Noken Papua, Rajutan Alam yang Kaya Makna

Rabu, 15 September 2021 19:00 Reporter : Tyas Titi Kinapti
Noken Papua, Rajutan Alam yang Kaya Makna Noken. ©2021 Merdeka.com/Kaitovid

Merdeka.com - Lebih dari sebuah tas, noken aksesoris khas Tanah Papua ini sudah sangat menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga Papua. Tas rajut ini juga memiliki makna yang mendalam. Salah satu filosofinya menyebutkan Noken adalah simbol kehidupan yang baik dan kemakmuran.

Pasalnya, Noken dibuat dari bahan-bahan yang ada di hutan dan dibuat untuk membawa hasil bumi dari hutan. Selain benang, bahan penyusun Noken Papua juga termasuk akar tanaman anggrek, beberapa jenis dedaunan, kulit kayu, bahkan ilalang. Tangan-tangan Mama-mama Papua dengan penuh cinta menghasilkan Noken yang menawan.

Enggak heran, jika Noken papua telah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya tak benda pada 2012 lalu. Tas cantik ini pun menjadi salah satu kerajinan tangan khas Papua yang selalu diburu para wisatawan.

noken
©2021 Merdeka.com/Kaitovid

Noken adalah sebutan untuk deretan pemakaian nama tas serbaguna di lebih dari 250 suku di Papua. Dahulu noken tidak dapat dibawa oleh sembarang orang tetapi hanya orang ternama, yang memiliki kuasa, dan pihak berada.

Seiring berjalannya waktu, noken dapat digunakan oleh masyarakat luas dan berbagai kalangan. Biasanya, warga setempat menggunakan Noken Papua untuk mengangkut hasil panen di kebun. Namun, tak jarang Noken pun dipakai untuk menggendong anak-anak.

Salah satu, keunikan Noken ialah penggunaannya. Kaum wanita Papua biasanya menggunakan noken di atas kepala. Noken juga dibagi-bagi. Ada yang khusus membawa makanan, ada pula yang dimaksudkan untuk membawa barang-barang berharga

noken
©2021 Merdeka.com/Kaitovid

Noken di Papua terdiri dari berbagai jenis dan warna tetapi yang sama adalah bahan bakunya yang diambil dari alam setempat seperti daun sagu muda, kulit kayu, atau batang bunga anggrek.

Pembuatan noken juga memakan waktu yang cukup panjang. Pertama, kulit kayu yang merupakan bahan baku umum noken dikupas lebih dulu. Lalu, dipisahkan antara kulit dengan serat.

Setelah terpisah, serat kayu ditumbuk, kemudian diremas-remas dan dijemur demi mengeluarkan sisa air. Usai kering, serat kayu dibelah jadi bagian-bagian lebih kecil agar mudah dipintal. Terakhir, pemintalan dilakukan secara manual sebelum serat kayu dirajut ke berbagai macam pola noken.

noken
©2021 Merdeka.com/Kaitovid

Untuk membuat noken berukuran kecil biasanya membutuhkan waktu satu hingga dua dua hari. Tapi, ada beberapa noken yang harus melalui proses perendaman serat kayu sampai satu minggu. Di samping serat kayu, noken sekarang juga dibuat dari benang, rumput, bahkan anggrek yang dipetik langsung di hutan.

Untuk pola rajutan, setiap suku punya cerita masing-masing di baliknya. Perbedaan ini juga mencakup warna dan bahan baku untuk membuat noken. Misalnya di wilayah adat Meepago, nokennya dibuat dari kulit batang bunga anggrek. Noken wilayah selatan Papua, berbeda dengan noken di wilayah pesisir maupun noken di wilayah pegunungan.

noken
©2021 Merdeka.com/Kaitovid

Harga noken bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga jutaan rupiah. Noken yang terbuat dari benang sulam, harganya lebih murah dibandingkan dengan noken yang terbuat dari bahan alami.

Banyak cara yang digunakan untuk menjual noken, biasanya mama penjual noken menggantung sejumlah karya noken pada seutas tali. Mama penjual noken menjual noken di pinggir jalan protokol atau di depan pusat perbelanjaan. Kini, bahkan Noken juga mudah dijumpai di marketplace. [Tys]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini