia Permainan Tradisional Era 90-an
Merdeka.com - "Dhuar... dhuar.. dhuar" suara meriam bambu bersahutan. Menggelegar membisingkan telinga. Bunyi ledakan yang cukup keras membuat mereka semakin gembira. Yang paling keras suara ledakan, dialah yang terbaik di permainan meriam bambu ini.
Asap berwarna putih mengepul dari bilah-bilah bambu. Bocah-bocah ini kembali sibuk menyulutkan bara api di ujung bambu. Bermain meriam bambu memang tak cukup hanya sekali bunyi saja. Hati tak puas rasanya jika pulang tanpa menghasilkan suara ledakan yang paling keras.
Ya, bocah-bocah ini selalu berbangga ketika meriam bambunya mengeluarkan suara ledakan layaknya meriam sungguhan. Meski tak jarang, sering dapat omelan tetangga karena suara berisiknya.
©2021 Merdeka.com/Budi Prast
Anak era 90-an tentu sudah tidak asing dengan permainan yang satu ini, meriam bambu. Meriam bambu merupakan salah satu permainan tradisional cukup populer di seluruh wilayah nusantara. Selain disebut dengan istilah Meriam bambu, di berbagai daerah permainan ini dikenal juga dengan nama bedil bambu, mercon bumbung, long bumbung, dan seterusnya.
Tak seperti meriam sungguhan yang terbuat dari baja, meriam ini lebih bersifat tradisional, di mana bilah bambu adalah bahan bakunya. Untuk meledakkannya pun tak menggunakan peluru, melainkan pakai karbit dan minyak tanah.
©2021 Merdeka.com/Budi Prast
Cara membuatnya pun sederhana. Bambu dipotong beberapa ruas. Ruas bambu dilubangi, kecuali ruas terakhir di mana ada lobang sumbu.
Untuk membuat bunyi ledakannya, lubang terakhir diberi minyak tanah di dalamnya. Setelah itu, ujungya disulut dengan api. Dalam sekejap akan mengeluarkan suara "door" yang membuat orang-orang terkejut mendengarnya.
Permainan meriam bambu ini biasanya dibuat dari bambu besar dan berkulit tebal dan liat. Pasalnya, kekuatan ledak meriam bambu kadang membuat bambu pecah.
©2021 Merdeka.com/Budi Prast
Memang relatif sulit untuk membuat mainan ini. Namun ada rasa bangga yang menyelimuti saat berhasil membuat meriam bambu dan menghasilkan bunyi yang menggelegar. Bermain meriam bambu memang sebaiknya dilakukan di tanah lapang, agar tak mengganggu tetangga.
Tak melulu soal kecanggihan teknologi, mainan 90-an nampaknya memang lebih banyak dari mainan tradisional. Di mana tak butuh mesin canggih, untuk memainkannya.Dibanding anak-anak zaman sekarang, apalagi yang tinggal di perkotaan, mainan ini sudah punah bahkan tak dikenali lagi keberadaannya.
©2021 Merdeka.com/Budi Prast
Meriam bambu ini biasa dimainkan saat bulan Ramadan tiba. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, anak-anak di era 90-an yang biasanya memilih permainan ini sebagai pengantar waktu berbuka. Selain itu, meriam bambu juga biasa dimainkan tatkala menyambut hari besar umat Islam lainnya. Lantas ia pun menjadi tradisi.
Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini, nyaris tak ada yang memainkan tradisi leluhur ini. Ia ditelan permainan yang dianggap lebih kekinian.
(mdk/Tys)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya