Mengenang Operasi Pembantaian Westerling, Tindakan Brutal Tentara Belanda di Sulawesi Tahun 1947

Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, tanpa basa-basi mereka langsung membuat teror dan mimpi buruk bagi masyarakat setempat.

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenang Operasi Pembantaian Westerling, Tindakan Brutal Tentara Belanda di Sulawesi Tahun 1947
Mengenang Operasi Pembantaian Westerling, Tindakan Brutal Tentara Belanda di Sulawesi Tahun 1947 (Merdeka.com)

Pembantaian Westerling adalah sebuah peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil yang berlangsung di Sulawesi Selatan oleh pasukan Depot Speciale Troepen yang dipimpin oleh Pierre Paul Westerling. (Foto: Wikipedia)

Peristiwa yang terjadi pada Desember 1946 hingga Februari 1947 ini berlangsung ketika operasi militer penumpasan pemberontakan atau Counter Insurgency. Hal ini menjadi salah satu peristiwa penting dan menjadi ujian kemerdekaan Indonesia saat itu.



Lantas, apa penyebab Pembantaian Westerling ini bisa terjadi dan bagaimana sejarahnya? Simak informasi selengkapnya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.

Melansir dari kanal Liputan6.com, kejadian ini bermula ketika Belanda berupaya untuk merebut kembali wilayah kedaulatan Indonesia pada tahun 1940-an yang disebut dengan 'tindakan pengawasan' terhadap 'teroris' dan 'ekstrimis' nasionalis.

Salah satu sejarawan Chris Lorenz mengatakan jika pemerintah Belanda awalnya ingin mencoba untuk mewakili perang kolonial sebagai lanjutan dari Perang Dunia Kedua, yaitu perjuangan demokrasi Belanda melawan Jepang (fasis).

Pada kenyataannya, pemerintah Belanda yang sudah mulai melemah pun justru mengobarkan perang agar segera mendapatkan Indonesia yang kaya Sumber Daya Alamnya.

Kejadian berdarah ini terjadi ketika Belanda menyerang wilayah Sulawesi Selatan menggunakan metode 'Westerling'. Cara ini begitu kejam dengan menyerbu desa-desa, memisahkan antara laki-laki, perempuan, dan anak-anak.

Metode Westerling ini juga tidak segan-segan untuk menghabisi mereka yang memiliki sikap anti-Belanda. Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946, tanpa basa-basi mereka langsung membuat teror dan mimpi buruk bagi masyarakat setempat.

Tentara Belanda langsung mengepung desa-desa setempat, rumah warga dibakar habis, kemudian warga dikumpulkan lalu dihabisi dan dibantai tanpa ampun. Tindakan ini juga berlaku bagi anggota pergerakan nasional yang turut menjadi korban.

Tentara Belanda cenderung memfokuskan penyerangannya di daerah Suppa, namun sebelumnya mereka lebih dulu menyerang Sabbang Paru karena masyarakat dituduh menyembunyikan keberadaan para gerilyawan nasional.

Sementara di wilayah Suppa, Westerling pun mengincar daerah ini karena adanya pasukan Tentara Republik Indonesia Pesiapan Sulawesi yang berada di bawah Andi Oddang, Andi Murtala, dan Muhammad Said yang mendarat dari Jawa.

Pasukan Andi Murtala saat hendak menemui Ambo Siraja pun sempat diadang oleh tentara Belanda lalu terjadilah peperangan. Dalam kejadian tersebut salah satu seorang perwira Belanda tewas.

Mendengar kabar tersebut, Westerling pun murka dan rakyat dipaksa untuk menunjukkan lokasi persembunyian para pejuang. Akan tetapi, rakyat tidak takut mati sama sekali lalu mereka tetap bungkam.

Dari kejadian Pembantaian Westerling ini menjadi bukti kekejaman Belanda di era kolonial. Menurut beberapa sumber, kejadian ini mengakibatkan 40 ribu orang tewas dibantai.

Sementara itu, dalam penyelidikan Belanda tahun 1950-an, menemukan lebih dari 3 ribu orang telah dibunuh dalam rentang waktu tiga bulan saja.

Rekomendasi