Ilmuwan Buktikan Air Bisa Menjadi Terobosan Baterai Baru Pengganti Lithium

Ada rahasia yang ditemukan agar baterai berbahan dasar air mampu bekerja.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Ilmuwan Buktikan Air Bisa Menjadi Terobosan Baterai Baru Pengganti Lithium
Ilmuwan Buktikan Air Bisa Menjadi Terobosan Baterai Baru Pengganti Lithium (© Carelle Mulawa-Richards, RMIT University)

Ada rahasia yang ditemukan agar baterai berbahan dasar air mampu bekerja. 

Air dan perangkat elektronik biasanya tidak dapat tercampur, namun ternyata, baterai dapat memperoleh manfaat dari sejumlah H2O.

Dengan mengganti elektrolit kimia berbahaya yang digunakan dalam baterai komersial dengan air, para ilmuwan RMIT Universitas Melbourne, Australia telah mengembangkan 'baterai air' yang dapat didaur ulang. Ini bisa menjadi alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Dok. Istimewa
© Carelle Mulawa-Richards, RMIT University

'Baterai air' secara resmi dikenal sebagai baterai ion logam berair. Perangkat ini menggunakan logam seperti magnesium atau seng, yang lebih murah untuk dirakit dan tidak terlalu beracun dibandingkan bahan yang saat ini digunakan pada jenis baterai lainnya.

Baterai menyimpan energi dengan menciptakan aliran elektron yang berpindah dari ujung positif baterai (katoda) ke ujung negatif (anoda).

Baterai menyimpan energi dengan menciptakan aliran elektron yang berpindah dari ujung positif baterai (katoda) ke ujung negatif (anoda).
Dok. Istimewa

Mereka mengeluarkan energi ketika elektron mengalir berlawanan arah. Cairan dalam baterai berfungsi untuk memindahkan elektron bolak-balik antara kedua ujungnya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Dalam baterai air, cairan elektrolitnya adalah air dengan sedikit tambahan garam, bukan sesuatu seperti asam sulfat atau garam litium. Yang terpenting, tim di balik kemajuan terbaru ini menemukan cara untuk mencegah baterai air ini mengalami korsleting. 

Hal ini penting karena terjadi ketika pertumbuhan logam kecil runcing yang disebut dendrit terbentuk pada anoda logam di dalam baterai, menerobos kompartemen baterai.

Meskipun teknologi baru ini kemungkinan tidak akan menggantikan baterai lithium-ion dalam waktu dekat, namun dengan penelitian dan pengembangan lebih lanjut, baterai air dapat menjadi alternatif yang aman dibandingkan baterai lithium-ion dalam satu dekade atau lebih.

Hal itu diakui peneliti utama, ilmuwan kimia Tianyi Ma dari RMIT Universitas di Melbourne, Australia.
 

Baterai litium-ion, yang dapat ditemukan di semua perangkat mulai dari laptop dan ponsel hingga sepeda listrik dan mobil, dapat menjadi terlalu panas dan terbakar dalam kasus yang ekstrim.

Hal ini karena litium merupakan logam yang cukup aktif dan terendam dalam elektrolit organik.

Rekomendasi