Milenial Mandiri di Era Industri Digital

Kamis, 15 Agustus 2019 19:45 Reporter : Angga Yudha Pratomo
Milenial Mandiri di Era Industri Digital Ilustrasi Ekonomi Digital. ©2018 cigionline.com

Merdeka.com - Ponsel milik Gracia Jessica berdering. Di ujung telepon, sahabatnya meminta dia membuat 200 kotak brownies untuk acara kantor dua hari lagi. Permintaan disanggupi. Harga pun disepakati.

Masih ada waktu satu hari menyiapkan kebutuhan. Memang tidak bisa pesan dadakan. Jessica hanya melayani sistem preorder. Minimal satu hari sebelum pengiriman.

Esok hari Jessica mulai mempersiapkan bahan pesanan. Semua baru bisa dikerjakan selepas kerja sebagai karyawati bank nasional swasta. Semua dikerjakan saat malam.

Sejak jam 10 malam, Jessica sudah sibuk di dapur. Belum sempat dia tertidur. Tangan dia bergerak teratur. Memegang wadah plastik, mengaduk adonan kue brownies berisi cokelat, terigu dan telur.

Dia harus pintar mengatur waktu. Semua pesanan harus selesai maksimal pukul 7 pagi. Apalagi pesanan ini khusus untuk acara sebuah kantor di bilangan Kuningan, Jakarta. Menjaga kualitas jadi perhatian utama.

Setelah subuh pesanan itu selesai. Kemudian kue dikemas. Satu kotak berisi empat potong. Tampilannya jadi lebih menarik. "Semua sengaja dikerjakan dari malam. Saya ingin menjaga kualitas kue," cerita Jesica kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Kue manis siap dikirim. Semua dimasukkan dalam dua plastik besar. Perempuan 27 tahun ini membawa pesanan menggunakan bus. Berangkat dari Cileungsi sekaligus menuju kantornya di kawasan Bundaran HI. Dari kantor pesanan itu dikirim ke pelanggan menggunakan aplikasi ojek online.

Bingkisan kue brownies milik Gracia Jessica ©2019 Merdeka.com/Instagram @brownie.plus.pie

Hadirnya teknologi sangat membantu Jessica dalam menjalankan usaha sampingan. Sudah dua tahun lebih dia menjalankan bisnis kecil-kecilan. Media sosial Instagram dengan akun @brownie.plus.pie menjadi wadah memamerkan karyanya. Dia juga memanfaatkan situs e-Commerce Tokopedia. Sehingga memudahkan para pelanggan khususnya urusan pembayaran. Pikirannya bisa lebih fokus mempertahankan kualitas kue tiap pesanan.

Hasilnya lumayan manis. Setidaknya tiap bulan pesanan diterima bisa sampai 50 kotak brownies berukuran 10cm x 30cm. Membuat dirinya semakin mandiri sebagai perempuan milenial. "Sangat terbantu banget adanya teknologi. Semua pesanan ada di dalam genggaman. Dan saya tidak dipusingkan dengan urusan pembayaran," ujarnya.

Kemajuan teknologi digital memang memudahkan setiap orang mengembangkan usaha. Terutama melalui sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Kondisi ini sejalan dengan rencana pemerintah untuk meningkatkan ekonomi digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat capaian usaha melalui UMKM memberi dampak positif sebanyak 50 persen bagi perekonomian nasional. Bila semuanya beralih ke ranah digital maka UMKM akan menciptakan multiplier effect dan tidak menutup kemungkinan ekonomi digital Indonesia semakin terangkat.

Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2017, menunjukkan sebanyak 3,79 juta UMKM di Tanah Air memanfaatkan sistem online dalam memasarkan produknya. Angka ini terus naik tiap tahun. Pertumbuhan bisnis digital ini membuat pelaku usaha lebih produktif bertransaksi jual beli dengan memanfaatkan teknologi digital.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyebut ekonomi digital Indonesia mencapai USD 130 miliar atau lebih dari 11 persen dari GDP Indonesia pada 2020. Nantinya bakal banyak lahir miliarder baru berusia tidak lebih dari 40 tahun.

Pemerintah meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi digital sudah membuat teori baru. Dengan cara ini cukup efektif menurunkan tingkat kemiskinan maupun kesenjangan di Indonesia. "Pertama, ekonomi digital senantiasa berbasis ekonomi-ekonomi yang berbagi. Kedua menumbuhkan digital uang, menumbuhkan enterpreneur-entrepreneur baru," ucap Rudiantara.

Menkominfo Rudiantara ©2019

Kemampuan Indonesia di bidang digital mulai terlihat. Sudah ada aplikasi, seperti GO_JEK, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka menjadi unicorn bahkan decacorn. Mereka perusahaan digital yang mempunyai valuasi minimal satu miliar dolar.

Bukan hanya sektor UMKM. Industri musik juga terbantu kehadiran teknologi. Para pegiat musik harus segera menyesuaikan diri. Mengubah cara konvensional dengan memanfaatkan dunia digital.

Erik Kristianto alias Erix Soekamti, vokalis sekaligus pembetot bass dari band Endank Soekamti ini termasuk musisi paling giat memanfaatkan dunia digital. Semua dimulai ketika tahun 2010 silam. Saat grup musiknya keluar dari label besar.

Sejak tahun 2001, band Endank Soekamti menancapkan benderanya di belantika musik Tanah Air. Keputusan keluar label justru keputusan besar. Mereka harus mengambil resiko, band dan manajemen kehilangan modal.

Erix dan timnya dipaksa putar otak. Mencari cara untuk tetap berkarya. Pemanfaatan media sosial jadi solusi. Diawali dengan membuka preorder album Endank Soekamti. Tiap hari mereka woro-woro lewat dunia digital. Di samping jualan, proses edukasi juga tetap dijalankan.

Endank Soekamti mengambil jalan mandiri. Segudang karya lagu sudah dihasilkan. Eksistensi itu tak lepas dari dukungan para Kamtis, sebutan penggemar Endank Soekamti. Jumlahnya besar. Erix menyebut penggemarnya mencapai 2 juta orang di seluruh penjuru Indonesia.

Hasil preorder album cukup mencengangkan. Erix mengaku seribu orang langsung melakukan pemesanan ketika baru diumumkan grup musik asal Yogyakarta ini. Apresiasi ribuan penggemar itu menjadi modal.

Keputusan keluar dari label sudah bulat. Mereka sadar hanya band daerah. Memang semua kesempatan jadi band papan atas ada di Jakarta. Namun, Erix dan kawan-kawan tak ingin meninggalkan Yogyakarta. Dia merasa Endank Soekamti merupakan aset. Sehingga harus tetap menjaga eksistensi dan berkembang di daerah berjuluk Kota Pelajar itu.

"Efeknya kami jadi band yang sangat eksis secara nasional tapi tetap tinggal di daerah. Dan tetap berkontribusi untuk Indonesia," kata Erik kepada merdeka.com.

Ucapan Erix terbukti. Dunia digital sangat membantu. Berbagai gerakan maupun seabrek pemikiran disampaikannya lewat video blog (Vlog) dan diunggah ke media sosial Youtube. Cara itu justru mengikat para penggemar. Mereka merasa makin dekat dengan personel band idola.

Konten Positif

Melalui Youtube, Erix membuat program DOES atau Diary of Erix Soekamti. Konten video berisi mengenai keseharian, kegiatan, dan pemikiran dirinya. Cara itu justru menambah segmen pasar. Selain Kamtis, hadir pula DOES Squad. Ini sebutan bagi mereka penggemar konten video bapak tiga anak ini.

Mengemas video dengan kualitas bagus, Erix banyak bercerita tentang mimpi yang ingin diraih. Tak sedikit sudah terealisasi. Dia bahkan menyebut media sosial kekuatan baru.

Salah satu mimpi Erix telah tercapai, yakni mendirikan kampus bernama DOES University. Memang bukan lembaga pendidikan resmi. Dia mengibaratkan ini seperti Corporate Social Responsibility (CSR) dari Endank Soekamti. Di dalamnya ada kelas animasi dan programmer.

Semua siswa tidak dipungut biaya alias gratis. Modal mendirikan kampus bakat ini menggunakan cara sama. Hasilnya bukan untuk keuntungan pribadi. Semua dipakai untuk menghidupkan DOES University.

Erix Soekamti ©2019 Merdeka.com

Semua tenaga pengajar langsung dari pelaku industri. Mereka datang tanpa minta bayaran. Rela berbagi ilmu. Banyak para pengajar justru mengidolakan sosok Erix, sehingga mereka dengan senang hati untuk berbagi.

Dengan kehadiran pengajar sesuai bidangnya, para siswa akan menjadi lebih paham. Sehingga mereka fokus dan diharapkan ketika lulus segera bersaing dengan para programmer lain di dunia kerja. "Justru ilmu datang dari industri itu sendiri. Jadi akan sangat relevan karena yang ngajarin industrinya," dia menjelaskan.

Erix tak pernah pesimis menjalankan semua keinginannya. Seperti tato di lengan kirinya bertuliskan I'M POSSIBLE. Dia meyakini segala keinginan bisa tercapai. Salah satu keinginannya ingin menguasai darat, laut dan udara. Dua di antaranya sudah dilakoni. Kini Erix sedang menjajal kemampuan menjadi pilot. Belajar mengendarai pesawat terbang.

Beragam konten positif di dunia maya sudah seharusnya diperbanyak. Banyak dampak sudah dirasakan. Membentuk masyarakat yang unggul dan mandiri. Apalagi saat ini pemerintah sedang fokus mendorong revolusi industri 4.0.

Kepala Biro Humas Kominfo, Ferdinandus Setu, menyebut banyak konten berbau ekstremisme maupun pornografi membahayakan generasi muda Indonesia. Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan. "Ini sama-sama berbahaya. Radikalisme dan terorisme itu berbahaya, sama berbahayanya seperti pornografi," kata Ferdinandus di Jakarta, Sabtu pekan lalu.

Upaya meredam konten pornografi sedang giat dilakukan. Salah satunya menurunkan konten beraroma asusila di Youtube. Begitu pula dengan konten mengarah ekstremisme yang bisa mengancam ketahanan negara.

"Jika anak Indonesia terpapar terorisme artinya cinta terhadap bangsa, cinta terhadap Indonesia, cinta kepada rakyat Indonesia itu menjadi lemah," jelas dia.

Kominfo merasa tindakan tegas itu bukan sebagai pembatasan. Mereka tetap memberikan ruang bagi anak muda Indonesia berkarya lewat dunia digital. Namun, karya yang dibuat harus sesuai dengan koridor hukum di Indonesia. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini