Digitalisasi Aksara-aksara Nusantara

Rabu, 11 November 2020 13:56 Reporter : Syakur Usman
Digitalisasi Aksara-aksara Nusantara program merajut nusantara PANDI. ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) punya kegiatan melakukan digitalisasi aksara-aksara nusantara untuk melestarikan bahasa-bahasa daerah. Program ini dibalut dengan nama Merajut Nusantara melalui Digitalisasi Aksara.

Pada Juni lalu, PANDI berhasil mendaftar domain aksara Jawa (hanacaraka) ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN). Aksara Sunda, Bali, Rejang, Batak, Bugis, dan Makassar segera didaftarkan juga, karena aksara-aksara daerah itu sudah memiliki standar di Unicode.

Namun, bagaimana sebenarnya upaya digitalisasi aksara-aksara nusantara itu dimulai, berikut ini pandangan Andi Mallarangeng, Wakil Dewan Pembina Yayasan Aksara Lontaraq Nusantara,yang peduli pada pelestarian aksara Lontara yang biasa digunakan oleh Bugis dan Makassar. Berikut paparan lengkapnya:

Dalam era digital, kalau suatu aksara tidak hadir dalam bentuk digital, aksara itu dianggap tidak ada. Kalau pun ada, ia dianggap aksara yang tidak lagi hidup, tidak ada lagi pendukung aktifnya, atau dengan kata lain, aksara mati. Persis seperti aksara Mesir kuno, hierogliph.

Sebenarnya, aksara nusantara tidak ketinggalan dalam memasuki era digital. Ketika saya menciptakan BugisA true type font 25 tahun lalu di Northern Illinois University, dalam proses pergantian DOS ke Windows sebagai sistem operasi komputer, saat itu kita hanya terlambat beberapa bulan dari aksara Thailand tetapi lebih duluan daripada aksara Burma. Bahkan, aksara lontaraq dan belakangan aksara Jawa pun telah terdaftar di Unicode.

Sayangnya, kehadiran aksara nusantara dalam dunia digital tampaknya hanya sampai di situ. Berbagai aksara nusantara lain pun telah dibuat font-nya sehingga bisa digunakan untuk menulis di komputer. Kebanyakan digunakan untuk menulis kutipan-kutipan bahasa daerah dalam tulisan-tulisan ilmiah atau tesis yang berbahasa Indonesia.

Di koran atau media lainnya, artikel berbahasa daerah tetap saja menggunakan aksara Latin.

Untuk aksara Lontaraq dan aksara Jawa yang sudah terdaftar di Unicode, sedikit lebih baik nasibnya, karena sudah embedded dalam smartphone yang kita miliki. Karena itu, kita sudah bisa menyetel settingan smartphone kita untuk opsi aksara lontaraq dan Jawa, guna menulis pesan di berbagai platform, seperti WhatsApp, Line, Messenger, Telegram, dan sebagainya.

Tapi semua itu masih sporadis sifatnya. Belum ada platform digital tersendiri yang menggunakan aksara nusantara sebagai basisnya. Dan karena itu, dalam kaca mata dunia digital, aksara nusantara masih seperti hierogliph, aksara Mesir kuno; ada, bisa dipelajari dan dituliskan, tapi pada dasarnya sudah mati.

Karena itu, inisiatif PANDI sebagai pengelola nama domain internet di Indonesia untuk "merajut Indonesia" dalam bentuk penetapan nama domain tersendiri untuk aksara-aksara nusantara patut disambut gembira. Dua jempol.

Dengan begitu, seiring dengan .id sebagai nama domain bahasa kebangsaan kita, bahasa Indonesia, akan hadir juga nama domain yang mewakili aksara-aksara nusantara sebagaimana yang bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Untuk aksara Lontaraq, misalnya, akan ada domain name .ᨕᨗᨊ (bacanya .INA, sebagaimana singkatan untuk negara kita dalam dunia internasional).

Tentu saja setiap nama domainitu tetap harus didaftarkan ke ICANN, sebagai pengelola nama domain internet dunia. Dan ICANN baru menyetujui jika dia yakin bahwa aksara itu benar-benar hidup dan punya pendukung budaya yang aktif.

Untuk itu, ICANN perlu melihat ada website yang berbasis aksara-aksara nusantara yang hidup, karena dihidupkan oleh pendukung budayanya secara aktif.

Baca Selanjutnya: Lomba Bikin Website Beraksara Daerah...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini