5 Ambisi Maksimalkan Otak Manusia Dengan Kecerdasan Buatan

Selasa, 23 Juli 2019 00:01 Reporter : Indra Cahya
5 Ambisi Maksimalkan Otak Manusia Dengan Kecerdasan Buatan Ambisi Maksimalkan Otak Manusia Dengan Kecerdasan Buatan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kecerdasan buatan adalah hal yang kini sedang sangat dikembangkan oleh para ilmuwan. Meski kini aplikasinya masih belum terlalu bisa kita lihat secara signifikan, pengembangannya kini sedang pesat.

Para ilmuwan pun mengambil langkah progresif soal kecerdasan buatan. Pasalnya, banyak sekali ilmuwan yang berpendapat bahwa otak manusia bisa dimaksimalkan dengan bantuan kecerdasan buatan.

Berbagai fenomena teknologi yang disebut brain hacking atau peretasan otak pun sudah banyak diinisiasi oleh para ilmuwan. Bahkan ide ini sudah jadi tujuan banyak perusahaan seperti Elon Musk dengan Neuralink miliknya hingga DARPA yang merupakan badan riset AS.

Tentu kita tahu bahwa untuk memaksimalkan hal ini, butuh riset dan percobaan yang luar biasa serta tanpa henti. Belum lagi mengingat fakta bahwa otak manusia adalah organ yang rumit. Akhirnya, hal ini masih berupa ambisi saja.

Nah. Berikut lima ambisi ilmuwan untuk mengembangkan kecerdasan buatan di otak, melansir Listverse.

1 dari 5 halaman

Memasang Chip di Otak

Tak cuma memiliki Tesla dengan mobil listrik revolusionernya, dan Space X dengan misi mendarat di Mars, Elon Musk juga memiliki startup lain dengan keinginan mengubah dunia: Neuralink. Kali ini, ia ingin memasang sebuah chip di otak manusia.

Neuralink dalam websitenya menyebut bahwa mereka memiliki tujuan untuk "mengembangkan antarmuka otak-mesin berbandwith ultra-tinggi untuk mengkoneksikan manusia dan komputer."

Tujuan paling akhir dan yang sudah sangat dekat ke ranah fiksi ilmiah di dunia nyata dari Neuralink adalah untuk mampu berkomunikasi dengan berjuta-juta orang lain yang otaknya sudah disisipi oleh mesin, hanya dengan 'pikiran.'

Saat ini, neuralink telah berhasil menyambungkan otak tikus dengan chip dan mampu mengkoneksikannya ke komputer.

2 dari 5 halaman

Sensor yang Dipasang di Otak

DARPA, yang merupakan badan Pemerintah AS untuk mengembangkan teknologi militer, juga punya tujuan serupa.

Saat ini mereka sedang mengembangkan teknologi sensor otak, yang dikerjakan bersama Lawrence Livermore National Laboratory, yang diharapkan mampu membaca sinyal otak dan merangsang saraf manusia untuk melawan hilangnya memori.

Hal ini sangat penting bagi para tentara karena menurut data DARPA, lebih dari 270.000 orang tentara harus berjuang melawan cidera otak ketika berperang. Oleh karena itu para ilmuwan mencoba mengembangkan perangkat yang bisa dipasang di otak dan langsung menarget stimulasi neural dan membantu hilangnya memori karena cidera otak.

3 dari 5 halaman

Memori Agar Otak Gampang Mengingat

Kernel adalah startup yang sedang mengembangkan teknologi memori prostetik, di mana perangkat ini mampu membantu kita mengingat apapun dengan sangat mudah. Jika telah berhasil, mereka akan mengkomersilkan alat ini secara luas.

Ide ini datang dari petinggi venture capitalist OS Fund, Bryan Johnson, yang merelakan uang pribadinya sebesar 200 juta Dollar didedikasikan untuk pengembangan teknologi ini.

Tujuan utamanya tentu soal medis, di mana Kernel ingin membantu para pasien dengan permasalahan otak untuk tetap berfungsi layaknya manusia normal. Selain itu, Kernel juga ingin meluaskan cakupannya ke fase evolusi manusia yang memang harus berkompetisi dengan mesin.

4 dari 5 halaman

Software yang Bisa dikontrol Otak

Tak seambisius DARPA ataupun Neuralink milik Elon Musk, startup asal Boston bernama Neurable ini berfokus untuk mengembangkan platform software yang dikontrol oleh otak untuk para produsen hardware atau software yang berbasis AR atau VR.

Jadi, jika Neurable telah berhasil mengembangkan perangkatnya, alih-alih menggunakan controller Oculus Touch atau perintah suara, Anda hanya tinggal berpikir saja untuk mengontrol kontennya.

Tujuan utamanya, hal ini tak hanya bisa diaplikasikan di dunia virtual, namun di dunia nyata. Seperti mematikan lampu atau menyalakan microwave hanya dengan pikiran.

5 dari 5 halaman

Headset yang Memberi Kekuatan Konsentrasi

Jika di berbagai film fiksi ilmiah, kita bisa mengontrol sesuatu menggunakan pikiran, Emotiv ingin melakukan hal tersebut di dunia nyata. Startup tersebut mengembangkan sebuah neuro-headset yang mampu membuat para pengguna mengirimkan pikiran yang telah terkonsentrasi ke perangkat yang terkoneksi.

Headset ini bekerja dengan cara memindai otak kita untuk mendapatkan sinyal, dengan perangkat cerdas bernama Emotiv EEG dan dengan mudah kita bisa menggerakkan mobil mainan hanya dengan pikiran. Tujuan utamanya? Untuk membantu mereka yang terbatasi oleh disabilitas.

Healo Neuroscience juga membuat headset yang memaksimalkan fungsi otak. Bedanya, Halo Neuroscience lebih condong untuk membantu para atlet dalam hal keamanan dan performa olahraga.

Halo menyebut bahwa headset ini mampu memperbaiki fungsi tubuh hanya dengan memberi rangsangan kepada motor cortex di otak, lewat denyutan yang akan ditangkap otak. Saat ini, headset ini telah dipakai secara profesional oleh atlet-atlet AS. [idc]

Baca juga:
Saksikan Gerhana Bulan Parsial Malam Ini, Terakhir Dalam Dua Tahun ke Depan!
Studi Sebut Streaming Pornografi Tak Ramah Lingkungan
Begini Prediksi Iklim dan Temperatur Indonesia 30 Tahun ke Depan, Makin Gerah?

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini