Noni Purnomo, CEO Blue Bird Tb

Layanan Beyond Taxi dan Jurus Blue Bird Hadapi Badai Disrupsi Transportasi Online

Kamis, 28 November 2019 18:41 Reporter : Syakur Usman
Layanan Beyond Taxi dan Jurus Blue Bird Hadapi Badai Disrupsi Transportasi Online Noni Purnomo CEO PT Blue Bird Tbk. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Perusahaan taksi yang berusia 47 tahun di Indonesia, Blue Bird, telah menemukan strategi usaha yang tepat di bisnisnya yang terdisrupsi kehadiran transportasi online sejak tiga tahun silam. Lewat platform transportasi online seperti Gojek dan Uber (kini Grab), bisnis taksi Blue Bird (BB) sempat alami guncangan hebat pada 2016.

Noni Purnomo B.Eng, MBA, Chief Executive Officer (CEO) PT Blue Bird Tbk, mengaku sebenarnya di bisnis taksi nasional, Blue Bird justru yang selalu mendisrupsi pasar. Contohnya, Blue Bird lah yang pertama kali memperkenalkan taksi meter (argo) pada 1972. Kemudian pada 2002, BB menjadi perusahaan taksi pertama di Indonesia yang menerapkan aplikasi radio mobile data terminal. BB bahkan menjadi perusahaan taksi pertama di dunia yang memiliki aplikasi mobile pada 2011.

"BB selalu yang mendisrupsi pasar transportasi nasional. Namun, pada 2016 kami terdisrupsi terutama karena tarif subsidi, yang tidak kami sangka-sangka. Tarif subsidi ini lah yang mendisrupsi kami dan terus terjadi sampai sekarang. Saya mengandaikan Blue Bird adalah the best F1 driver, karena kami tahu seluruh variabelnya. Tapi semua berubah sejak ada transportasi online. Sejak itu treknya menjadi trek off-road (tarifnya subsidi)," ujar Noni Purnomo saat menjadi pembicara di acara #RuangTemuCEO episode pertama yang diadakan oleh Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) di Blue Bird Office Park, Jakarta Selatan, Jumat lalu (22/11).

Padahal, kata Noni, tarif taksi di Indonesia adalah nomor 4 termurah di dunia. Namun, dia menegaskan BB tidak antikompetisi. Kompetisi malahan bagus bagi perseroan karena menghindarkan perseroan dari comfort zone.

Menurut Noni, disrupsi digital yang didorong teknologi internet di bisnis taksi pada 2016 adalah natural. Pilihan bagi BB saat itu ada tiga, yakni divestasi usaha taksinya, be a light house (fokus pada kekuatan BB), dan berpartisipasi dalam era disrupsi. Kami memilih dua pilihan terakhir, yakni fokus pada kekuatan BB dan berpartisipasi dalam era disrupsi.

Strategi pertama, fokus pada kekuatan BB diturunkan dengan kegiatan kontinu menjaga daya saing kompetitifnya. Seperti BB sebagai salah satu merek yang kuat di Indonesia, sumber daya manusia (sopir) yang terlatih dan berpengalaman, layanan berkualitas dan aman, serta armada taksi yang andal.

Untuk memiliki armada taksi yang andal, BB melelang kendaraan yang berusia 5 tahun sebanyak 500 unit per bulan. Saat ini Blue Bird memiliki 30 ribu armada taksi di seluruh Indonesia dengan 35 ribu karyawan termasuk sopir.

"Setiap bulan sopir kami mengembalikan 2.500 barang, itu setara 77 persen barang yang tertinggal. Bahkan salah satu sopir kami pernah mengembalikan barang yang tertinggal senilai ratusan juta rupiah. SDM memang salah satu kesuksesan Blue Bird. Ini lah yang membuat kami bertahan hingga 47 tahun. Menjaga orang-orang andalan, meski teknologi selalu berubah," kata Noni dengan bersemangat.

Noni pun membuka rahasia dapurnya untuk menjaga sumber daya manusia andalan ini. Antara lain membuat program beasiswa bagi anak-anak sopir, memberikan hadiah ibadah umroh setahun empat kali, program cicilan rumah, dan pelatihan bisnis untuk istri para sopir.

1 dari 2 halaman

Tawarkan beyond taxi

taksi listrik blue bird

2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Kedua, menerapkan strategi inovasi dan kolaborasi. Strategi ini memiliki empat kegiatan, yakni internet of things (IoT) enabled, eco-friendly, multichannel reservation, dan multimode payment.

Strategi itu diturunkan, antara lain lewat bekerja sama dengan platform Gojek dan Traveloka untuk memesan atau memasarkan layanan taksi BB. Yang lainnya, kemudahan metode pembayaran dengan menggunakan teknologi mobile payment bahkan via aplikasi mobile BB sendiri, dan sebagainya.

Strategi inovasi dan kolaborasi tersebut juga menentukan bisnis Blue Bird ke depan.

"Ke depan, kami tawarkan layanan beyond taxi, yakni bring people home safely. Gambaran besarnya, taksi BB menjadi bagian masyarakat Indonesia, mulai dari saat keluar rumah hingga pulang ke rumah," pungkas Noni.

Per kuartal III tahun ini, PT Blue Bird Tbk mencatat laba bersih Rp 229,3 miliar, turun 31,47 persen dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan itu didorong penurunan pendapatan usaha sebesar 4,5 persen menjadi Rp 2,96 triliun.

2 dari 2 halaman

#RuangTemuCEO

noni purnomo ceo pt blue bird tbk

2019 Merdeka.com

Andre Rahadian, Ketua Umum ILUNI UI, dalam sambutannya mengatakan, momen berbagi dengan CEO Blue Bird Noni Purnomo adalah episode pertama kegiatan yang dinamakan #RuangTemuCEO. Sekaligus kegiatan pertama yang digagas bersama Millenial and Business Center (MBC) Iluni UI.

"Kami pilih Blue Bird, karena Blue Bird sejatinya adalan bagian dari keluarga UI. Patung Bapaknya Purnomo (ayahanda Noni, red) sudah ada sejak saya masih menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum UI. Jadi kami mulai dari keluarga di episode pertama, yakni Blue Bird," kata Andre.

Menurutnya, sebagai perusahaan di jasa atau pelayanan, kredibilitas Blue Bird juga tak diragukan lagi. Secara operasional juga terbukti selama puluhan tahun berusaha di bisnis taksi nasional.

"Kegiatan ini adalah sebuah awal. Akan ada kegiatan lain dari Iluni UI seprti forum startup dan diskusi bisnis lanjutan baik yang berbasis digital maupun konvensional." pungkas Andre.

[sya]
Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Taksi Blue Bird
  3. Taksi Online
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini