Bertahun-tahun sebelum Rusia menginvasi Ukraina, Oleksiy Savchenko membantu mengembangkan salah satu senjata paling mematikan dan murah yang sekarang digunakan oleh ribuan anggota militer Ukraina.
Pada tahun 2014, ia termasuk di antara para pengunjuk rasa yang berdemo selama berbulan-bulan di Kyiv dan sukses menggulingkan Presiden pro-Rusia Viktor Yanukovych.
Sebagai pembalasan, Moskow mencaplok Krimea dan memicu perang separatis di Tenggara Ukraina. Hal ini menyebabkan Savchenko, bersama dengan para aktivis yang berpikiran sama, untuk memulai sebuah organisasi non-pemerintah yang disebut Army SOS.
Kelompok itu mengumpulkan uang untuk membeli jaket antipeluru dan perlengkapan militer lainnya. Tujuannya untuk melengkapi persenjataan relawan yang ikut berdemo. Mereka tentu tidak terlatih dan kurang fasih menggunakan senjata. Gara-gara itu, Army SOS mencari solusi dengan teknologi.
Mereka meminta sekelompok pengembang perangkat lunak di Kyiv untuk memasang peta satelit dan data militer Ukraina di tablet dan telepon pintar. Perangkat lunak itu ternyata mampu mengubah semua tablet berbasis Android yang berharga USD 150 atau lebih menjadi unit dasar sistem panduan presisi otomatis.
Tablet ini dapat memperoleh dan mengirimkan koordinat untuk mengoreksi tembakan artileri dari penggunanya, baik drone maupun radar. Dengan begitu, ini dapat menghitung jarak ke target dan tembakan langsung dari setiap jenis artileri yang digunakan di militer Ukraina.
Tablet ini juga mendapatkan data meteorologi yang dapat memengaruhi setiap bidikan – kecepatan dan arah angin, suhu, serta kelembapan. Menariknya, jika tidak ada akses web untuk menghubungi pusat komando, tablet dapat menggunakan sistem stasiun radio portabel.
"Ini cepat dan tepat," kata Savchenko seperti dilaporkan AlJazeera, Senin (26/9).
Army SOS dan pengembang perangkat lunak menyerahkan kode perangkat lunak kepada militer Ukraina secara gratis pada tahun 2018. Hal yang menarik lainnya adalah, ketika tablet disita oleh musuh dapat dibuat mati secara remote langsung dari server.
Dan bahkan jika anggota layanan Rusia atau separatis mendapatkan tablet operasi, atasan mereka sangat menyarankan untuk tidak menggunakannya. Pasalnya, hal itu justru bisa membuat bahaya.
"Orang dapat menemukan keju gratis hanya di perangkap tikus. Perangkat lunak Ukraina seperti perangkap tikus," tulis sebuah publikasi militer Rusia pada Mei lalu.
Penulis anonim artikel tersebut menuduh bahwa data dari setiap tablet berakhir di Amerika Serikat – dan bahwa memasuki peta Rusia akan memberikan informasi penting kepada musuh. Publikasi tersbuet juga menyesalkan tidak adanya perangkat lunak serupa di militer Rusia.