Sang Penempa Pusaka Khas Indonesia, Warisan Nenek Moyang
Merdeka.com - Loncatan bunga api menyebar hampir menutupi seluruh ruang tempa. Logam panas menjadi teman setia para Empu. Empu merupakan julukan bagi para pembuat keris, senjata legendaris di tanah Jawa. Tak sembarang orang bisa menjadi seorang Empu. Hanya mereka yang berpengalaman dan memiliki ilmu tentang seluk beluk keris.
Tak banyak yang tahu bahan baku pembuatan keris adalah meteor. Tak cuma bahan baku pembuatan keris, tetapi termasuk tombak dan pedang. Proses pembuatan keris dengan meteor yang mengandung unsur titanium ini sudah dipakai oleh para Empu sejak abad 12-13 Masehi.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Seiring berjalannya waktu bahan baku pembuatan keris ini semakin sulit ditemukan. Inilah mengapa mulai abad ke-20 Masehi para Empu selalu memadukan bahan dasar meteor dengan logam lain, seperti nikel, kobal, perak, timah putih, kromium, antimonium, dan tembaga.
Proses pembuatan keris di Indonesia dari tanah Jawa, Bali, sampai berbagai pelosok Nusantara memiliki ciri khas yang berbeda. Akan tetapi, proses pembuatan dasarnya hampir mirip. Di awali dengan upacara Slametan agar keris yang dihasilkan lebih berkualitas. Dalam upacara Slametan disiapkan tumpeng, gudangan, ayam, buah, lauk-pauk, dan aneka macam bunga untuk mengiringi setiap doa yang dipanjatkan.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Bilah besi mulai dipanaskan hingga berpijar dan dipanaskan berulang-ulang. Inilah kegiatan rutinan para Empu di dusun Banaran, Ngringo, Jaten, Karanganyar yang sampai sekarang masih tetap lestari. Bilah besi yang sudah dipanaskan berulang dan siap dibersihkan, mulai dilipat seperti huruf U serta disisipkan lempengan pamor dari batu meteorit di dalamnya.
Lanjut kembali dipanaskan dan ditempa berulang-ulang sampai bahan menempel dan memanjang. Bila sudah saatnya sudah pada tahap dipotong menjadi dua, keduanya akan diikat seperti bentuk kue sandwich untuk dipijarkan dan ditempa untuk disatukan. Terakhir, tahap membentuk pesi (tangkai keris), bengkek (muka keris), dan bilah menjadi berlekuk atau lurus saja.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Karakteristik keris Indonesia tak dimiliki oleh senjata-senjata tradisional milik bangsa lain. Istimewa sekali bukan? UNESCO mendefinisikan keris memiliki bentuk asimetris. Istilah Jawa menyebutnya condong leleyang artinya derajat kemiringan sebuah keris dari garis horizontal dan berbatasan dengan gonjo (bagian keris paling bawah tepat di atas pegangan). Derajat kemiringan ini yang membuat keris seolah berbentuk belati asimetris.
Awal mula kemunculan keris yang menyebar dari tanah Jawa sampai ke kawasan Asia Tenggara adalah dari abad ke-10 Masehi. Meski sebenarnya, secara prototipe keris sudah ada dan ditemukan di beberapa bangunan candi di Indonesia. Di Candi Prambanan pada abad ke-9 dan Candi Borobudur pada abad ke-8. Bentuk keris yang ditemukan pada masa itu berbeda dengan keris hasil lestarian penduduk pada abad ke-10 sampai sekarang.

©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Dalam proposal Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage and Humanity oleh UNESCO pada 2004 dijelaskan secara prinsipil memiliki fungsi sebagai tradisi, fungsi sosial, seni, filosofi, dan mistis. UNESCO mencatat ada 120 varian keris di Indonesia. Bila bicara kerumitan maknawi keris, simboliknya lebih mengarah pada fenomena budaya Jawa.
Tak cuma di Solo, tetapi kota Yogyakarta masih mengandalkan keris untuk pelengkap upacara adat dan berbagai macam ritual khusus. UNESCO mencatat ada lebih kurang lima belas etnis di Indonesia yang menjadi pengusungnya. Jawa, Madura, Bali, Lombok, Palembang, Sumbawa, Jambi, Minangkabau, Banjar, Kutai, Bugis, dan Toraja. (mdk/Ibr)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya