Rumitnya Facebook merancang kecerdasan buatan perangi terorisme

Senin, 4 Desember 2017 16:08 Reporter : Fauzan Jamaludin
Rumitnya Facebook merancang kecerdasan buatan perangi terorisme Ilustrasi Teroris. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Media sosial kerap dijadikan kambing hitam sebagai tempat penyebaran konten-konten terorisme. Telebih bila menilik hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Miami sepanjang 2015 sampai dengan 2016, terlihat cukup mencengangkan.

Betapa tidak, 106.000 aktivis pro ISIS seluruhnya menggunakan media sosial untuk menggempur paham radikalisme. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 166 grup di media sosial yang digunakan mereka untuk kepentingan membangun jaringan.

Dari 166 grup di media sosial itu, 90.000 pesan terkirim setiap harinya. Pengguna media sosial seperti digempur kanan kiri dengan informasi-informasi yang pro ISIS.

Nampaknya, ISIS memang paham betul betapa efektifnya media sosial ini sebagai alat ‘dakwah’. Menyampaikan pandangan-pandangannya untuk bisa diterima akal sehat para pengguna media sosial. Terutama anak-anak muda.

Setali tiga uang, perusahaan-perusahaan media sosial pun jengah dengan tuduhan-tuduhan yang selalu menyudutkannya atas nama sarang teroris. Alhasil, seperti Facebook berjibaku menumpas konten-konten yang sarat radikalisme. Tentu, ini demi masa depan perusahaan besutan Mark Zuckerberg.

Segenap usaha telah dilakukan. Berkumpul dengan belasan perusahaan teknologi lainnya untuk membahas cara terbaik melawan teroris. Namun sayangnya, hal itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Ternyata ada banyak persoalan yang sangat sulit harus dipecahkan.

Salah satunya adalah bagaimana mengidentifikasi konten teroris yang jumlahnya relatif kecil di platform yang cukup besar seperti Facebook. Ini semacam mencari sebuah kutu. Sulit. Belum lagi dengan penyampaian bahasa yang beragam semakin membuat kusut persoalan ini.

Maka, Facebook terpaksa menggunakan banyak orang untuk meninjau konten yang berpotensi melanggar kebijakan dan menghapusnya.

Nampaknya, sebagai perusahaan teknologi, Facebook tak ingin hanya mengandalkan tenaga manusia. Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan diikutsertakan untuk mengatasi persoalan ini. Berhasilkah?

Keterlibatan AI ternyata memiliki kontribusi yang nyata membantu membersihkan kutu-kutu teroris yang menempel di platform milik mereka. Namun bila melihat ke belakang dalam pembuatannnya juga cukup rumit.

Sama rumitnya saat masa awal membersihkan konten radikalisme. Bagaimana membuat sistem kompeterisasi yang mampu membaca bila gambar atau teks tersebut bermuatan radikalisme.

“Sebuah solusi yang ada untuk foto tidak akan selalu bisa menjadi solusi untuk video dan teks. Sebuah solusi yang berhasil untuk mengenali ikon teroris dalam sebuah gambar, tidak akan selalu bisa membedakan antara teroris yang membagikan foto untuk melakukan perekrutan dan sebuah organisasi berita maupun organisasi berita yang membagikan foto sejenis untuk mengedukasi publik,” ujar Head of Counterterrorism Policy, Facebook, Brian Fishman.

Seiring dengan perkembangan waktu, semenjak Juni lalu, sistem AI yang dikembangkan Facebook diklaim sudah cukup memuaskan. Mereka menyampaikan 99 persen konten terkait teror ISIS dan Al Qaeda telah terhapus sendiri sebelum tenaga manusia turut membantu.

“Bahkan sebelum konten tersebut diunggah di situs ini. Kami melakukan hal ini melalui penggunaan sistem otomatis seperti pencocokoan foto dan video dan pembelajaran mesin berbasis teks. Begitu kami menemukan konten teror, kami menghapus 83 persen salinan postingan dalam waktu satu jam setelah konten itu diunggah,” jelasnya.

Kendati begitu, menerapkan penggunaan AI untuk kontraterorisme tidaklah sesederhana itu. Tergantung pada tekniknya, diperlukan dokumentasi database dengan hati-hati atau meminta kode data manusia untuk melatih mesin.

Sebuah sistem yang dirancang untuk menemukan konten dari satu kelompok teroris tertentu mungkin tidak akan dapat digunakan untuk kelompok lainnya karena adanya perbedaan bahasa dan gaya dalam propaganda mereka. [idc]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini