Kampanye bahwa ajang Internet Governance Forum (IGF) merupakan forum tempat berkumpulnya multistakeholder ternyata hanya isapan jempol saja.
Hal itu terbukti dengan tidak dibolehkannya sejumlah aktivis TI dari Yayasan Air Putih hanya karena belum melakukan registrasi sebelumnya. Di antara aktivis tersebut termasuk juga Wakil Ketua ID-SIRTII Muhammad Salahudin.
Menurut Salahuddin yang akrab dipanggil Didin, kemarin peserta pelatihan dan aktivis Air Putih malah diusir karena tidak tahu kalau ternyata harus register sehingga tidak ada yang pakai badge, padahal pihaknya disuruh eksibisi.
"Nggak ada pemberitahuan, ketika mau daftar, eh malah diusir security,” keluhnya.
Padahal, tambah Didin, katanya IGF itu open free egaliter, mengajak semua pihak atau multistakeholder untuk berpartisipasi. "Gimana partisipasi wong mau daftar saja sudah diusir," ketusnya.
Keluhan mengenai kacaunya acara IGF juga disampaikan sejumlah wartawan yang mengaku susah mendapatkan informasi, bahan, maupun materi.
"Di media center saja tidak ada PC-nya, terpaksa mengetik pakai handset dengan WiFi yang kurang lancar," keluh seorang wartawan.
Seperti diketahui, dalam sehari terdapat sedikitnya 20 workshop yang pelaksanaannya berbarengan sehingga tidak mungkin bagi wartawan untuk mengikuti semua workshop. Sayangnya, panitia kurang tanggap dengan menyediakan newsroom agar materi workshop lainnya juga bisa diakses semua wartawan.
"Ketika tanya panitia, mereka malah bilang tidak tahu," ujarnya sambil pergi meninggalkan Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).