China Punya Ambisi Lepas Ketergantungan Teknologi AI dari AS
Tiongkok tak ingin punya ketergantungan dengan teknologi AI besutan AS.
Tiongkok tak ingin punya ketergantungan dengan teknologi AI besutan AS.
China Punya Ambisi Lepas Ketergantungan Teknologi AI dari AS
Kemajuan dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) yang pesat telah membuat negara-negara turut menggunakannya dalam upaya meraih kekuasaan internasional.
Dalam perkembangan terbaru, Departemen Perdagangan Amerika Serikat (AS) memiliki rencana untuk membuat peraturan yang akan membatasi ekspor model AI, perangkat lunak inti dari sistem AI seperti ChatGPT, yang bersifat proprietary atau dengan sumber tertutup, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (10/5).
Model AI dengan sumber tertup (closed-source) merupakan model AI yang perangkat lunaknya dan datanya dilatih secara rahasia, berbeda dengan model AI open-source.
Rencana ini ditujukan untuk melindungi teknologi tersebut dari risiko penggunaan untuk tujuan berbahaya yang dapat dilakukan oleh negara-negara saingan AS, seperti Tiongkok dan Rusia.
Dengan persaingan global yang semakin berat dan adanya sentimen ketidakpercayaan terhadap negara-negara Barat, selama beberapa waktu ke belakang, setidaknya selama satu tahun yang lalu, Tiongkok telah membangun industri AI generatif domestiknya dan mendesak perusahaan-perusahaan yang ada di negara tersebut untuk menghindari penggunaan teknologi asing.
Untuk menghadapi masalah kurangnya otonomi Tiongkok dalam industri AI, banyak perusahaan teknologi Tiongkok, seperti Baidu, Huawei, dan iFlytek, yang telah mencoba mengembangkan model AI yang sepenuhnya berasal dari sumber daya dalam negeri Tiongkok.
Beberapa dari perusahan tersebut juga telah mengklaim bahwa model AI mereka telah secanggih model AI terbaru di Barat, seperti GPT-4 milik OpenAI.
Pemerintah Tiongkok juga telah mengeluarkan berbagai peraturan mengenai penggunaan AI generatif untuk menghindari pengaruh dan ketergantungan akan teknologi asing.
Salah satu bentuk peraturan tersebut adalah penyedia layanan AI harus mendapatkan persetujuan pemerintah sebelum AI tersebut dirilis ke publik.
Pada bulan Januari lalu, Pemerintah Tiongkok telah menyetujui lebih dari 40 model AI yang dapat digunakan oleh publik. Dari semua model AI tersebut, tidak ada yang berasal dari negara asing.
Berbagai upaya tersebut dilakukan karena dalam pembangunan industri AI-nya, Tiongkok masih memiliki ketergantungan kepada teknologi asing dengan menggunakan banyak model AI open-source buatan Barat, seperti model AI Llama dari perusahaan Meta yang digunakan oleh mayoritas pembuat model AI di Tiongkok.
Dalam kasus serupa, meski belum dikeluarkan secara resmi di Tiongkok, banyak perusahaan dan insinyur Tiongkok yang telah mengakses layanan OpenAI menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN) untuk membuat perangkat lunak dan aplikasi dengan model AI dari OpenAI.
Mereka juga menggunakan model AI OpenAI untuk dijadikan tolok ukur dari model AI buatan Tiongkok sendiri. Pada akhirnya, Pemerintah Tiongkok mengakui bahwa teknologi AI-nya masih tertinggal jika dibandingkan dengan AS.