Penyebab Migren dan Gejalanya, Ketahui Cara Mengatasinya di Rumah

Penyebab migren bisa jadi karena hormon, cuaca, makanan dan lain sebagainya. Migren adalah sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri berdenyut parah atau sensasi berdenyut.

Andre Kurniawan Kristi
Oleh Andre Kurniawan Kristi - Reporter
Penyebab Migren dan Gejalanya, Ketahui Cara Mengatasinya di Rumah
ilustrasi migrain. independent.co.uk

Penyebab migren bisa terjadi dari banyak hal. Penyebab migren bisa jadi karena hormon, cuaca, makanan dan lain sebagainya.

Migren adalah sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri berdenyut parah atau sensasi berdenyut. Penyakit ini biasanya terjadi di satu sisi kepala dan sering disertai dengan mual, muntah, mati rasa, dan kepekaan ekstrem terhadap cahaya dan suara.

Migren dapat memengaruhi orang dengan cara dan pemicu yang berbeda, tingkat keparahan, gejala, dan frekuensinya juga dapat bervariasi. Beberapa orang memiliki lebih dari satu episode setiap minggu, sementara yang lain hanya sesekali.

Bagi sebagian orang, gejala peringatan yang dikenal sebagai aura terjadi sebelum atau ketika sakit kepala. Aura yang dimaksud dapat berupa gangguan visual, seperti kilatan cahaya atau titik buta, atau gangguan lain, seperti kesemutan di satu sisi wajah atau di lengan atau kaki dan kesulitan berbicara.

Orang menggambarkan nyeri migren seperti sensasi denyutan, ketukan, atau melemahkan. Migren juga bisa terasa seperti sakit yang parah dan stabil. Awalnya, rasa sakitnya mungkin akan terasa ringan. Tapi jika dibiarkan tanpa pengobatan, rasa sakitnya bisa berubah menjadi sedang hingga parah.

Penyebab migren sendiri masih belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dapat memicu timbulnya migren. Dalam artikel ini, kami akan sampaikan apa saja penyebab migren, gejala, serta cara mengatasinya di rumah.

Penyebab Migren

Meskipun penyebab migren belum dapat dipahami sepenuhnya, namun genetika dan faktor lingkungan dinilai berperan sebagai penyebab migren.

Perubahan batang otak dan interaksinya dengan saraf trigeminal, jalur utama dari rasa nyeri, menjadi bagian yang mungkin terlibat. Jadi, penyebab migren kemungkinan karena adanya ketidakseimbangan dalam bahan kimia otak, termasuk serotonin, yang membantu mengatur rasa sakit di sistem saraf Anda.

Meski penyebab migren masih belum diketahui pasti, namun dikutip dari mayoclinic.org, terdapat beberapa pemicu yang dapat menjadi penyebab migren bagi sebagian orang, seperti:

  • Perubahan hormonal pada wanita. Fluktuasi estrogen, seperti sebelum atau selama periode menstruasi, kehamilan dan menopause, tampaknya memicu sakit kepala pada banyak wanita. Obat hormonal, seperti kontrasepsi oral, juga dapat memperburuk migren. Namun bagi beberapa wanita, mereka merasa bahwa migren yang mereka alami lebih jarang terjadi ketika mengonsumsi obat ini.
  • Minuman. Minuman yang dimaksud termasuk alkohol, dan konsumsi kafein yang berlebihan, seperti kopi bisa jadi penyebab migren. 
  • Stres. Stres di tempat kerja atau di rumah dapat menyebabkan migren.
  • Stimulus sensorik. Lampu yang terang atau berkedip dapat menjadi salah satu penyebab migren, seperti halnya suara yang keras. Bau yang kuat – seperti parfum, pengencer cat, asap rokok dan lainnya – juga dapat menjadi pemicu migren pada beberapa orang.
  • Perubahan tidur. Kurang tidur atau terlalu banyak tidur dapat memicu migren pada beberapa orang.
  • Faktor fisik. Aktivitas fisik yang intens, seperti aktivitas seksual, dapat memicu migren.
  • Perubahan cuaca. Perubahan cuaca atau tekanan barometrik juga dapat memicu penyebab migren.
  • Obat-obatan. Kontrasepsi oral dan vasodilator, seperti nitrogliserin, dapat menjadi faktor penyebab migren.
  • Makanan. Keju tua, makanan asin, dan olahan dapat menjadi penyebab migren. Jadi mungkin Anda harus melewatkan makanan ini.
  • Aditif makanan. Ini termasuk aspartam pemanis dan pengawet monosodium glutamat (MSG), yang ditemukan di banyak makanan.

Gejala Migren

Migren dapat mempengaruhi anak-anak dan remaja serta orang dewasa. Penyakit ini dapat berkembang melalui empat tahap, yaitu prodromal, aura, serangan nyeri, dan post-drome. Namun, tidak semua orang yang mengalami migren melewati semua tahap ini.

Prodromal

Satu atau dua hari sebelum migren, Anda mungkin melihat perubahan ringan sebagai peringatan migren yang akan datang, seperti:

  • Sembelit
  • Perubahan suasana hati, dari depresi menjadi euforia
  • Keinginan makan makanan tertentu
  • Leher kaku
  • Frekuensi buang air kecil meningkat
  • Retensi cairan
  • Sering menguap

Aura

Bagi sebagian orang, fase aura mungkin terjadi sebelum atau selama migren. Aura adalah gejala reversibel dari sistem saraf. Mereka biasanya terjadi secara visual namun juga dapat mencakup gangguan lain. Setiap gejala biasanya dimulai secara bertahap, menumpuk selama beberapa menit dan dapat berlangsung hingga 60 menit.

Contoh pada fase aura ini meliputi:

  • Fenomena visual, seperti melihat berbagai bentuk, titik terang atau kilatan cahaya
  • Kehilangan penglihatan
  • Sensasi tertusuk jarum di lengan atau kaki
  • Kelemahan atau mati rasa di wajah atau satu sisi tubuh
  • Kesulitan berbicara

Serangan Nyeri

Fase nyeri ini biasanya berlangsung dari 4 hingga 72 jam jika tidak diobati. Seberapa sering migren terjadi bervariasi pada setiap orang. Migren mungkin jarang terjadi atau juga dapat menyerang beberapa kali dalam sebulan.

Selama migren, Anda mungkin memiliki gejala seperti:

  • Nyeri yang terjadi biasanya di satu sisi kepala, meski sering juga terjadi di kedua sisi
  • Nyeri yang berdenyut
  • Kepekaan terhadap cahaya, suara, dan terkadang bau dan sentuhan
  • Mual dan muntah

Post-dromal

Setelah terjadi serangan migren, Anda mungkin akan merasa lelah, bingung, dan pusing hingga satu hari. Beberapa orang melaporkan adanya perubahan suasana hati. Gerakan kepala yang tiba-tiba mungkin menimbulkan rasa sakit yang sementara.

Cara Meringankan Migren di Rumah

Untuk mengatasi migren, ada beberapa strategi penanganan yang dapat dilakukan di rumah untuk membantu meringankan gejala migren seperti:

  • istirahat di ruangan yang tenang, sejuk, dan gelap
  • tidur, bila perlu
  • mengompres dingin dagu atau bagian belakang leher
  • memijat kepala atau pelipis
  • lakukan relaksasi otot
  • minum banyak cairan
  • meditasi atau yoga
  • kafein dalam jumlah sedikit
  • gunakan aromaterapi
Rekomendasi