Melihat Kekuatan Pasukan Siber China

Kamis, 12 September 2019 08:54 Reporter : Merdeka
Melihat Kekuatan Pasukan Siber China ilustrasi hacker. © Rt.com

Merdeka.com - "Cyber army sebenarnya istilah untuk pegiat komputer dengan kemampuan di atas rata-rata yang membela negaranya. Pegiat komputer ini bisa sukarelawan atau memang khusus dibina oleh negara. Cyber Army umumnya bergerak underground, memantau, defensif dan melakukan ofensif atasi target yang dianggap penting atau diincar," tutur Alfons Tanujaya dari Vaksincom.

"Cyber army Cina termasuk yang terkuat di dunia," lanjutnya.

Di Cina, nama satuan militer di bawah pemerintah adalah People Liberation Army (PLA). Berdasarkan data tahun 2018 dari International Institutes for Strategic Studies (IISS), PLA merupakan satuan militer terbesar di dunia dengan jumlah pasukan aktif sebanyak lebih dari empat juta orang. Tidak berhenti di sana, berdasarkan data IISS tahun 2019, Cina menduduki posisi kedua penempatan anggaran militer tertinggi setelah Amerika Serikat (AS), yaitu sebesar USD 168,2 miliar.

PLA memiliki lima angkatan militer. Ada Angkatan Darat, Angkatan Udara, Navy, Angkatan Roket, dan Angkatan Strategic Support. Jika berbicara mengenai angkatan yang spesialis untuk peperangan angkasa, siber, dan psikologis, Strategic Support (SS) menjadi angkatan yang tepat.

Berdasarkan laporan dari Departemen Pertahanan AS pada Mei 2019, PLA membentuk SS pada tahun 2016. SS sendiri bukanlah dibentuk dari nol tetapi hasil reformasi dari PLA Service and General Staff Department. PLA ingin menyentralisasikan misi-misi perang angkasa, siber, elektronik, dan psikologis dalam satu angkatan.

"Pemerintah Cina percaya bahwa mencapai dominasi informasi dalam spektrum elektromagnetik dan menghalang penggunaannya oleh musuh menjadi suatu kebutuhan untuk tetap unggul secara strategis dalam konflik," tulis laporan tersebut.

SS terbagi dalam dua departemen. Departemen pertama bertanggung jawab untuk kegiatan militer luar angkasa bernama Space System Departement. Departemen kedua bekerja di bidang operasi berbasis informai bernama Network System Departement.

Misi-misi Network System meliputi perang siber, pengintaian berbasis teknologi, perang elektronik, dan perang psikologis.

"Dengan meletakkan misi-misi tersebut dalam satu payung organisasi, Cina berniat untuk memperbaiki berbagai tantangan koordinasi operasional yang menghalangi pembagian informasi sebelum struktur organisasi direformasi," tulis laporan.

SS merupakan angkatan yang besar dan cocok dengan keadaan modern ini tetapi sebenarnya dari manakah inspirasi PLA membentuk SS?

Lyu Jinghua dari Carnegie Cyber Policy Initiative mengatakan bahwa konsep perang siber telah menjadi sebuah topik diskusi sejak 1990-an, terinspirasi dari bagaimana militer AS menggunakan teknologi pada Perang Teluk dan operasinya di Kosovo, Afghanistan, dan Irak.

"Cina mulai menyadari bahwa tidak akan mungkin lagi bisa melindungi negaranya tanpa mengikuti pergantian bentuk baru peperangan dimana teknologi informasi berperan penting," kata Lyu.

Dua tahun setelah Perang Teluk selesai, Cina mengganti pedoman perangnya menjadi "Memenangkan peperangan lokal dengan strategi perang internasional, terkhusus dengan teknologi. pada tahun 1993. Kemudian dalam pedoman bernama China National Defense pada tahun 2004, kalimatnya berganti menjadi Informasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kemampuan berperang pasukan bersenjata."

Pada tahun 2013, Cina mulai secara publik mefokuskan peperangan siber secara menyeluruh. Hal itu tertuang dalam studi yang dilakukan oleh Akademi Sains Militer yang menonjolkan dunia siber telah menjadi ruang baru dan penting dalam militer. Hal senada juga dikemukakan dalam pernyataan keluaran Kementerian Pertahanan Nasional pada 2015 berjudul Chinas Militiary Strategy.

"Luar angkasa dan ruang siber telah menjadi puncak komando baru dalam kompetisi strategis semua pihak. Bentuk perang telah berevolusi dengan cepat menuju informasialisasi," tulis Menteri Pertahanan.

Jika disimpulkan, Cina mengerahkan segala usaha membentuk pasukan siber sebagai respon dari praktik perang siber yang dilakukan negara lain, bukan untuk mengisi kekurangan strategi.

Dengan demikian, seberapa besar dan kuatkah pasukan siber Cina?

Lyu menjelaskan setidaknya ada enam kriteria mengukur kemampuan siber suatu negara, yaitu riset dan pengembangan (R&D) teknologi serta kapasitas inovasi, perusahaan teknologi informasi, skala infrastruktur internet, influensi situs web, diplomasi internet serta kapabilitas regulasi asing, kekuatan militer siber, dan strategi siber yang komprehensif.

"Jika mengevaluasi dari kriteria-kriteria ini, kekuatan siber Cina masih tertinggal jauh dari AS," tulis Lyu.

Lyu membandingkan dengan data ICT Development Index tahun 2015 hingga 2017 dari International Telecommunication Union (ITU). Dari 176 negara, Cina menduduki posisi ke 82 tahun 2015, 81 pada 2016, dan 80 pada 2017. AS sendiri menduduki peringkat 16 pada tahun 2017, dengan Islandia menduduki peringkat pertama di tahun yang sama.

Bagi Lyu, influensi global Cina di internet yang kurang kuat disebabkan karena penggunaan bahasa Cina di internet masih kecil. Pernyataannya didukung survey W3Techs pada September 2019, hanya sebesar 1,6 persen sedangkan bahasa Inggris mencapai 54,4 persen.

Selain itu, internet di Cina juga menjadi salah satu yang paling sering terkena serangan. Beijing Knownsec Information Technology menuliskan dalam laporannya pada Februari lalu bahwa rata-rata Cina menerima lebih dari 800 juta serangan Distributed Denial of Service (DDoS) pada tahun 2018. Serangan memuncak pada Agustus dengan total bisa lebih dari 4,9 miliar serangan dalam sehari.

Laporan tersebut juga menuliskan bagaimana 97 persen serangan tersebut berasal dari peretas domestik dan hanya tiga persen dari pihak asing. Jumlah serangan pada situs pemerintah dan finansial dari pihak asing lebih tinggi dari jenis situs lain.

"Maksud dari statistik-statistik ini bukanlah untuk menunjukkan seberapa lemah Cina itu tetapi untuk menonjolkan bahwa penaksiran kekuatan siber yang lebih komprehensif dan objektif sangat diperlukan," tulis Lyu.

Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa Cina tetap saja memiliki kekuatan dalam peperangan siber.

Joe McReynolds dari The Jamestown Foundation mengatakan pada tahun 2015 bahwa pada tahun-tahun dekat saat itu, publikasi resmi PLA telah terus menerus mengatakan bahwa militer Cina tidak pernah mendukung serangan atau aktivitas apapun dari peretas. Kendati demikian, bukti-bukti intrusi siber dari Cina terus menumpuk.

"Publikasi-publikasi tersebut tidak hanya secara eksplisit membuktikan bahwa Cina telah membangun jaringan serangan siber tetapi juga membaginya ke dalam tiga bentuk," tulis Joe.

Tiga bentuk yang dimaksud adalah militer spesialisasi perang siber dari PLA, kelompok lain di bawah PLA, dan kelompok non-pemerintah. Militer terspesialisasi PLA adalah unit khusus yang direkrut untuk mengurus serangan dan pertahanan siber. SS merupakan salah satunya.

Kelompok lain adalah para ahli perang siber dari berbagai organisasi seperti Kementerian Keamanan Negara (MSS), Kementerian Keamanan Publik (MPS), dan lainnya yang diberi otoritas dari militer untuk melakukan operasi perang siber.

Kelompok non-pemerintah adalah pihak dari luar yang dengan spontan berhadapan dengan serangan dan pertahanan siber tapi bisa diiorganisasikan dan digerakkan untuk operasi perang siber.

"Cyber army negara dilatih dengan membuat lembaga khusus seperti NSA di Amerika. Tetapi banyak cyber army non-pemerintah yang justru lebih pintar dan berpengalaman dan tidak mewakili negara tetapi bertindak berdasarkan kepedulian, rasa keadilan, dan solidaritas," ujar Alfons.

Berbagai bukti yang dimaksud Joe sendiri datang dari berbagai negara. Pada tahun 2013, ABC News Australia menuliskan bahwa dokumen cetak biru rahasia tentang markas baru Australian Security Intelligence Organisation (ASIO) telah dicuri dalam serangan siber yang dilakukan dari server Cina.

Selanjutnya, CBC News Canada pada tahun 2014 melaporkan peretas asal Cina berhasil meretas sistem komputer Canada National Research Council. Selain itu, jauh pada tahun 2008, Times of India melaporkan serangan kepada Indian National Security Council yang berasal dari Cina.

Keadaan di AS juga tidak jauh berbeda. Laporan dari Departemen Satuan Navy AS pada Maret 2019 mengatakan Cina telah dengan eksplisit menyatakan aspirasinya menjadi negara superpower melalui berbagai strategi komprehensif yang di dalamnya meliputi mendapatkan informasi penting AS dan properti intelektual (IP) teraliansi melalui pencurian siber.

"Cina telah secara efektif menggunakan IP yang dicuri untuk menumbuhkan produk nasional brutonya (GNP) dan mendapatkan keuntungan militer jangka pendek dan panjang dari sana, mengubah kalkulasi kekuatan global," tulis laporan tersebut.

Google, contohnya, menjadi salah satu korban serangan. Pada tahun 2010, New York Times melaporkan Google mengancam akan berhenti beroperasi di Cina karena serangan peretas pada sistem komputernya dan usaha Cina untuk membatasi kebebasan berbicara di internet. Selain Google, Wired juga melaporkan setidaknya 33 perusahaan lain juga terkena serangan.

Berbagai serangan yang dikatakan berasal dari Cina tersebut dibantah, bahkan Cina melempar balik dengan mengatakan AS juga sama telah melakukan serangan siber pada Iran, seperti dilaporkan Wired pada tahun 2010. Dilaporkan Bloomberg, Wang Baodong dari kedutaan Cina di AS mengatakan seluruh tuduhan tersebut adalah akibat dari sentimen anti Cina bernama Sinophobia yang menggelembung.

Polemik siber AS dan Cina masih terjadi hingga 2019 ini. Wall Street Journal pada Maret lalu melaporkan Navy AS dan industri-industri di dalamnya sedang berada di bawah serangan peretas asal Cina. Perets dikatakan telah mencuri data-data rahasia keamanan negara dan mengancam posisi US sebagai negara dengan kekuatan militer terkuat di dunia.

Dewasa ini, teknologi telah semakin maju dan penggunaan internet semakin meluas. Hal ini membuat zona gerak pasukan siber menjadi lebih luas dan lepas. Alfons pun setuju akan hal ini.

"Dengan makin tingginya penetrasi internet dan digitalisasi di setiap bidang, pengaruh cyber army terhadap dunia makin tinggi dan tak terelakkan," pungkasnya.

Reporter Magang: Joshua Michael [faz]

Topik berita Terkait:
  1. China
  2. Hacker
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini