Telkomsel soal Saham GoTo Anjlok: Fokus Kami Jangka Panjang

Kamis, 19 Mei 2022 06:13 Reporter : Merdeka
Telkomsel soal Saham GoTo Anjlok: Fokus Kami Jangka Panjang ilustrasi GoTo. ©2022 Merdeka.com

Merdeka.com - Vice President Corporate Communications Telkomsel, Saki Hamsat Bramono angkat bicara mengenai ramai anjloknya saham GoTo sebesar 50 persen. Menurutnya, langkah strategic investment Telkomsel ke GoTo di masa depan akan menciptakan new revenue yang sangat berpotensi didapatkan dari synergy value dengan memanfaatkan keunggulan aset kedua perusahaan.

"Sehingga langkah strategis tersebut memiliki fokus jangka panjang dan tidak terbatas pada capital gain jangka pendek semata," ujar Saki kepada Merdeka.com melalui pesan singkat, Kamis (19/5).

Saki melanjutkan, sejak awal berinvestasi di Gojek pada akhir tahun 2020, Telkomsel tetap optimis dengan kolaborasi yang terjalin melalui synergy value dari kapabilitas kedua perusahaan.

"Maka pergerakan nilai saham yang fluktuatif menjadi hal yang wajar, di mana akan mengikuti perkembangan pasar, sehingga dampaknya bisa saja berjalan dalam jangka pendek saja dan tetap memiliki peluang untuk tumbuh sesuai dengan konsistensi GoTo dalam pengembangan bisnis khususnya di sektor digital secara jangka panjang," kata dia.

Sebelumnya, kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,50 persen membuat indeks seluruh saham global mengalami tekanan jual.

Investor baik itu di Indonesia maupun global berbondong-bondong melepaskan sahamnya dan beralih mengkonversi uangnya ke dolar Amerika. Saham yang banyak dilepas oleh investor saat ini adalah emiten di perusahaan teknologi.

Bahkan Softbank melalui investasinya Vision Fund mencatatkan kerugian rekor kerugian USD 27 miliar atau Rp395 triliun akibat penurunan harga saham efek dari kebijakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuannya pekan lalu. Sahamnya pun ditutup anjlok 11 persen jika dibandingkan harga saham bulan lalu.

Saham perusahaan teknologi di Indonesia juga mengalami nasib yang mirip dengan investasi yang dilakukan oleh Softbank. Emiten bank digital seperti Bank Jago (ARTO) dan market place seperti BukaLapak (BUKA) dan Gojek Tokopedia (GOTO) mengalami koreksi yang cukup dalam.

[faz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini